Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 66


__ADS_3

Anton langsung berlari masuk kedalam rumah, dan disusul Mita yang berjalan dengan sangat pelan, tidak mampu menyeimbangkan langkah suaminya. Tadinya Anton sendiri yang bilang "Jangan panik" tapi nyatanya ia sendiri sekarang yang kalang kabut, bahkan ia sampai tak mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah adik iparnya.


"Na?" Melihat Diana yang sudah terduduk. Ternyata saat dalam perjalanan kesini, Diana sudah lebih dulu siuman. Tapi karena Eva sudah bilang kalau mas Anton dalam perjalanan ke rumah, ia mengurungkan niatnya untuk memberi tau kabar duka ini. Lebih baik menunggu semuanya berkumpul, pikirnya.


"Kamu sudah sadar?" Mita yang masuk setelah Anton.


"Kak?" Memeluk Mita dan langsung menangis sesegukan.


Diana sangat terguncang kali ini, sungguh batinnya tak sanggup. Ia berharap setelah sadar, ini semua cuma mimpi. Tapi semua nyata setelah melihat ibu dan adik ipar nya menangis, menangisi karena Diana pingsan.


"Relax bicara dengan pelan agar kami semua dapat mengerti." Membelai lembut rambut adiknya.


"Mas, Bagas ditangkap polisi, dia ada di penjara sekarang. Dia di tuduh meracuni Darma dengan mengirim makanan ke kantor polisi. Tapi kan Bagas kemarin bersama kita mas. Mas kan tau sendiri." Terisak, sudah tidak sanggup untuk berbicara lebih banyak lagi.


"Apa?" Teriak ibu yang memang menunggu penjelasan Diana.


"Kamu serius?" Mita bahkan belum percaya ini.


"Kamu tidak ulang tahun kan na?" Anton malah bertanya dengan memberi pertanyaan yang membuat mereka bingung.


"Maksudnya mas?"


"Siapa tau Bagas hanya ngerjain kamu gitu kalau kamu ulang tahun."


"Enggak mas, enggak. Ini serius."


"Anton, ibu minta tolong bisa kah kamu datang kesana sekarang? Ibu khawatir dengan keadaanya."


"Mas, aku ikut."


"Na, kamu di rumah aja ya. Kakak takut kalau kamu kenapa-napa disana." Raut muka khawatir.


"Enggak, semua juga ikut sekarang. Kecuali Eva, kamu di rumah aja ya jaga Alif."


Semua berangkat menuju kantor polisi dimana Bagas di tahan saat ini.


***


Disini Bagas sekarang. Duduk di antara orang-orang yang menatapnya dengan tajam, ada yang menertawakan nya, ada yang menendang kakinya karena melihatnya hanya diam saja, tidak menangis seperti para napi lain yang baru masuk ke dalam sel tahanan. Ada juga yang melempar kepalanya dengan botol berisi air urine. Tapi Bagas hanya diam, duduk melipat kedua kakinya, memegang salah satu jeruji besi yang menjadi penghalang untuknya keluar, dengan melihat lalu lalang para sipir.


Berharap akan segera ada bala bantuan untuknya, ia menanggung perbuatan orang lain, yang memang jelas untuk menjatuhkan dirinya. Seragam kerja masih lengkap menempel di tubuhnya, hanya sudah basah karena peluh yang terus mengalir, karena mencium aroma yang sangat tidak sedap di ruangan sempit ini.


Sudah entah berapa lama Bagas tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya, diam pikirannya kosong. Percuma juga memikirkan, karena saat ini ia hanya tidak tau. Harus apa, berontak juga yang ada ia di keroyok.


"Saudara Bagas silahkan keluar." Sipir datang dan membukakan jeruji besi.


"Pak, tahanan baru udah ada aja yang jenguk, saya nggak ada pak?" Ucap salah satu napi yang tubuhnya di penuhi dengan tato.


"Nyamuk juga enggak mau liat kamu." Temannya yang lain menjawab dan di sambut dengan sorakan.


"Sudah jangan berisik!" Bentak sipir tersebut, dan langsung membawa Bagas keluar.


Matanya mengerjab tidak percaya, karena ia memandang dari jauh, sudah ada keluarganya yang datang, istri, ibu dan mas Anton. Sudah duduk menunggunya. Ada rasa lega di hatinya saat ini, meski di bebaskan atau tidak ia belum tau, yang terpenting masih ada saksi yang bisa menyelamatkan.


Diana langsung berlari memeluk suaminya, tidak menghiraukan polisi dan yang lainnya. Ia menangis sesegukan, Bagas mengelus lembut rambut istrinya.


"Sayang, udah tenang." Mengajak Diana duduk kembali. Anton yang sudah siap siaga menghadapi polisi yang tadi mengintrogasi Bagas.


"Saya mas nya, dan saya adalah saksi yang kuat kalau semalam, satu harian kami ada di pernikahan adiknya. Bisa kah pihak kepolisan menunjukan rekaman CCTV ?"


"Itu privasi kami, yang terpenting Bagas sudah mengisi formulir saat mengantar makanan melalui mode selam. Disini juga jelas kan, ada tanda tangannya." Menyerahkan formulir lengkap berisi data diri Bagas. Sama, tidak ada yang berbeda. Semua memang data diri miliknya.

__ADS_1


Bagaimana bisa orang itu tau data diri Bagas yang asli? Ini pasti orang-orang yang memang mempunyai berkas tertinggal milik Bagas.


"Baik pak. Kami semua akan memberi kesaksian. Bahkan, seluruh keluarga besar yang hadir semalam akan kami bawa, mereka akan menjadi saksi yang lebih kuat, cukup lah pak kalau seratus orang kan?" Berbicara dengan tenang. Polisi yang mendengar mengerutkan dahinya.


"Maksud bapak, jadi pihak kepolisan yang menuduh saudara Bagas?"


"Maaf pak sebelumnya. Saudara Darma, ia jelas sudah tidak memiliki keluarga, dan setau saya kematian yang terjadi pada napi, tidak lagi akan di usut. Karena mereka juga penjahat, istri juga dia sudah tidak punya. Yang saya pertanyakan, siapa yang membuat laporan untuk kasus ini? Sementara saudara Darma sudah mati!" Melakukan penekanan di akhir kalimat. Petugas skakmat. Bagas juga tidak percaya Anton berani berkata begitu, dan memang semua yang di katakan Anton adalah benar.


"Tidak ada yang melapor, karena kami sendiri melakukan penyelidikan kalau makanan itu beracun. Itu jelas tindakan kriminal dengan tuduhan pembunuhan berencana."


"Oke baik pak. Jadi, maunya bapak bagaimana?" Anton menantangnya kali ini.


Semua sontak menatapnya.


"Akan saya lakukan sesuai proses hukum, agar saudara Bagas dapat hukuman yang setimpal."


"Baik pak. Silahkan. Tapi saya mau, tunjukkan dulu rekaman CCTV nya. Jika pihak kepolisian menuntut hanya dengan satu bukti yaitu formulir, kami juga keberatan. Karena setau saya, bukti itu harus jelas, bukan hanya dengan kertas saja. Jadi saya mau lihat, dan saya juga akan membawa bukti juga saksi nantinya. Bersikap adil pak."


Pihak kepolisian tampak berdiskusi untuk menunjukkan rekaman tersebut. Para wanita yang menunggu sudah pasrah, mereka menyerahkannya kepada Anton. Diana yang masih menangis melihat suaminya seperti orang linglung. Tatapannya kosong, sungguh hatinya teriris saat ini.


Anton yang tidak sabar menunggu melihat semuanya berdiskusi langsung datang menghampiri.


"Kirim nomor rek. bapak." Berbicara dengan berbisik sehingga tidak ada yang mendengar termasuk Bagas.


Tanpa menjawab mereka mengangguk. Dan segera membawa Anton juga Bagas keruangan, dimana terdapat jaringan seluruh CCTV yang ada di sel tahanan ini. Layar monitor menunjukkan mulai dari gerbang tinggi masuknya ke area tahanan.


Bagas dan Anton sudah duduk, untuk melihat putaran video yang mengatakan kalau itu ada lah Bagas.


Detik pertama, nampak seorang lelaki yang memang memiliki tubuh yang sama dengan Bagas. Ia memakai topi dan masker sehingga tidak terlalu jelas wajahnya.


Bagas memperhatikan jalannya video itu di putar, bahkan ia tidak mau berkedip karena takut kehilangan setiap detiknya.


"Pak bisa di putar ulang?" Bagas mencoba melakukan negosiasi, karena ia butuh melihat lagi untuk memastikan benar atau tidak orang yang sudah ia tangkap dalam benaknya.


"Tolong lah pak." Anton ikut memohon.


Di ulang sekali lagi, tapi Bagas tau pasti dari sepatu yang sering ia lihat setiap harinya.


"Ini OB kantor, saya kenal!" Langsung menyebut siapa yang ada di video.


"Kamu yakin?" Anton memastikan.


"Mas, sepatunya itu memang dia enggak pernah ganti, dan dari tatapan matanya aku kenal mas, kenal. Tapi untuk apa dia melakukan ini? Pasti ada orang lain di balik ini semua mas."


"Pak, apa bisa di panggil orang yang menurut adik saya di dalam rekaman itu?"


"Itu harus menulis laporan lagi." Petugas berbicara.


"Pak, coba tolong buka CCTV di area parkir." Iya Bagas memastikannya kali ini, ia akan melihat motor apa yang di pakai.


"Sebentar." Petugas kembali membukanya, tepat di jam dan hari dimana orang itu datang.


Saat melihat mata Bagas langsung terbelalak. Memang benar, dugaannya tidak salah kali ini. Motornya juga sama, hanya saja plat nomor nya tidak di pasang.


"Itu bukan motor saya pak, bapak bisa cek kerumah saya, saya tidak punya motor seperti itu."


"Memang benar dia gas?"


Bagas langsung mengangguk.


Polisi saat ini menjadikan Bagas tahanan luar, tentu dengan sedikit uang jajan yang di berikan Anton untuk pihak petugas. Baru lah semua bisa di proses.

__ADS_1


"Kami akan membawa orang yang telah di tuduh oleh pihak terkait, dan besok siang kami menunggu kalian datang kesini."


Ada helaan nafas lega dari pihak keluarga Bagas saat ini. Terutama dari istrinya.


Mobil Anton saat ini sudah terisi penuh dengan penumpang, Diana duduk ditengah bersama Bagas, Mita di samping kemudi bersama suaminya. Dan ibu duduk di belakang.


"Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah." Tiba-tiba ibu Ramini berujar seperti itu.


"Kemarin, ibu sangat ingin menginap, ada perasaan yang sangat tidak enak. Ternyata anakku mengalami masalah berat, ibu nggak bayangkan, kalau kemarin ibu batalkan niat ibu untuk menginap, tak bisa ibu bayangkan Diana dan cucuku yang ada dikandungan nya seperti apa." Berbicara dengan tatapan kosong, sepertinya ia mengungkapkan isi hatinya tanpa berpikir.


"Kamu dengar kan gas."


"Iya mas."


"Ini pelajaran untukmu gas. Kalau selingkuh itu, akan mempunyai akibat buruk, meskipun istrimu sudah memaafkan. Jadi kan ini pelajaran, agar suatu saat kamu tidak akan mengulanginya lagi. Walau yang menggoda Aura kasih sekali pun." Tutur Anton tapi masih fokus menyetir.


"Yah, kamu bau sekali. Ana mual menciumnya." Keadaan yang harusnya sedih malah kini berubah dengan tawa saat Diana mengutarakan isi hatinya.


"Na, namanya juga Bagas mandi keringat, sudah sebentar lagi juga sampai."


"Ayah jauh-jauh sayang." Bagas bergeser dan duduk di dekat pintu mobil.


Ibu Ramini tersenyum melihat menantunya, dan dengan lembut mengusap kepala menantunya dari tempat duduk belakang mobil.


Setelah sampai Bagas sudah di sambut dengan anaknya yang berdiri tepat di depan pintu. Bagas langsung memeluk dan mencium setiap inci wajah anaknya itu.


Maafkan ayah Alif.


Memeluk anaknya lagi.


"Ayah, kenapa ayah bau sekali." Ungkapan yang persis seperti perkataan istrinya beberapa menit lalu.


"Nah gas, udah dua orang yang bilang. Berarti memang sungguh bau kamu." Anton tergelak dan di ikuti semua yang mendengar saat ini.


Satu harian berada di kantor polisi, tanpa makan. Itu yang di rasakan Bagas. Karena hari sudah mulai gelap, pertanda kalau Maghrib telah tiba. Anton dan Mita memutuskan untuk lebih dulu mampir ke rumah adiknya.


"Mas, kak, tadi Eva masak. Nanti makan dulu ya?"


"Kita sholat berjamaah aja dulu." Anton memberi saran, tentu semua juga setuju. Karena memang sudah waktunya melaksanakan kewajiban.


Setelah selesai sholat, mereka makan dengan masakan Eva. Mita tak henti-hentinya memuji karena menurutnya memang enak. Eva juga merasa masakannya di hargai, entah pun karena mereka kelaparan karena sejak tadi belum makan, atau apa, pikirnya.


"Gas, kalau memang OB itu gimana?"


"Entah lah mas. Aku juga nggak nyangka, setau ku dia orang nya baik. Tapi kenapa bisa berbuat seperti itu." Berpikir sendiri.


Hingga waktu menunjukan jam 8 malam. Anton segera pamit pulang bersama istrinya, dan memberi tau Bagas kalau besok harus Kembali ke kantor polisi. Anton juga membatalkan keberangkatannya ke luar kota, karena keadaan ini lebih penting baginya, menolong orang-orang yang masih keluarga untuknya.


Diana sudah tertidur dengan pulasnya, begitu juga dengan ibu yang sudah masuk ke kamar. Mungkin lelah karena seharian berada di kantor polisi, dan melalui masalah yang cukup berat.


Hanya Bagas yang masih terjaga menatap langit kamar. Ada tangan yang melingkar di tubuhnya, dengan lembut ia mengusap tangan istrinya. Memeluk tubuhnya ketika tidur, mungkin Diana takut kehilangan suaminya untuk yang kedua kalinya, takut dengan jarak.


Baru beberapa jam aku ada di dalam sel, aku sudah merasa sangat tersiksa dengan di kelilingi para napi lainnya. Ya Allah, aku menyesal dengan perbuatan ku. Aku tidak ingin lagi berada di dalam jeruji besi walau hanya dalam hitungan menit atau detik. Aku yakin, semua ini di lakukan oleh orang yang sangat membenciku.


Ia tenggelam dalam pikirannya, sehingga tanpa sadar matanya meredup dengan sendirinya.


***


Jangan lupa mampir ya "Dia Bimaku" Enggak kalah seru kok ceritanya. Sepasang kekasih yang memiliki karakter yang unik, dan hubungan mereka terhalang oleh restu orang tua dan juga jarak. Aku tunggu ya jangan lupa mampir🙏🙏


semoga kalian sehat selalu, dan di jauhkan dari penyakit berupa virus💋

__ADS_1


__ADS_2