
"Kenapa teriak-teriak sih sayang?"
"Bunda kenapa bunda?"
Pertanyaan yang sama dan di ulang. Diana kembali menepuk pipinya, ia berasa ini mimpi. Kenapa bisa suaminya masuk ke dalam rumah dan kamar, sementara pintu rumah terkunci.
"Ayah, ayah kapan pulang? Ana enggak mimpi kan?"
"Enggak sayang, sini peluk ayah. Ayah rindu kamu dan Alif, sangat."
Diana beringsut mendekat begitu juga anaknya, rindu ini terasa sudah terbalas. Berjumpa sosok orang yang mereka sayang. Kembali menjalani hari dengan komunikasi langsung, tanpa harus melalui benda kecil yang ketergantungan sinyal.
"Sayang, baru beberapa Minggu di tinggal kenapa bisa berubah begini? bak power rengers. Sumpah kamu cantik sekali, walau masih ada ilernya di samping bibir hehe."
Bagas menggoda Diana dengan maksud yang jujur.
"Apaan sih yah, ah mujinya berlebihan. Ana cuma jalani diet sesuai proses. Ini juga untuk ayah. Ana ingin ayah selalu tertarik dengan Ana dan tidak tertarik pada wanita di luar sana."
Deg.
Kamu seperti menyindir aku sayang.
"Hem, enggak lah. Ayah cukup punya kamu aja sayang, itu udah buat ayah merasa lebih dari cukup. Apalagi ada jagoan ayah ini."
Sambil memeluk anaknya, mengajak Alif bencanda. Anaknya tertawa seperti tidak ada beban sama seperti anak yang lainnya. Mereka terus bercanda di tempat tidur, memuaskan rasa rindu yang mereka pendam beberapa Minggu.
Tapi Diana, dia seperti tidak ikhlas. Ada yang mengganjal di hati. Mengingat apa yang suaminya lakukan di luar kota. Bahkan untuk meyakinkan hatinya kembali bahwa suaminya tidak mungkin selingkuh itu sudah sangat berat.
Tawanya hilang, berganti dengan tatapan sendu menatap suami dan anaknya yang bercanda ria. Ingin sekali ia bertanya, ingin dan sangat ingin. Tapi apa mungkin Bagas akan jujur, pikirnya. Lidahnya keluh, untuk kembali di gerakan pun susah. Hari ini harusnya ia merasa kan detik dimana hatinya merasa senang, namun harus datang awan mendung, bukan pelangi yang menjabar di setiap sisi dirinya.
Aku harus memulai untuk menguji sampai dimana ke jujuran kamu yah. Diana.
"Yah?"
Panggilnya lirih.
Bagas menghentikan candaannya pada anaknya dan menoleh ke arah istrinya.
"Apakah ayah punya kebohongan yang ayah tutupi?"
Bagas terdiam, ia bahkan tak menyangka akan di serang pertanyaan seperti ini di pagi hari, malam atau pun siang. Tidak pernah ia bayangkan, karena ia sendiri pasti bingung akan menjawab apa.
Apakah aku harus jujur? Batinnya.
"Ada sayang."
"Apa?"
Secepat kilat Diana menyambar perkataan Bagas. Tetapi dengan suara yang lembut.
"Heemm, iya ayah bohong tentang mengabari untuk pulang ke rumah. Dan ayah, sebenarnya mendapat cuti satu Minggu dan hari ini ayah tidak bekerja."
Ucapnya dan mengelus pipi istrinya.
Bukan itu yang aku maksud. Diana.
Maaf aku harus berbohong lagi, demi kita. Bagas.
Diana hanya menjawab 'Oh' dan lalu turun dari tempat tidur menuju dapur.
"Sayang." Bagas mencoba memanggilnya.
Ia berpikir Diana marah karena tidak memberi kabar kepulangannya. Padahal ada sebab lain yang sangat membuat istrinya kecewa.
...***...
Diana.
Ada setetes air bening yang jatuh dari mataku. Seberapa pun aku mencoba tegar pasti tetap akan sakit, aku sadar itu. Tapi kali ini kamu memang kelewatan yah, kamu bahkan berani membawa wanita pergi bersama keluar kota. Dengan alasan fartner kerja, padahal kalian berbuat dosa besar.
Aku sadar ini pilihanku, jadi untuk mengaduh ke makhluk yang bernafas lainnya pun percuma. Karena jawaban dan saran mereka hanyalah perpisahan. Padahal aku sangat benci itu, aku tidak mau.
Rasanya mendengar langsung kamu berbicara akan datang ke kamarnya malam itu, seperti ada Boomerang yang menghantam dadaku, dan habis menghantam ia akan kembali terus menerus.
Aku harap saat kamu pulang aku masih bisa tersenyum yah, tapi wajahku seperti kaku. Jangankan tersenyum digerakkan pun susah. Ah aku bodoh, aku memang bodoh dalam hal ini.
Ya Allah aku berharap masih ada mentari dan juga pelangi setelah mendung yang datang di setiap hariku. Aku tidak ingin balas dendam atas apa yang suamiku lakukan, aku bersumpah.
Aku sangat menyayangi suamiku, suami pilihanku.
Sekarang aku sendiri hanya bisa berdoa dan berkata yakin, yakin, dan yakin.
Karena untuk usaha sudah aku lakukan, mempercantik diriku adalah salah satunya.
Bukan tanpa alasan aku melakukannya, jelas ini untuk suamiku. Aku sempat melambung ke atas sewaktu di puji, tapi Boomerang itu juga tidak pergi. Bagaimana cara menghentikannya pun aku tak tau.
__ADS_1
Dan hari ini, ingin sekali aku tanyakan hal ini. Aku mencoba untuk tanya supaya kamu jujur sama aku yah, ternyata jawaban kamu fix ke arah lain, yang menurutku enggak nyambung sama pertanyaan yang aku buat.
Kalau menurutmu itu kebohongan, malah bagiku itu adalah surprise.
Aku terlalu menjiwai peranku sebagai ibu rumah tangga. Jadi aku sudah terlalu banyak melewatkan bagaimana kamu di luar sana. Ini juga salah satu kebodohanku.
Diana end.
...***...
"Sayang."
Teriak Bagas.
"Heemm."
"Sayang, udah matang masakannya?"
Seraya berjalan menuju dapur dan menggendong Alif.
"Sebentar lagi, kenapa?"
Tanya ketus.
"Ayah udah lapar, kangen juga sama masakan kamu."
"Kan lebih nikmat makanan hotel."
"Enggaklah sayang, menurut ayah masakkan istri lebih nikmat."
Jawabnya jujur.
Diana tidak menjawab hanya fokus pada masakkannya.
"Liat kamu malah jadi pengen makan yang lain."
Gumamnya dan di tangkap telinga Diana dengan baik.
"Ada Alif, bicara jangan asal yah."
sambil memasukkan bumbu ke kuali.
"Yauda siang nanti ya kalau Alif udah tidur."
Diana hanya mengangguk. Padahal di lubuk hatinya sangat senang, ia juga tidak munafik karena juga rindu dengan sentuhan suaminya.
"Ya udah sayang."
Berjalan dan mengecup pipi istrinya. Diana hanya diam dan melirik sekilas.
"Ayah Alif juga mau di cium bunda sama ayah."
Kedua orang tua tersebut tersenyum hangat dan mencium pipi anaknya, Bagas sebelah kiri dan Diana sebelah kanan. Hal terindah yang dirasakan setiap keluarga.
Diana selesai memasak lalu mandi, dan segera menyiapkan makanan di meja makan.
Kemudian di susul oleh suami dan anaknya
Sarapan pagi ini hikmat, Alif juga tidak rewel seperti biasa karena ayah nya sudah kembali.
Bagas berencana mengajak Diana liburan karena cuti seminggu sudah termasuk lama baginya. Lagi pula uang yang ia dapat sudah terbilang banyak untuk kalangan sepertinya. Jadi tak masalah kalau kali ini menyenangkan hati keluarganya juga melupakan kejadian yang kemarin-kemarin.
"Sayang."
Panggilnya lembut.
"Heemm."
"Sayang, ayah enggak pernah ngajarin kamu buat jawab panggilan orang lain begitu, nanti bisa di contoh oleh Alif."
"Iya ayahku sayang, ada apa? Kenapa?"
Bagas melipat tangannya ke dada. Dan menatap tajam istrinya dan berhenti bicara.
Diana kikuk, karena Bagas paling tau kalau sudah di tatap seperti itu Diana merasa takut dan salah tingkah.
"Iya maaf yah. Ayah mau bicara apa?"
Kali ini nada bicaranya amat lembut.
"Kita liburan ya mau?"
Diana hampir tersedak mendengar kata itu. Dan menatap suaminya mencari penjelasan. Tidak pernah sekalipun selama ia mengenal Bagas, Bagas mengajak pergi apalagi liburan.
Bahkan untuk kunjungan ke rumah keluarga sekalipun selalu Diana yang mengajaknya, ya walaupun ia tidak pernah menolak. Tapi tidak kali ini, Bagas yang mempunyai inisiatif.
__ADS_1
"Ayah serius?"
"Serius lah sayang. Ini hadiah yang ayah janjikan untuk kamu, dan nanti sore kita pergi ke ATM ya, untuk ngambil uang bonus ayah."
"Ayah serius?"
Tanyanya lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Apa wajah ayah terlihat seperti pelawak yang ada di tv? Enggak serius gitu?"
"Soalnya kan enggak biasanya yah, dan kenapa bonusnya udah keluar? Bukannya pas gajian ya yah?"
"Syukuri ajalah sayang, namanya juga rezeki."
Diana mengangguk.
"Cuma kita bertiga aja yah? Enggak mau ajak Eva, ibu atau kak Mita?"
"Terserah kamu sayang, kamu yang nentuin mau kemana, mau ajak siapa."
"Ayah serius?"
Dengan nada menggoda.
"Jangan mancing di tengah meja makan sayang, mancingnya di tempat tidur aja, ayah mohon. Lihat kamu yang sekarang saja tanpa di pancing udah mau nyaplok."
"Oh berarti lihat Ana yang kemarin-kemarin enggak berasa di kasih umpan ya?"
"Bukan begitu say."
"Bunda, kenapa ayah mau mancing disini? Kalau mancing kan di laut."
Ucapan Bagas terpotong dengan pertanyaan Alif yang polos. Membuat dua manusia lainnya hanya tersenyum kikuk.
"Enggak sayang, maksud ayah bukan mancing ikan tapi mancing nyamuk yang ada di sini."
"Emang bisa ya yah?"
"Udah ayo Alif habis kan makanannya."
Diana berusaha melupakan percakapan mereka yang terekam oleh Alif.
Ketika Bagas hendak berdiri meninggalkan meja makan, Diana langsung teringat sesuatu.
"Yah tunggu."
"Kenapa sayang?"
"Ayah belum jawab pertanyaan Ana tadi pagi."
"Bukannya Uda ayah jawab ya? Pertanyaan yang mana lagi?"
"Gimana cara ayah masuk ke dalam rumah? Semua pintu di kunci, jendela juga. Terus ayah juga enggak bawa kunci cadangan kan?"
"Sayang liat aja jendela dapur rusak atau tidak."
"Hah?"
Diana kaget.
Enggak mungkin kamu masuk dari sana.
"Iya yang kamu pikirkan benar sayang, hahaha. Niat ayah kasih surprise malah jadi apes."
"Lalu, koper ayah mana?"
Bagas yang mendengar pun kaget, ia bahkan melupakan kopernya.
"Sayang coba liat ke depan, ayah benar-benar lupa sayang."
"Ya ampun yah, ada barang berharga enggak? Kalau ilang gimana yah?"
"Ada barang berharga ayah disitu sayang, ayah lupa."
"Barang apa yah? Dompet atau berkas atau apa yah?"
"Itu barang berharga ayah yang setiap bulan kamu belikan sayang supaya peliharaan ayah yang di sarang tidak terbang."
"Ayah!!!"
Bagas tertawa dan langsung melarikan diri.
Bersambung..
Jangan lupa like vote juga komentar yaa.
__ADS_1
Supaya author yang nulis lebih semangat🙏