Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 65


__ADS_3

Ternyata Eva memegang kata-katanya. Ia benar-benar mengundang teman lelakinya datang kerumah Bagas. Siap memperkenalkan. Walau saat ini statusnya memang masih teman.


"Silahkan masuk, atau mau duduk di teras aja?" Tawar Diana.


"Ayo masuk." Bisik Eva malu-malu.


"Oh iya kak makasih." Bersiap masuk ke dalam rumah, dan siap mengenal keluarga Eva.


Teman lelaki Eva bernama Abim. Ia adalah satu guru di pesantren. Eva mengaku kalau ia mengenal sewaktu masih magang kemarin, dan umur mereka hanya berjarak 3 tahun, tentu Eva yang lebih muda. Tingginya hampir sama dengan Eva, entah Eva yang terlalu tinggi tubuhnya atau Abim yang memang pendek, entahlah.


Kulitnya tidak putih, bisa di bilang sawo matang. Senyumnya manis, karena mempunyai dua lesung pipi. Bisa di bayangkan lah ya.


"Sebentar kakak ambilkan minum, kamu duduk aja." Berbisik dengan adik iparnya.


Saat ini Eva dan Abim duduk di sofa ruang tamu, sementara Bagas, ibu dan Alif masih menonton TV.


Bagas saat ini senang, karena ibunya mau menginap, biasanya susah sekali untuk di ajak.


Diana kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas orange jus. Dan juga ada cemilan ringan tentunya.


"Silahkan, kakak tinggal ya va." Permisi dan tersenyum ramah.


Diana kembali bergabung dengan ibu dan juga suaminya.


"Bu, teman Eva sudah datang. Ibu enggak mau lihat?" Ucap Diana menggebu-gebu. Seperti menemukan harta Karun.


"Oh iya. Ayo gas, di kira nanti kita sombong enggak mau nyapa." Bagas mengikuti ibunya, tentu Diana juga.


"Bu." Langsung menyalim tangan ibu Ramini dengan sopan begitu melihat ibu Ramini datang.


"Mas." Juga menyalim dengan sopan. "Abim mas." Memperkenalkan dirinya.


"Oh iya, saya Bagas. Mas nya Eva."


Duduk, kini mereka duduk. Eva sudah gelisah, mungkin ia merasa canggung, soalnya baru kali ini berani membawa seorang teman lelaki datang ke rumah. Bahkan sama pacar nya dulu juga belum pernah, pacar yang ia putuskan secara sepihak.


"Rumah kamu dimana Abim?" Ibu yang memulai pembicaraan.


"Oh rumah saya di daerah gagak hitam. Tapi karena kerjanya di luar kota, ya paling pulang kerumah cuma satu bulan sekali, dan kebetulan hari ini saya pulang, makannya bisa datang kesini."


"Maaf, kerja apa nak di luar kota?" Bertanya dengan sopan. Bagas dan Diana hanya diam menyimak.


"Saya ngajar di pesantren bu. Jadi kan enggak bisa pulang setiap hari. Jatah cuti sebulan hanya sekali."


Pantas saja punya jenggot, batin Diana.


Eva hanya diam, melihat ibunya bertanya seperti mengintrogasi seorang calon suami.


"Jadi begini bu. Memang saya sudah lama mengenal Eva, sejak masih magang dulu. Tapi dekat sih baru 6 bulan ini. Dan baru sekarang juga bisa bertemu langsung setelah beberapa tahun tidak berjumpa." Tersenyum lagi. "Apa kalau saya melamar Eva sekarang ibu keberatan?"


Eva langsung membulatkan matanya tidak percaya, karena ini memang tidak ada di rencanakan. Dan, juga mereka tidak memiliki hubungan spesial, hanya berteman dan Eva sering minta masukkan kalau lagi ada masalah. Eva melirik Abim, menurutnya saat ini Abim memang serius dengan perkataannya.


"Kenapa cepat sekali?" Ibu juga kaget ternyata.


"Saya tidak ingin pacaran bu, saya mau ngajak Eva ta'aruf."


"Kalau itu ibu tergantung sama anaknya Bim. Gimana Eva?"


Eva kikuk, bahkan pertanyaan ini sungguh membuatnya bingung. Pasalnya, ia juga menyukai Abim, dan memang tipenya, Sholeh juga anaknya. Tapi, bukan kah ini mendadak? Eva juga baru selesai kuliah, belum sempat bekerja dan membantu ibunya.


"Eva jawab, ibu bertanya." Bagas mengeluarkan suara.


"Eva bingung bu. Bisakah nanti saja jawabnya?" Tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya sendiri.


"Ya sudah enggak apa kok bu. Kapan Eva siap dan mau nerima saya, saya akan langsung datang bersama keluarga saya." Berkata dengan tegas dan mantap.


Ibu Ramini mengangguk.


Ya ampun, mimpi apa aku semalam, hari ini aku di lamar lelaki idaman. Batin Eva.


Setelah berbincang cukup lama, membahas hal lain, dan melupakan soal lamaran. Abim permisi untuk pulang. Tinggallah Eva yang saat ini duduk dengan menundukkan wajahnya. Eva tau, pasti pikiran kelurganya Eva sudah tau kalau Abim akan melamarnya. Padahal, Eva sendiri juga tidak tau apa-apa.


"Bagaimana va? Ibu lihat dia lelaki baik, bahkan sekali jumpa ibu dia berani mengutarakan maksudnya, dan juga dia sudah mantap akan membawa keluarganya datang jika kamu sudah siap?"

__ADS_1


"Menurut mas gimana?" Ia malah bertanya pendapat masnya.


"Yang pasti, dia lebih baik dan jauh lebih baik mas va." Menyadari kesalahannya sendiri.


"Sekarang kamu va. Keputusan kan ada di kamu, kata orang tua dulu sih, pamali kalau menolak lamaran. Apa lagi kamu juga udah pantas kok untuk menikah." Diana memberi saran.


"Ibu setuju sama kakakmu." Ibu juga mendukung ternyata. "Va, ibu enggak tau umur ibu akan panjang atau tidak, tapi jujur ibu juga ingin melihat kamu menikah, sebelum ibu di panggil sama yang kuasa." Berbicara dengan serius, dan wajah ibu berubah sendu.


"Bu, ibu jangan ngomong gitu ah. Ibu pasti bakal terus sama aku lah."


"Va, kamu lihat kakak mu Diana. Kamu tau kan? Orang tuanya sudah tiada, apa menurutmu orang tua bisa hidup selamanya?" Kali ini Eva merasakan sesak di dadanya. Karena memang benar, semua makhluk yang bernafas pasti akan mati. Tapi, ia memang belum siap untuk memikirkan hal itu sekarang.


"Ibu juga mau, sebelum ibu pergi, kamu sudah ada yang jagain, sudah ada yang bertanggung jawab sama kamu. Sehingga, kalau ibu sudah tiada ibu bakal tenang melihat anak-anak ibu semuanya sudah bahagia dengan memulai hidup barunya." Tambah ibu lagi.


"Ibu benar va. Kakak setuju sama ibu, bukan berarti kakak doakan ibu supaya cepat di panggil. Tapi memang benar kenyataanya. Kakak sudah merasakan itu lebih dulu va. Kakak juga dulu berharap orang tua kakak bisa hidup lebih lama, bisa terus sama kakak, tapi itu tidak mungkin. Karena semua sudah di atur yang di atas."


"Kasih aku waktu buat berpikir bu. Jika aku sudah siap, aku bakal bilang ke ibu."


"Ya sudah. Pokoknya sebelum ibu pergi, ibu ingin melihat kamu menikah dulu."


"Ibu, jangan begitu. Jadi kalau aku udah nikah ibu bakal pergi gitu? Iya? Kalau begitu lebih baik aku enggak usah nikah aja, biar bisa sama ibu terus." Eva malah menangis seperti anak kecil yang takut di tinggal pergi oleh ibunya.


"Loh jangan nangis, kamu kok gitu ngomongnya? Ibu kan hanya mengutarakan keinginan ibu va." Menenangkan anaknya, anak yang selalu dekat dengannya. Jelas Eva merasa takut membayangkan hal seperti itu, karena dia sendiri memang tidak pernah pisah dengan ibunya. Juga Eva anak perempuan satu-satunya yang selalu di sayang oleh ibunya.


"Sudah. Ini yang ibu takutkan, kamu, ibu baru bahas begini kamu sudah nangis. Ibu mau, ketika kamu terpuruk nanti akan ada yang menguatkan kamu dan membuatmu semangat kembali."


"Sudah bu, jangan bahas ini lagi." Menghapus air matanya.


"Enty kenapa nangis?" Tanya Alif yang baru datang, ternyata dari tadi ia masih melihat kartun kesukaannya.


"Enggak sayang, enty tadi di marahin sama nenek, jadi enty nangis." Beralasan.


"Kenapa enty di marahin? Enty buat salah ya?" Mendekat ke arah Eva dan menghapus air matanya.


"Kata bunda nggak boleh nakal, kalau nakal pasti di marahin. Pasti enty nakal ya makannya nenek marah." Sungguh anak yang cerdas.


"Iya, enty udah minta maaf sama nenek kok." Kembali tersenyum dan memeluk Alif.


"Nenek, nenek udah maafin enty kan?"


"Udah kok nak. Alif dengar nenek, Alif nanti kalau udah besar, Alif harus rajin sholat ya? Doakan nenek."


"Iya nek, Alif pasti bakal doain nenek."


Ibu Ramini memandang wajah cucunya dan tersenyum.


Andai cucuku yang lain sering bertemu denganku seperti Alif. Aku pasti bakal jauh lebih bahagia, tapi Andre tidak pernah membawanya datang. Bahkan seperti apa sekarang cucu ku aku juga tidak tau, sudah lama sekali enggak berjumpa.


Ibu berdiri dari duduknya, tidak ingin kesedihannya terlihat oleh anak dan cucunya.


"Ibu mau kemana?" Bagas bertanya melihat ibunya yang beranjak dari duduknya.


"Ibu mau istirahat. Ibu lelah, ngantuk juga."


"Ya udah." Berjalan ke kamar. Kamar yang di tiduri oleh Alif saat ini, malam ini Alif akan tidur dengan bundanya. Karena Eva akan tidur dengan ibunya di kamar Alif.


...***...


Pagi hari Bagas sudah bersiap menuju ke kantornya. Ia berpamitan dengan ibu dan juga istrinya. Hari ini Bagas berangkat sendiri tanpa harus di antar. Ibunya juga belum meminta untuk kembali kerumahnya, masih ingin di sini katanya.


Sampai di kantor Bagas langsung di panggil untuk menuju ruangan direktur.


Ada apa lagi ini.


Batinnya. Ia merasa pasti ada sesuatu, karena semua tatapan karyawan menatap penuh kekhawatiran. Tapi Bagas enggan bertanya dan segera menuju ke ruangan.


Matanya terbelalak saat mendapati dua polisi sudah ada di ruangan direktur.


"Bagas, silahkan kamu duduk."


Dua polisi itu menatap tajam ke arah Bagas.


"Saudara Bagas, silahkan anda ikut ke kantor karena kami akan memintai keterangan kepada anda." Berbicara dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi pak, tunggu dulu. Salah saya apa? Bukan kah jika membawa orang harus ada penjelasan mengenai prihal kesalahan yang di buat?" Iya, tentu Bagas kaget. Karena polisi datang untuk menangkapnya tidak datang ke rumah melainkan ke kantornya.


"Begini, saudara Darma telah meninggal tadi malam. Ia keracunan setelah memakan makanan yang anda kirimkan melalui mode selam. Anda menitipkan memalui petugas. Benar begitu? Anda juga sudah mengisi formulir sebelum menyerahkan makanan tersebut. Benar begitu kan?"


Apa? Darma meninggal? Inalillahi.


"Tapi saya tidak ada mengirim apa pun pak. Saya semalam di rumah, dan siang saya menghadiri acara nikah adik saya."


"Anda bisa jelaskan nanti di kantor. Kami juga sudah melihat CCTV ciri-ciri nya juga sama seperti anda."


Bagas menatap direktur yang masih santai dengan memegang janggutnya.


"Pak, saya enggak salah pak." Berontak saat polisi membawanya keluar ruangan. Seisi kantor melihatnya, Tentu berita ini akan cepat tersebar.


Setelah sampai di kantor polisi, Bagas langsung diinterogasi.


"Jawab dengan jujur atau kami melakukan tindak kekerasan."


"Saya enggak salah pak, saya tidak melakukannya." Bagas tetap menjawab dengan jawaban yang sama meski sudah di tanya berulang-ulang.


"Pak, ijinkan saya memberi kabar kepada keluarga saya di rumah." Bagas memohon.


"Silahkan 5 menit." Bagas langsung mengeluarkan HP miliknya. Dan menelfon istrinya di rumah.


"Hallo, Sayang dengar ayah, tenang ya tenang, ayah di tahan di kantor polisi atas tuduhan meracuni Darma dengan mengantarkan makanan ke sini. Jangan panik sayang, ayah mohon. Tolong beri kabar mas Anton, dan bicaralah dengan lembut dengan ibu. Ayah akan baik-baik saja disini."


Diana diam dan tidak menjawab di sebrang telepon.


...***...


"Kak." Teriak Eva yang melihat Diana melemas dan tak sadarkan diri, HP yang saat ini ia pegang juga sudah jatuh ke lantai.


"Ibu. Kak Diana Bu." Eva panik dan bingung.


"Kenapa va?" Ibu juga tak kalah paniknya dengan Eva.


"Tadi kak Diana nerima telfon, dan langsung pingsan." Eva mengguncang tubuh Diana dan memanggil namanya agar segera sadar.


"Coba kamu lihat siapa tadi yang nelfon?" Ibu memberi saran agar tau dan tidak panik.


Eva langsung mengambil HP Diana dan melihatnya.


"Mas Bagas bu. Tapi ada apa bu?" Eva yang ketakutan pun menangis.


"Apa terjadi sesuatu dengan mas Bagas bu?"


"Sudah, ayo kita bawa ke kamar. Tunggu sampai kakakmu sadar agar dia bisa menjelaskan."


Diana belum sadar juga, ibu kembali menyuruh Eva menghubungi Bagas. Tetapi nomornya tidak aktif.


"Coba hubungi Anton. Ibu yakin dia bisa bantu."


Dengan cepat Eva melaksanakan perintah ibunya.


"Hallo mas. Assalamualaikum, ini Eva."


"Walaikumsalam. Iya va. Ada apa?"


"Mas, bisa kerumah kak Diana sekarang enggak? Soalnya dia pingsan sehabis nerima telfon dari mas Bagas, sampai sekarang belum sadar juga. Kami bingung mas. Takutnya ada apa-apa. Udah berulang kali nelfon mas Bagas tapi enggak aktif." Berbicara dengan suara bergetar.


"Iya tunggu, mas kesana sekarang ya."


Setelah sambungan terputus, Eva langsung kembali duduk di samping kakak iparnya, dan terus memberi minyak angin di hidungnya, berharap agar Diana cepat sadar. Alif juga ikut menangis, mungkin juga ia tau kalau bundanya saat ini sedang tidak baik.


...***...


Anton langsung memberi tau Mita. Tentu saat ini gantian istrinya yang panik, ketakutan.


"Sayang, sayang tenang. Jangan panik, ingat ada janin yang kamu kandung. Semua masalah, dan apapun yang terjadi saat ini akan ada jalan keluarnya. Kita kesana sekarang."


Untungnya Anton belum berangkat untuk pergi keluar kota. Kalau saja dia sudah pergi, mungkin ketiga wanita itu akan sulit mendapatkan bantuan.


...***...

__ADS_1


Gantung ya? Waduh, siapa ya kira-kira yang jebak Bagas?


Kalian sombong ih, enggak mau mampir di novel author yang baru. Ayo dong mampir "Dia Bimaku." Kasihan Bima kesepian tuh engga ada yang baca.


__ADS_2