Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 30


__ADS_3

"Assalamualaikum mas."


Tak ada jawaban.


Tok tok..


"Assalamualaikum, kak, mas?"


Apa enggak ada orang ya.


Pagi ini Bagas datang ke kediaman Anton. Namun saat ia akan berbalik badan suara kunci pintu terbuka.


Secepat kilat Bagas menoleh. Ternyata Mita yang membuka pintu.


"Kak" tertunduk. "Kak, aku datang kesini."


"Mas, mas ada tamu tak di undang datang."


Ucap Mita langsung memotong ucapan Bagas, yang pastinya akan menanyakan keberadaan adiknya.


Apa tamu tak di undang? Sialan!! Bagas.


Suara derap langkah kaki terdengar mendekat di telinga mereka.


"Mau apa?"


Ucapnya dingin.


"Mas aku."


"Masuklah, bicara di dalam."


Bagas pun masuk dengan mengucapkan salam. Ia berjalan mengikuti langkah Anton, sedangkan Mita hanya berdiri dan memegang engsel pintu rumahnya.


Aku sendiri rasanya sudah malas mendengar ucapanmu, apalagi adikku.


Bagas dan Anton sama-sama terdiam. Anton menunggu Bagas menjelaskan, sementara Bagas takut memulai karena ia tau pasti ucapannya akan langsung di potong begitu saja, apapun yang keluar dari mulutnya.


"Mau apa?"


Pertanyaan Anton masih sama dengan yang pertama kali melihat wajah Bagas.


Aku mau Diana mas, aku mau istriku!!! Kemana dia?


Tentu ia hanya berani berkata dalam hati. Datang tidak di usir saja masih bersyukur.


"Aku datang kesini mau minta maaf mas."


"Untuk hal apa?"


"Karena aku menyakiti Diana."


Ucapnya lirih.


"Siapa yang kamu sakiti?"


"Diana mas."


"Lalu?"


Anton sengaja mempermainkan perkataannya.


"Maka dari itu aku ingin meminta maaf?"


"Yang kamu sakiti siapa tadi?"

__ADS_1


"Diana mas."


Bagas mengulang jawaban yang sama.


"Yang mas tanya, kamu kan menyakiti Diana, kenapa minta maafnya sama mas?"


Aku di jebak ternyata.


"Yang di sakiti istri kamu, yang sakit istri mu. Kenapa harus minta maaf sama mas? Kalau kami ini hanya kecewa, namun kecewanya sudah terlalu dalam. Lalu yang tersakiti ya Diana."


"Tapi mas, aku bener enggak tau Diana dimana. Aku hanya tau Diana pasti akan pulang kesini. HP nya tidak pernah aktif semenjak ia pergi meninggalkan rumah. Tolong lah mas."


"Lah kamu sendiri aja enggak tau dimana Diana, padahal kan kamu suaminya. Apalagi kami."


Mita menjawab dengan ketus. Ternyata sejak tadi ia menguping.


"Ceritakan yang sebenarnya terjadi."


Anton sengaja ingin Bagas menjelaskan, padahal ia juga sudah mendengar semuanya dari Diana. Namun kalau hanya sepihak yang menjelaskan rasanya tidak adil, lebih baik mendengar dari kedua pihak. Agar mempermudah menyelesaikan masalah.


"Aku memang selingkuh mas, dan aku memang melakukan hubungan suami istri dengan wanita itu, tapi aku berani bersumpah, aku tidak pernah menjatuhkan sedikit pun benih ku."


"Apa kamu sadar, kalau sudah enak kamu ya juga enggak tau."


Bagas rasanya sudah enggan menjelaskan, karena benar dugaannya belum apa-apa sudah di cela.


"Lanjut." Ucap Anton.


"Aku sudah sering menghindar mas, sumpah demi apapun. Namun aku lelaki yang seberapa kuat iman pun aku bakal tergoda. Tetapi, sewaktu di luar kota aku tau kalau wanita ini bukan hanya berhubungan denganku saja. Ia juga sering dengan lelaki lain, ibarat kata dia memang pelacur. Dan aku bukan orang pertama. Jadi sewaktu pulang dari luar kota, aku benar-benar mutuskan hubungan aku sama dia, awalnya dia seperti tidak terima, namun lama-kelamaan tidak menggangu lagi. Mungkin karena aku juga sudah minta pindah ke bagian lain."


"Terus?"


"Tiba-tiba setelah semuanya sudah damai, rumah tanggaku kembali hangat, wanita itu datang bersama ibunya dan meminta aku tanggung jawab. Ia mengatakan kalau ia hamil."


Ternyata penjelasannya sama dengan Diana. Baiklah kali ini kamu jujur. Batin Anton.


"Risah mas."


Deg..


Deg..


Anton kaget bahkan sampai membulatkan matanya.


Bukankah itu wanita yang di ceritakan oleh Darma kemarin? Dan, dan dia tidak mau tanggung jawab. Apakah ini wanita yang sama? Aku harus menyelidiki sendiri, tentunya tanpa Bagas harus tau.


"Mas?"


"Iya? Jadi gimana keputusan kamu?"


"Aku akan menikahinya mas, tapi tidak tinggal satu rumah. Nanti setelah bayi itu lahir akan di lakukan test DNA benar atau tidak itu anakku. Dan kalau memang tidak benar, aku akan melakukan penuntutan."


"Ya uda kalau itu keputusanmu."


"Tapi mas, aku mohon beri tau aku, dimana Diana. Aku rindu anakku mas."


"Mas tidak tau gas, ia hanya pamit akan pergi. Tapi tidak memberi tau akan kemana."


"Baiklah mas, saya permisi. Maaf sudah buat mas dan kak Mita kecewa."


Bagas berjalan lesu keluar rumah Anton. Usahanya untuk mencari tidak berhasil. Ia frustasi bahkan sudah dua hari ini tidak masuk kantor.


Apakah Diana ada di rumah Ibu? Ya pasti dia kesana, dan tentunya dia juga pasti sudah mengaduh. Tapi aku harus tetap kesana, aku yakin selain ke rumah kakaknya pasti ia akan ke rumah Ibu.


Tanpa berpikir lagi Bagas pun melajukan mobilnya ke kediaman Ibunya. Ia menyalip kendaraan di perkotaan dengan ahlinya. Rasanya tidak sabar untuk cepat sampai kesana.

__ADS_1


Biasa jarak tempuh sampai 2 jam. Kali ini hanya 80 menit, wow.


Bagas langsung turun tergesa-gesa, bahkan memarkirkan mobilnya secara asal.


Terlihat pintu rumah terbuka, tanda ada tuan rumah di dalam.


"Assalamualaikum. Bu, Ibu?"


"Walaikumsalam."


Suara terdengar dari arah dapur. Tak banyak berpikir Bagas langsung melangkah kesana.


"Bu? Mana Diana? Dia disini kan Bu?"


"Maksud kamu apa?"


Ibunya menghentikan pekerjaannya di dapur.


"Gila ya. Tiba-tiba datang langsung nyari istrinya."


Jawab Eva.


Ternyata ia sedang mencuci piring.


"Apa yang terjadi!! Jelaskan!!"


Ibunya membentak dengan suara bergetar.


Oh ya Allah, aku harap mimpiku yang kemarin tidak terjadi.


Bagas terduduk di lantai dan menangis, hal itu mengundang Ibu dan adiknya untuk mendekat dan menghentikan kegiatan mereka. Eva memapah Bagas menuju sofa ruang tamu. Dan di sanalah mereka meminta penjelasan.


Bagas menarik nafas, untuk mengatur ritme jantungnya yang berdetak tidak normal. Sebab ia tau hal apa yang akan terjadi jika Ibu dan adiknya ini tau. Bahkan masalah Andre saja belum kelar, dan ini terjadi lagi dengan anaknya yang lain.


Bagas menceritakan semua yang terjadi dengan wajah yang tertunduk. Air mata penyesalan tidak berhenti terjatuh.


"Siapa wanita itu?"


Ucap Eva lirih dan pandangan kosong.


Pasalnya disini ia yang paling syok selain Ibu. Kedua saudaranya menyakiti hati wanita, ia takut jika akan menanggung perbuatan saudara laki-lakinya kelak. Karena pepatah selalu mengatakan, karma akan berjalan dan karma itu ada.


Eva sangat takut, jika suatu saat semuanya akan terjadi padanya. Di duakan oleh orang yang ia sayang. Semua perlakuan saudaranya berbalik padanya.


"Risah, teman magang kamu itu."


Ucap Bagas lagi.


"Apa?? Baj**gan kamu mas, penghianat, sialan!!!"


Ia memaki dengan lantang dan berlari menuju kamar.


Pantas saja, kak Diana bilang kalau aku akan tau semuanya nanti. Semua lelaki sama aja!!!


Ia menangis, menangis sejadi-jadinya. Rasanya terpukul, mulai dari ayah, dan kini terjadi juga dengan kakaknya.


Ibu hanya terdiam lalu pergi meninggalkan Bagas seorang diri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan air mata pun ia tahan untuk jatuh di hadapan anaknya.


Diana kemana kamu nak? Ya Allah, kenapa semua anak lelaki ku jahat terhadap wanita. Aku harus apa sekarang?"


Di dalam rumah ini, semua yang bernafas menjatuhkan air mata kesedihannya masing-masing. Dengan pikiran yang berbeda-beda. Ada yang menyesal, kecewa dan tidak sanggup lagi untuk berbicara.


Bagas pergi tanpa pamit. Karena baginya tidak ada gunanya lagi memohon ampun kepada Ibunya. Ia sudah terlalu kecewa. Ia memilih pulang kembali ke rumah.


Bersambung..

__ADS_1


Mohon like nya, jangan hanya di baca.


Supaya author lebih semangat nulisnya.


__ADS_2