Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 18


__ADS_3

Sudah tiga hari Bagas berada di luar kota.


Diana tidak keluar dari rumah, paling hanya sesekali belanja ke depan, dan duduk di teras rumah Bu Salmah.


Ia makin rajin berolahraga sehingga pencapaian saat ini sudah lebih dari 6kg lemak yang berhasil ia luntur kan.


Sebenarnya juga ia bosan, munafik sekali jika berada dirumah terus-menerus bisa adem ayem.


Ia juga berniat mengunjungi kakaknya, sebab sudah ada rindu setelah seminggu lebih tidak bertemu.


Kali ini ia akan ijin keluar oleh Bagas.


Telfon tidak di angkat.


Mungkin sibuk, lebih baik aku kirim pesan saja.


"Ayah. Ana mau bawa Alif kerumah kak Mita, jenuh juga dirumah enggak keluar. Boleh ya yah? Kasian juga Alif dirumah terus."


Pesan terkirim.


Karena belum terlalu siang, Diana segera membawa Alif untuk pergi kesana.


Mampir sebentar ke toko roti kesukaan kakaknya.


Kali ini suasana hatinya masih tenang.


Sesekali mengikuti lantunan lagu yang ia putar di mobil.


*mana mungkin selimut tetangga hangat di tubuhku dalam kedinginan


malam-malam panjang setiap tidurku selalu kesepian.. Ohh*...


Alif yang duduk di sebelah Diana hanya mendengarkan bundanya bersenandung mengikuti syair lagu tersebut.


...***...


Diana membunyikan klakson mobilnya berkali-kali.


Agar tuan rumah dapat mendengar, karena Diana datang kesini tidak memberi kabar dahulu.


Anton keluar rumah dan membuka gerbang tingginya.


Ia melihat mobil yang di depan matanya tidaklah asing, jelas karena sebelumnya mobil ini adalah miliknya.


Setelah parkir diana turun dan menggendong Alif.


"Mas, hehe."


"Apa?"


"Enggak apa-apa mas."


"Alif sini sama pakde, pakde rindu tau."


Diana menurunkan Alif dari dekapan dan ia langsung berjalan ke arah Anton.


Mereka memasuki rumah, Mita yang melihat siapa yang datang langsung berjalan menyambut adiknya itu.


"Ana? Lah biasa telfon kakak dulu kalau mau datang."


"Iya kak, ini Ana bawa roti butter kesukaan kakak."


"Makasih, repot-repot segala. Kamu sendiri?"


"Iya Bagas keluar kota, mungkin sampai seminggu entah pun lebih."


"Biasanya cuma dua hari?"


Kali ini Anton bersuara.


"Ada kendala katanya mas, jadi dia di utus kesana untuk melakukan tugas yang sudah di perintahkan atasannya."


Mereka duduk di ruang tv sambil memakan cemilan yang di sediakan Mita.


Sesekali nampak wajah ceria Alif saat bermain dengan pakdenya.


Ia sangat rindu ayahnya, jadi bisa terbilang rindunya sedikit terobati kalau sudah ada Anton.


"Kamu udah kurusan ya na."


Ucap Mita luwes.

__ADS_1


"Ha? iya kak, turun 8kg. Termasuk cepat sih, karena mungkin Diana enggak konsumsi nasi dulu, dan rajin olahraga."


"Jangan sampai sakit ya."


"Iya kak."


Diana kembali melihat HP, ada beberapa panggilan tak terjawab.


Kenapa aku enggak mendengar kalau ada telfon ya.


"Kak Diana ke depan sebentar, mau telfon Bagas."


Ucapnya dan pergi keluar rumah.


Baru dering pertama panggilan sudah langsung diangkat Bagas.


"assalamualaikum yah."


"(Dimana?)"


"Ini dirumah kakak. Tadi Diana telfon enggak angkat, jadi kirim pesan aja langsung pergi kesini."


"(Ya udah jangan telat makan ya, hati-hati. Ayah lanjut kerja ya)."


"Iya yah."


Ketika akan mengucapkan salam Bagas lebih dulu mematikan sambungan telfon.


...***...


Ditempat lain, dan di kota lain.


Bagas berada di kamar mondar-mandir. Karena kerjaan yang ia lakukan hari ini masih senggang, jadi masih berada di kamar hotel.


Ia terpaksa harus berbohong kepada Diana karena saat ini Risah belum juga mau bicara sejak kejadian kemarin.


Bagas tidak takut, hanya saja tidak enak hati membentak anak orang sampai begitu, ya walaupun itu murni kesalahan Risah.


Bagas berusaha mengetuk pintu, tapi tidak dijawab.


Dan mencoba masuk dari pintu tengah, ternyata tidak di kunci.


Bagas mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tapi tidak ada Risah.


Bagas menunggu Risah di sofa dalam kamar.


Hp Risah berdering dan Bagas melihat siapa yang menelfon.


Rendy??


Bagas tidak ada niatan untuk menjawab. Sampai entah berapa kali telfon itu berbunyi.


Mungkin yang menelfon sudah pasrah jadi hanya mengirimkan pesan.


"Lama sekali? Katanya mau kirim foto sexy, ayolah. Aku sudah rindu sayang. Begitu kamu pulang gaakan aku kasih ampun di ranjang ya, titik."


Bagas membaca dengan suaranya.


Sial*n kurang ajar!!


Tak lama tampak Risah keluar dengan menggunakan handuk di lilitkan dan rambut yang masih basah mengalir ke lehernya.


Risah kaget sejak kapan Bagas ada disitu pikirnya.


"Kamu ngapain mas?" Tanyanya.


Bagas tidak menjawab.


"Mas?" Panggilnya ulang.


Bagas menoleh dengan tatapan yang tajam.


Aku tidak tau, aku tidak cinta, tapi kenapa setiap melihat ia dengan lelaki lain aku sangat emosi dan marah.


"Aku hanya mau minta maaf atas kemarin, kalau kamu diam kerjaan kita akan lama kelarnya. Jadi lama kamu akan bertemu kekasih dan lama juga kamu memuaskannya. Kasian dia sudah menunggu.


Oiya kalau kamu mau, kamu bisa pulang duluan, biar aku yang mengatakannya pada atasan, kasian pacar kamu atau sugar Daddy kamu sudah tidak tahan akan belaian mu."


Ucapnya dan menggertakan giginya.


"Apaan sih mas, aku mau pakai baju dulu."

__ADS_1


Bagas hanya diam.


Tak lama selesai berpakaian, Risah hanya menggunakan celana pendek dan kaus tanpa lengan yang ketat, terlihat belahannya disana.


Bagas menelan air liur, ia juga masih lelaki normal. Apalagi kini jauh dari istrinya.


Bagas mematung memandang kaum hawa di hadapannya ini.


"Mas."


Risah berjalan mendekat.


"Stop!!" Seru Bagas.


"Aku tidak mau khilaf lagi, cukup sudah untuk kemarin."


Risah tampak mengerutkan dahinya, tapi dia tetap saja berjalan dan duduk di pangkuan Bagas.


"Risah, aku mohon. Aku lelaki normal, jangan begini."


"Tidak ada yang liat mas."


"Aku tau tapi."


Ucapannya terhenti, tatkala Risah menyambar bibir nya.


mereka saling terpangut satu sama lain hingga tanpa sadar Bagas yang menggiringnya ke arah ranjang.


Aku tidak tau, setelah ini aku bisa mengontrol tubuhku atau tidak, maaf Diana maaf.


Mereka melakukannya berulang kali, hingga kelelahan dan tertidur bersama dengan tubuh tak terbelit satu helai benang pun.


Karena kecerobohan mereka berdua, asik dengan ***** dan dunianya sampai lupa kalau disini mereka sedang bekerja.


Beberapa email yang masuk tidak di baca dan di periksa.


Mereka bangun saat hari sudah mulai gelap. Bagas yang tersadar langsung membangunkan Risah, tapi Risah tak bergeming.


Bagas kembali mengguncang tubuh Risah hingga selimut yang menutupinya terbuka. Bagas mencoba berpikir jernih kali ini untuk tidak tergoda.


Tapi malah Risah kembali memeluk Bagas sambil tidur.


Bagas akan bangkit, dan apa? Ditahan oleh Risah, mereka kembali bergumul dengan menambah dosa.


Hingga waktu benar-benar petang dan sudah menandakan isya telah tiba.


Setelah selesai dengan dosa yang di perbuat, Bagas mandi di bawah guyuran air dan meneteskan air matanya sangat deras.


Diana, maafkan aku, maafkan aku Diana.


Ia terus mengulang kalimat itu.


Sementara Risah, tetap bersikap biasa saja. Tak merasa bersalah dan berdosa sama sekali, malah terlihat senang.


Bagas kembali berpakaian rapi, saat ini mereka sudah berada di kamar masing-masing.


Bagas melihat ada telfon dari atasannya dan segera mengangkat.


"Ya, Hallo pak."


"(Kamu sebenarnya kemana saja? Kenapa email yang masuk belum kamu baca dan rekap? Mereka menunggu kamu dari siang, hingga rapat selesai dewan direksi belum menerima apa pun dari perusahaan kita! Kamu sengaja atau gimana gas? Disana bukan untuk bersenang-senang, tapi bekerja!! Kalau begini kamu bisa lebih lama disana karena kendala proyek kamu yang bertanggung jawab)!!"


Ucap atasannya berapi-api.


Bagas tercekat tak tau harus bicara apa, dan tak tau harus beralasan apa. Pikirannya buntu.


"(Sekarang kamu chek semua email yang masuk, kamu kerjakan semua sampai selesai. Jika masih ada konfirmasi kamu beruntung, itu artinya masih bisa di perbaiki, tapi jika tidak ada, maka kamu harus menunggu sampai besok dan mengulang kembali kerjaan kamu, pergi ke lapangan dan langsung menjumpai yang bersangkutan! Kamu paham)."


Kali ini bicaranya tidak sekasar tadi.


"Ba baik pak."


Bagas terduduk lemas, lemas karena habis beronde-ronde juga lemas karena berita buruk menimpa akibat dosa yang ia perbuat bersama Risah.


Alhasil Bagas mengerjakan sendiri tanpa bantuan Risah, karena jika ia memanggil Risah bukan kerja malah khilaf lagi.


Tak sadar sudah jam dua dini hari, Bagas selesai dengan tugasnya.


Tapi ia melupakan satu hal, yakni mengabari istrinya.


Bersambung..

__ADS_1


Aku up beberapa episode karena aku juga lagi nyantai, jadi aku berbaik hati.


Maka kalian juga harus berbaik hati untuk like, vote, juga koment yah. Terimakasih 🙏🙏


__ADS_2