
"Kamu kenapa? Kamu dari mana malam-malam begini?"
Nada khawatir jelas terdengar dari ibunya.
"Risah, jawab ibu dulu?" Memegang bahu anaknya yang terus menangis.
"Aku dari rumah mas Bagas bu. Aku coba memohon untuk tidak di tuntut, tapi Bagas malah menolak dengan kasar dan langsung menalak aku bu."
"Risah, ibu bilang kan sudah cukup! Cukup, tanggung lah semua perbuatan kamu. Kenapa kamu enggak pernah dengar?"
"Aku enggak sanggup bu, rasanya aku lebih baik mati saja."
"Jaga ucapan kamu, ingat ada janin yang saat ini kamu kandung nak." Bicaranya melembut.
Risah masuk ke kamarnya, meratapi nasibnya. Ia terus menangis hingga terlelap dengan sendirinya.
Di tempat lain.
Apa aku terlalu jahat mengusirnya? Tapi ini semua karena dia. Semua karena kebohongannya. Ah, aku jadi serba salah.
Bagas berperang dengan pikirannya sendiri, rencana yang ia susun agar tidur Kembali setelah mengusir Risah ternyata tidak sesuai rencana. Bagas terjaga sepanjang malam, dengan beribu khayalan di masa depan bersama istri dan anaknya.
...***...
Hari ini Diana bersiap akan pergi ke dokter di daerah desa. Ia juga membawa Alif bersamanya. Rasanya tak mungkin harus terus menyusahkan kakaknya hanya karena periksa kandungan. Ia mencari ojek di sekitar desa untuk pergi ke klinik. Karena kalau jalan juga enggak mungkin, terlalu jauh.
"Na, mau kemana?"
Sapa Rama saat melihat Diana melintas di depan rumahnya.
"Mau periksa."
Periksa??
"Kamu sakit?"
"Emm, enggak. Mau periksa kandungan. Udah jadwalnya buat periksa."
"Oh, iya kamu hamil. Ya udah biar aku antar ya, kasian kamu kalau naik ojek harus jalan ke simpang lagi, jauh na."
"Oh enggak usah bang, makasih."
Terus berjalan menggandeng Alif.
Diana sampai di persimpangan, dimana biasa ada ojek yang bertengger menunggu sewanya.
Namun, kali ini mungkin Diana yang sial, tak ada satu pun tukang ojek yang mangkal.
Lah kenapa enggak ada ojek? Kok bisa sih, enggak biasanya. Satupun enggak ada malah.
Batinnya, sambil melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau memang ini benar tidak ada ojek.
"Bunda kenapa?"
"Ah, enggak sayang, ojeknya enggak ada. Kita tunggu disini sebentar ya? Siapa tau Abang ojeknya lagi pulang ke rumah."
"Iya bunda."
Mereka duduk di pondok yang biasa para ojek berkumpul. Hampir satu jam lamanya mereka menunggu tetapi memang nihil, tak ada satupun ojek. Alif yang mulai rewel karena merasa bosan.
"Bunda, pulang ayok. Alif udah capek di sini."
"Alif, tunggu ya nak. Maaf ya karena bunda Alif capek."
Mendekat kan anaknya untuk di peluk.
"Kenapa belum pergi na?"
Suara yang tak asing di telinga Diana. Ia langsung melihat ke asal suara.
"Iya, ojeknya lagi makan di rumah mungkin."
Diana berusaha tidak menggubris lelaki di hadapannya ini. Ternyata itu sia-sia, Rama malah turun dari motornya dan berjalan mendekat.
"Kan udah aku bilang, udah ayo aku antar. Kamu enggak kasian apa lihat Alif?"
Alif yang merasa di sebut namanya pun langsung mengangguk. Padahal ia juga tidak tau apa maksudnya.
Melirik ke anaknya dan menghembuskan nafas.
"Alif, besok aja kita perginya ya nak."
"Iya bunda. Kita pulang sekarang ya bunda?"
"Iya sayang."
Berjalan akan kembali ke rumah.
__ADS_1
"Na? Ya udah ayo sama aku aja. Kamu jangan egois lah, kasian Alif. Kasian juga dengan anak yang kamu kandung. Jauh dari ayahnya aja udah buat anak kamu sedih. Udah anggap aja aku tukang ojek, mari aku antar."
Benar juga katanya. Lagian dia juga bisa sekalian jagain Alif kalau aku di periksa.
Diana berhenti dan menimang tawaran Rama.
Yes, ayo mau, Rama.
"Ya udah. Tapi ini enggak apa kan? Aku takut bang, jika orang yang melihat akan berpikir negatif, seperti kemarin."
"Iya tenang. Ayo naik."
Rama memutar motornya dan siap untuk berangkat. Alif naik di depan, sementara Diana duduk miring.
"Pegangan nanti jatuh."
Sambil menyunggingkan seulas senyum.
Diana tidak menjawabnya, di sepanjang jalan hanya diam. Rama membawa motor nya dengan pelan. Dan beberapa menit sudah sampai tujuan. Diana merasa canggung saat ini, karena bukan suami yang mengantar melainkan orang lain, yang kenyataannya adalah saudara tiri suaminya.
"Makasih ya. Oh iya bang, aku titip Alif dulu bisa kan?"
"Bisa, ya udah kamu masuk aja sana, periksa. Semoga kamu dan anak di kandungan mu sehat."
Diana hanya mengangguk. Lalu berjalan masuk ke klinik.
Di dalam Diana tidak mengantri, karena hari ini tidak terlalu ramai. Hingga ia siap diperiksa, dokter menjelaskan keadaannya saat ini.
"Sejauh ini baik ya bu, detak jantung bayi juga normal. Cuma tensi ibu yang rendah. Apa sekarang sering mual dan memuntahkan makanan yang baru saja di makan?"
"Hem, iya dok. Padahal sebelumnya baik-baik aja."
Dokter tersenyum.
"Wajar bu, namanya juga hamil. Tapi saya sarankan jangan terlalu banyak pikiran ya. Itu akan mempengaruhi kesehatan ibu dan juga janinnya."
Memberi obat berupa vitamin yang harus Diana minum.
"Ibu datang sendiri?"
"Enggak kok bu. Itu sama anak."
Menunjuk ke arah luar. Dokter melihat ke arah luar dimana titik arah Diana menunjuk.
"Oh, kenapa suami ibu enggak di suru ngantar sampai ke dalam?"
Aku bingung harus jawab apa. Tadi kata Rama kan anggap aja dia ojek, enggak salah juga aku kan. Batin Diana.
"Oh ya udah. Jangan lupa di minum vitaminnya ya bu. Kalau ada masalah seperti kram, segera datang kesini."
"Baik dokter terima kasih."
Berjalan keluar ruangan.
Dokter menatap dan lalu mengintip dari jendela, karena penasaran.
Ojek katanya. Tapi kenapa tampan, dan motornya bagus. Tidak ada tampang sedikit pun kalau ojek.
Ternyata dokter itu masih menganggap serius ucapan Diana.
"Sudah? Bagaimana?"
"Alhamdulillah janinnya sehat. Cuma tensi aku aja yang rendah bang."
"Kamu harus jaga lah kesehatan kamu. Jangan terlalu banyak pikiran, enggak bagus."
Huh, kenapa aku harus mengatakan apa yang di jelaskan dokter padanya, Diana.
Rama kembali melajukan motornya setelah Diana menaiki motor. Posisi masih sama seperti mereka pergi tadi. Namun, karena jalanan desa yang memang masih jelek, Diana terpaksa berpegangan dengan Rama. Hal itu semakin membuat Diana canggung.
"Na, aku mampir beli nasi di warung Mak Ros dulu ya? Dari pagi belum makan, enggak masak."
"Oh iya, silahkan. Nanti dari warung aku pulang jalan kaki aja bang."
"Jangan ada aja kamu."
Rama pun berbelok ke warung.
Sebenarnya Diana sangat malas dan ingin menolak, tapi sangat tidak sopan rasanya sudah di tolong ngatur pula. Dan yang di takutkan benar, warung tampak ramai. Semua serentak menatap kedatangan mereka dengan penuh selidik.
Diana menghela nafas berat, dan ia hanya menunggu di motor. Ngapain juga ikut Rama ke dalam warung, pikirnya.
Ketika Rama masuk ke warung.
"Siapa itu ma?"
Tanya salah satu ibu-ibu yang makan di warung. Makan entah hanya duduk dan bergosip ria.
__ADS_1
"Oh tetangga bu."
"Lah kok bisa sama kamu perginya? Apa suaminya enggak marah?"
"Enggak, suaminya lagi enggak ada. Itu menantu bu Ramini, yang dulu tinggal disini, ibu masih ingatkan?"
"Ramini? Maksud kamu, ibunya Andre dan Bagas?"
Kali ini Mak Ros yang menjawab. Ia bahkan sangat terkejut.
"Iya Mak." jawab Rama santai.
"Kenapa bisa kenal kamu?"
"Iya namanya juga tetangga mak, ya pasti kenal lah."
"Jangan kamu dekati istri orang. Ingat, walaupun hanya mengantar jangan ambil kesempatan." Ucapan mak Ros yang sangat serius, namun tidak di tanggapi oleh Rama.
"Ini 12ribu." Menyerahkan bungkusan nasi yang di pesan oleh Rama.
Nada bicaranya tidak seramah biasanya.
"Duluan bu." Ucapnya sopan kepada ibu-ibu yang sempat bertanya tadi.
Setelah Rama melangkah pergi, sudah waktunya untuk ibu ibu tersebut mulai bergosip.
"Eh mak, apa pantas kalau masih ada suami pergi dengan laki-laki lain. Apa suaminya enggak marah, lagian ya gimana sih menantu bu Ramini itu. Kalau itu menantuku udah aku lalap kali."
Yang di ajak berbicara hanya diam.
Bagaimana bisa? Ternyata Diana adalah menantu Ramini sahabat lamaku. Kenapa, bisa. Apa Diana tidak tau cerita masa lalu mertuanya. Dan Rama, ya ampun. Aku sangat tidak menyangka, dunia sangat sempit ternyata.
"Woi mak Ros. Di ajak bicara melamun terus."
"Eh iya, udah sih biarin aja enggak usah urusin hidup orang. Lagian ya kalian kesini bukannya pesan makanan malah dari tadi menceritakan orang lain saja."
Perkataan mak Ros mampu membungkam mulut ibu-ibu yang duduk di sana.
"Sudah?"
Tanya Diana, yang merasa risih sejak tadi pertama datang sudah di lihat oleh banyak pasang mata.
"Udah, aku antar sampai ke rumah ya?"
"Enggak usah bang. Turun aja sekalian di depan rumah abang, biar aku sama Alif jalan aja. Udah cukup lah nyusahinya."
"Oh ya udah kalau begitu."
Diana turun setelah motor berhenti tepat di depan rumah Rama. Diana juga kembali mengucapkan terima kasih, begitu juga dengan Alif.
Saat kembali ke rumah, Diana langsung mengajak Alif beristirahat, karena tadi sebelum pergi ia sudah makan.
Sore hari Diana dan Alif duduk di teras rumah. Diana saja sih, kalau Alif sibuk sendiri dengan mainan barunya yang di belikan Anton kemarin.
Aku telfon kakak aja deh, mau kasih tau hasil periksa hari ini.
"Alif jangan kemana-mana ya nak. Bunda mau ambil HP ke dalam, mau nelfon bude."
"Iya bunda, Alif main disini aja kok."
Diana kembali duduk setelah mengambil HP jadul miliknya, dan siap akan menelfon.
"Hallo kak, Assalamualaikum."
"(Walaikumsalam. Iya na?)"
Tanpa aba-aba Diana langsung menceritakan hasil periksa nya hari ini. Dengan nada sedih di ujung kalimat.
"Sebenarnya ana sangat ingin periksa di temani suami kak."
"(Sabar ya na, sebentar lagi proses penuntutan Bagas akan berjalan. Semuanya sebenarnya tergantung kamu, kalau hari ini juga kamu mau bertemu Bagas, bukan kah dia siap jemput kamu?)"
"Tapi kak, Diana masih ragu. Memangnya kapan akan dilakukan proses hukumnya?"
"(Kata mas mu sih, Minggu depan)."
"Semoga lancar ya kak. Ana berdoa semoga semua akan berujung dengan baik."
"(Amin, Alif mana na?)"
"Itu lagi main kak."
Mereka pun lanjut berbincang dengan lama, entah apa saja yang sudah mereka bahas. Dan telfon berakhir saat ayat di masjid sudah terdengar, menandakan waktu Maghrib tiba.
Bersambung..
Ada yang mau double up enggak? Bakal aku kasih double up dan crazy up. Tapi mohon, mohon sekali, like nya, biar semangat nulisnya 🙏🙏
__ADS_1