MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 15 Sekarepmu


__ADS_3

"Mas," 


"Kenapa?" tanya Malik sambil terus membopong tubuh Sabila menuju kamarnya. 


"Kita bisa melakukannya nanti, sekarang kita pergi ke rumah bapak ya? Aku mohon mas," ucap Sabila membuat Malik langsung menghentikan langkahnya dan langsung menatap Sabila. "Jangan menatapku begitu mas. Kita juga harus tahu yang sebenarnya, apa yang terjadi pada bapak dan juga ibu. Seperti apa yang bibi Veronica katakan tadi," 


"Jadi kita menundanya lagi?" tanya Malik membuat Sabila langsung mengangguk. "Oh Sabila baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi setelah pulang dari rumah bapak, jangan harap kamu bisa turun dari tempat tidur," ujar Malik yang langsung mencium singkat bibir Sabila dan menurunkan Sabila. 


*


Malik langsung menghentikan laju mobilnya saat sudah berada di depan pintu masuk perumahan sederhana. Dimana Malik dan juga Sabila memutuskan untuk mengunjungi rumah orangtuanya. Setelah keduanya mendapat kabar yang kurang mengenakan dari Veronica. 


Malik langsung membuka kaca mobilnya saat pak Cul membuka portal agar mobil Malik bisa masuk kedalam perumahan tersebut. 


"Assalamualaikum bang Malik dan juga neng Sabila. Lama tidak berjumpa," sapa pak Cul dengan ramah setelah membuka portal. 


"Waalaikumussalam pak Cul dan pak Lun," Malik menjawab salam sambil tersenyum ramah kepada pak Cul dan pak Lun yang sedang duduk sambil menyesap kopi di dalam pos security perumahan sederhana tersebut. 


Pak Lun langsung berlari dari pos security menuju ke arah Malik yang menyodorkan berapa uang lembaran seratus ribuan kepada pak Cul. 


"Terima kasih, bang Malik dan juga neng Sabila. Mudah-mudahan rejeki kalian diperbanyak, dan segera mendapat momongan," ucap pak Lun saat dirinya mengambil alih uang yang diberikan Malik dari tangan pak Cul kembarannya. Membuat Malik langsung tersenyum sambil melajukan mobil yang dikendarainya menuju rumah lamanya. 

__ADS_1


"Dasar mata duitan, tadi di suruh buka portal saja tidak mau. Giliran ada uang mata langsung ijo," ucap pak Cul sambil memukul kepala pak Lun dengan tongkat T yang berada ditangannya. 


"Jelas dong. Uang gitu loh, kalau tidak ada uang bisa tidak hidup. Makanya tuh kalau ada orang bilang. Cinta lebih penting itu bohong. Yang mengatakan itu orang yang tidak punya otak. Kalau tidak, pas lagi pembagian otak mereka tidak hadir. Mana bisa cinta lebih penting. Memang beli beras pake cinta dimana-mana beli beras menggunakan uang. Benar tidak Cul," ucap pak Lun sambil memasukkan uang kedalam kantong celananya. 


"Sakarepmu, uang jangan ditilep sendiri bagi dua lah?" 


"Enak saja uang kamu lebih banyak dibanding aku. Setiap bulan kamu dapat jatah tuh dari dek Varo," ucap pak Lun yang langsung pergi meninggalkan pak Cul. 


"Lun kamu mau kemana. Sekarang giliran kamu yang jaga," 


"Aku mau bayar utang dulu," ujar pak Lun membuat pak Cul hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian saudara kembarannya. 


Malik langsung membuka pintu mobil untuk Sabila keluar, saat keduanya sudah sampai di rumah Malik. 


"Malik menikah saja dengan anakku dan tinggalkan wanita mandul itu, menikah itu untuk memiliki keturunan. Buat apa menikah kalau punya pasangan mandul," sambung bu Mirna pasangan duo julid bu Susi. 


"Astagfirullah…"


"Mas," ucap Sabila sambil menahan tangan Malik saat Malik ingin menghampiri bu Susi dan juga bu Mirna. 


"Tapi ini sudah keterlaluan Sabila," 

__ADS_1


"Biarkan saja mas. Lebih baik kita masuk kedalam rumah," ujar Sabila sambil menarik tangan Malik untuk masuk kedalam rumah. 


"Dasar wanita mandul. Malik ceraikan saja wanita mandul seperti dia. Dan menikah dengan anakku," ujar bu Mirna tapi tidak dihiraukan oleh Malik dan juga Sabila yang langsung masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam. 


"Waalaikumussalam," jawab pak Sofyan yang baru keluar dari arah dapur. "Malik, Sabila kenapa kalian tidak memberi tahu bapak kalau kalian ingin berkunjung?" tanya pak Sofyan sambil tersenyum saat Malik dan juga Sabila bergantian bersalaman dengan pak Sofyan. "Ayo silahkan duduk," ucap pak Sofyan yang berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Malik dan juga Sabila dari belakang. 


"Bapak jadi terkejut. Kalian datang dengan tiba-tiba dan tidak memberitahu bapak kalau kalian akan datang berkunjung. Ada hal penting apa hingga kalian datang tidak memberi tahu bapak?" tanya pak Sofyan kepada Malik yang masih sibuk mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru ruangan. 


"Malik?"


"Oh ya pak. Maaf," ucap Malik yang sekarang sudah fokus menatap pak Sofyan saat dirinya tidak menemukan Rosa ibunya berada di rumahnya. "Ibu kemana pak?" tanya Malik tapi tidak dihiraukan oleh pak Sofyan. "Pak apa benar yang bibi Veronica katakan kalau ayah mengembalikan ibu kepada nenek yang berada di Dubai?" tanya Malik lagi membuat pak Sofyan langsung menatap kearah Malik. 


"Benar nak," 


"Apa bapak menceraikan ibu?" 


*


*


*

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2