MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 61 Cukup


__ADS_3

Pak Sofyan langsung melepas pelukan Malik dan beralih memegang kedua bahu Malik. 


"Kenapa kamu menangis nak?" tanya pak Sofyan penasaran begitupun yang lainnya yang juga penasaran. 


"Bagaimana aku tidak menangis pak, aku sangat bahagia mempunyai keturunan yang selama ini aku inginkan, dan tadi saat aku mengadzani anakku dia tertawa sambil memegang jariku pak," jelas Malik yang masih terus menangis bahagia. 


Plakk


Varo memukul kepala Malik dengan kencang membuat Malik langsung menghentikan tangisnya dan langsung menatap ke arah Varo yang yang sedang ber tolak pinggang. 


Plakk


Varo memukul kepala Malik untuk ke dua kalinya. 


"Dasar kau wedus, kami bagitu kuatir melihat kamu menangis seperti tadi, harusnya kamu mengekspresikan nya dengan loncat-loncat salto atau teriak-teriak ditengah jalanan. Jangan membuat orang kuatir,"


Malik langsung menendang tulang kering Varo membuat Varo mengaduh kesakitan. "Wedus kamu menyakiti kakiku,"

__ADS_1


"Kamu juga tadi menyakiti kepalaku kalau aku tadi gagar otak gimana? Dasar kambing, dan kamu bilang aku disuruh teriak-teriak di tengah jalan yang ada nanti aku modar, dasar kambing,"


"Stop! Kalian itu satu spesies jadi diamlah," ucap Veronica untuk melerai keduanya yang terus saja berdebat tidak menyadari kalau Sabila dan juga bayinya sudah keluar dari ruang persalinan menuju ruang perawatan VVIP. Malik yang baru menyadari hal itu langsung berlari menuju ruang perawatan Sabila hingga dirinya terjatuh membuat semua orang yang berada di sekelilingnya langsung tertawa tidak terkecuali dengan Varo yang langsung tertawa kencang. 


"Oh mommy sakit! Apa yang kamu lakukan kamu bisa menyakiti kakiku mommy," ucap Varo saat Berlian menginjak kakinya. 


"Ini di rumah sakit bukan panggung pertunjukkan komedi daddy Varo,"


"Iya mommy, maaf kan aku," ujar Varo yang langsung merangkul pundak Berlian dan mengikuti Veronica, Iskandar dan juga pak Sofyan ke ruang perawatan Sabila. 


Kemudian Malik beralih menciumi seluruh wajah Sabila dengan air mata yang membasahi pipi mengingat kembali perjuangan Sabila melahirkan anaknya yang membuat Sabila langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri setelah melahirkan. 


"Mas Malik sudah," ujar Sabila sambil memegangi wajah Malik dan menghapus air mata Malik yang masih membasahi pipi. "Kenapa mas Malik menangis malu dengan anak kita mas," ujar Sabila lagi sambil tersenyum ke arah Malik. 


"Bagaimana aku tidak menangis melihat perjuanganmu melahirkan anak kita Sabila, aku tidak ingin melihatmu melahirkan lagi, cukup anak kita satu saja," ujar Malik yang langsung mel*mat bibir Sabila tidak menyadari pak Sofyan dan juga pasukannya sudah masuk kedalam ruang perawatan Sabila. 


"Wedus ingat puasa dulu, jangan sampai kamu mengulangi lagi main arisan di kamar mandi," sambung Varo yang juga sudah berada di ruang perawatan Sabila membuat Malik langsung melepas tautan bibirnya. 

__ADS_1


"Pengacau datang kembali sial," gerutu Malik membuat Sabila langsung menggenggam tangan Malik agar tidak meladeni perkataan Varo yang pasti tidak akan ada habisnya. 


Hingga semuanya mendekat ke arah Sabila dan juga bayi yang baru dilahirkan dan memberi selamat tidak terkecuali Berlian yang begitu antusias mengingat kembali bagaimana perjuangan Sabila yang penuh dengan perjuangan untuk mendapatkan buah hati. 


"Aku orang pertama yang akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu sayang," ujar Berlian sambil memeluk tubuh Sabila. 


"Terima kasih sahabatku," ucap Sabila setelah Berlian melepas pelukannya beralih menggenggam kedua tangan Berlian sambil meneteskan air mata dan Berlian langsung menghapus air mata Sabila tahu apa yang sedang Sabila rasakan. 


"Aku tahu bibi Leli akan bahagia melihat cucunya, jangan kau menangisi bibi Leli Sabila, dia sudah tenang di atas sana," nasehat Berlian yang langsung memeluk tubuh Sabila. Hingga pintu ruang perawatan Sabila dibuka dan semua yang berada di dalam ruangan langsung menatap ke arah pintu yang baru saja dibuka. 


*


*


*


Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2