MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 07 Tidak Ya Tidak


__ADS_3

"Baiklah bu, apa yang ingin ibu bicarakan, kami akan mendengarnya, iya kan mas?" tanya Sabila setelah semuanya selesai menghabiskan makanannya. 


"Tapi jangan bicara yang aneh-aneh bu," sambung Malik sambil menggenggam tangan Sabila, membuat Safira yang melihat nya hanya bisa tersenyum sinis. 


"Ibu ingin Safira tinggal dirumah kalian," ucap Rosa membuat Malik langsung menatap tajam kearah ibunya. 


"Bu…"


"Kasihan Safira kalo harus tinggal di hotel, tinggal dirumah ibu juga tidak mungkin, melihat rumah ibu yang kecil, kalau dirumah kalian kan luas jadi tidak masalah bukan?" tanya Rosa memotong perkataan Malik. "Menantu mamah yang baik hati, ijinkan Safira tinggal dirumah kalian ya, sebelum dia pulang ke dubai," ucap Rosa sambil tersenyum ke arah Sabila. 


"Tidak bisa dan tidak akan pernah aku ijinkan, Safira tinggal dirumahku," sambung Malik penuh dengan penekanan. 


"Mas…" 


"Sabila, jangan bicara lagi," ucap Malik yang langsung menarik tangan Sabila untuk meninggalkan ruang makan, menuju kamarnya. 


"Bu bagaimana ini? Rencana kita pasti akan gagal," ucap Safira setelah Malik dan juga Sabila telah pergi. 


"Kamu tenang saja, ibu punya cara lain dan ibu pastikan kamu akan segera menikah dengan Malik," ucap Rosa sambil tersenyum, tahu apa yang akan dirinya lakukan. 


*


"Mas," 


"Sabila, jangan dibahas lagi, kalau aku bilang tidak, ya tidak, kamu mengerti!" ucap Malik ketika keduanya sudah berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Tapi mas…" ucapan Sabila berhenti saat Malik mel*mat bibir Sabila. 


"Diam!" ucap Malik ketika sudah melepas tautan bibirnya, tahu kalau Sabila ingin mengatakan sesuatu. "Sekarang kita mandi, katanya kamu ingin pergi mengunjungi panti asuhan," 


"Baiklah," ujar Sabila membuat Malik langsung menarik tangan Sabila menuju kamar mandi. 


"Mas," 


"Apa lagi?" 


"Apa mas Malik mau mandi bersama?" 


"Kenapa kamu masih Bertanya, setiap hari juga kita mandi bersama?" 


"tapi aku sedang datang bulan mas?" 


"Takut mas Malik jijik gitu melihat…"


"Sudah jangan banyak bicara, ayo masuk, aku suamimu, untuk apa aku jijik, melihat darah yang keluar dari tubuhmu, kalau kamu izinkan aku juga bisa membersihkan darah itu," ujar Malik yang langsung menarik tangan Sabila untuk masuk kedalam kamar mandi.


Rosa langsung menghampiri Malik dan juga Sabila saat keduanya baru keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi. 


" Sayang kalian ingin kemana?" tanya Rosa dengan ramah. 


" Seperti biasa bu, kami ingin mengunjungi panti asuhan," jawab Sabila sambil tersenyum manis ke arah ibu mertuanya. 

__ADS_1


"Ibu ingin menginap disini boleh tidak? Soalnya bapak kamu sedang pergi keluar kota," 


"Boleh, tapi tidak dengan Safira," ucap Malik yang langsung pergi meninggalkan Rosa, membuat Rosa langsung tersenyum senang. 


*


Sesampainya di panti asuhan Malik dan juga Sabila langsung disambut oleh pemilik panti asuhan dengan ramah, karena keduanya adalah salah satu donatur tetap di panti asuhan tersebut, yang tidak sedikit mengeluarkan uang untuk kebutuhan seluruh penghuni panti asuhan yang tidak beruntung. 


"Selamat datang bu Sabila dan juga pak Malik, suatu kehormatan kalian bisa menyempatkan diri datang ke panti asuhan ini," ucap ibu Lina pemilik panti asuhan tersebut. "Kebetulan sekali hari ini saya kedatangan dua pasangan, donatur tetap di panti asuhan ini, mari masuk pak, bu," ujar bu Lina mempersilahkan Sabila dan juga Malik untuk masuk ke dalam panti asuhan tersebut. 


Mata Sabila langsung tertuju pada box bayi, tidak jauh dari tempatnya berdiri, membuat Sabila langsung menghampirinya sambil menarik tangan Malik. 


" Mas lihat lucu sekali bayi ini?" ujar Sabila ketika sudah menghampiri box tersebut yang terdapat bayi mungil didalamnya. Membuat Sabila langsung menggendong bayi tersebut. 


"Bayi mungil yang malang ini, baru ditemukan oleh penjaga panti asuhan semalam di teras depan," jelas ibu Lina menerangkan kepada Sabila.


"Kasihan sekali kamu sayang," ucap Sabila sambil mengelus-elus pipi bayi mungil tersebut dengan jarinya, begitupun dengan Malik yang juga ikut mengelus-elus pipi bayi tersebut. 


"Mas," ucap Sabila membuat Malik langsung menatap ke arah Sabila yang juga sedang menatapnya. "Apa boleh aku…"


"Sabila!" teriak seseorang membuat Sabila tidak jadi meneruskan perkataannya dan Sabila langsung menatap arah suara tersebut begitupun juga Malik yang juga penasaran. 


*


*

__ADS_1


*


Bersambung..........


__ADS_2