
"Apa yang kamu bicarakan nak, itu tidak benar, karena Allah membenci sebuah perpisahan di dalam rumah tangga. Bapak hanya ingin ibu kalian intropeksi diri dan menjauhkan dari kalian. Bapak tidak ingin kejadian seminggu yang lalu terjadi kembali," jelas Sofyan sambil tersenyum ke arah Malik dan juga Sabila.
"Bapak sedang tidak berbohong dan menyembunyikan sesuatu kan pak?"
"Untuk apa nak, tidak ada untungnya bapak melakukan kebohongan, sudahlah jangan dibahas lagi. Kalian menginap lah disini sudah lama kalian tidak menginap. Agar bapak tidak sendiri,"
"Maaf pak. Sepertinya kami tidak bisa menginap disini, hampir semua mulut penghuni komplek disini mengandung bunga pasir, kenapa bapak masih saja betah tinggal di komplek laknat seperti ini," ujar Malik membuat pak Sofyan langsung tertawa kencang.
"Astaghfirullah nak, kamu tidak boleh berkata seperti itu, itulah kenapa bapak tinggal disini. Karena bapak ingin mengubah kebiasaan mereka nak,"
"Percuma pak. Bapak sudah lama tinggal disini tapi mereka masih tetap sama, tidak ada perubahan,"
"Setiap manusia memiliki sifat dan perilaku yang berbeda-beda, ada yang berubahnya cepat dan juga sebaliknya,"
"Kalau menurut aku mendingan bapak pulang ke dubai. Asal bapak tahu kakek sangat merindukan bapak,"
"Kemarin bapak sudah bertemu dengan kakek kamu. Tapi kalau untuk kembali kesana. Bapak belum bisa. Bukannya bapak tidak merindukan kakek. Tapi bapak dan juga Iskandar ingin membuktikan kalau kita bisa memulai kehidupan tanpa campur tangan dan juga harta dari kakek kamu. Walaupun Iskandar lebih dulu menjadi orang yang sangat sukses di dunia. Tapi bapak tidak pernah iri, karena bapak ingin sukses bukan di dunia tapi diakhirat nak," jelas pak Sofyan membuat Malik hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh bapaknya.
Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Sofyan selama ini Sofyan maupun Iskandar tidak pernah ingin menikmati harta dari orang tuanya. Meskipun Malik tidak tahu persisnya kenapa kedua kakak beradik tersebut tidak ingin menikmati sepeserpun harta dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Tapi kamu sebagai cucu, harus patuh kepada kakek kamu dan jalankan perusahaan kakek kamu yang sudah dilimpahkan kepadamu dengan benar," nasihat Sofyan kepada Malik membuat Malik hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar semua yang dikatakan oleh Sofyan.
Hari sudah petang saat Malik dan juga Sabila memutuskan untuk pulang ke rumahnya saat keduanya tidak ingin menginap, membuat pak Sofyan tidak mempermasalahkannya.
Disepanjang perjalanan kembali menuju rumahnya tangan Malik dan juga Sabila saling bertautan dan sesekali Malik mencium punggung tangan istrinya.
Hingga Malik menghentikan mobilnya di tepi jalanan dan Malik langsung keluar dari dalam mobil. Diikuti Sabila yang juga ikut turun dari mobil sambil mengejar Malik yang menghampiri dua orang yang sedang berdebat di pinggir jalanan.
"Hijo! Jangan lakukan itu," ucap Malik sambil menahan tangan Hijo yang akan memukul seorang wanita membuat wanita tersebut langsung pergi menaiki mobilnya dan melajukannya dengan kencang.
"Pak Malik, bu Sabila," ucap Hijo saat sudah menyadari kedatangan Malik dan juga Sabila.
"Apa yang kamu lakukan ini tidak benar,"
"Maaf pak, aku sudah tidak bisa menahan emosi, saat tahu anakku yang baru dilahirkan dibuang oleh ibunya sendiri?"
"Apa maksud kamu Hijo?" tanya Malik penasaran tidak tahu apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya.
"Tadi istriku. Lebih tepatnya mantan istriku pak, saat dia meminta bercerai denganku dan pergi dengan laki-laki lain. Walaupun aku sempat menolak menceraikannya karena dia sedang mengandung anakku," jelas Hijo dengan frustasi.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, bukan dengan kekerasan menghadapi masalah agar cepat selesai," ucap Malik sambil menepuk punggung Hijo.
"Aku tahu pak, aku tadi hanya terbawa emosi. Maaf pak Malik, untuk satu minggu kedepan aku izin tidak masuk kerja, karena aku harus mencari anakku,"
"Tidak masalah carilah anakmu dan selesaikan semuanya dengan baik-baik," nasehat Malik membuat Hijo langsung menganggukan kepalanya, dan Hijo langsung naik ke dalam mobilnya dan melajukannya, setelah sebelumnya Hijo berpamitan kepada Malik dan juga Sabila yang sedari tadi menyimak pembicaraan Malik dan juga Hijo.
"Astagfirullah hal azim. Ada seorang ibu yang tega membuang anaknya sendiri. Aku tidak habis pikir, terbuat dari apa hati ibu yang semacam itu," ucap Sabila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah kita masuk lagi kedalam mobil,"
"Tunggu mas,"
*
*
*
Bersambung................
__ADS_1