
"Sudahlah nak, biar polisi yang mengurus itu, kamu dan juga Sabila fokus saja pada anak kalian," ucap singkat Rosa ketika menghampiri Malik dan juga Sabila. "Asal kalian tahu kejahatan bagaikan bangkai yang suatu saat pasti akan tercium baunya, dan biarkan polisi yang menangani itu semua," ucap Rosa lagi yang langsung mendapat pelukan dari Malik dan juga Sabila, yang mendapati ibunya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Baiklah lepaskan pelukan kalian, ibu tidak bisa bernafas," ucap Rosa yang langsung mengajak Malik dan juga Sabila untuk menyantap sarapannya.
Hingga terdengar suara ketukan pintu membuat Rosa beranjak dari duduknya untuk membuka pintu, tidak mengijinkan Sabila saat Sabila yang akan membuka pintu.
"Assalamualaikum," ujar Berlian yang langsung menautkan kedua alisnya saat mendapati Rosa yang membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam, Berlian silahkan masuk," ucap ramah Rosa membuat Berlian merasa heran.
"Terima kasih," ucap singkat Berlian yang langsung menghampiri Sabila yang kebetulan sudah selesai menyantap sarapan nya dan Berlian memeluk erat tubuh Sabila.
"Maafkan aku, yang baru sempat menemuimu, aku turut berduka cita atas kepergian bibi,"
"Tidak apa, Varo sudah memberi tahu kalau kamu sedang sakit, aku sudah ikhlas melepas kepergian ibu," ujar Sabila melepas pelukan Berlian.
Berlian langsung menarik tangan Sabila untuk masuk kedalam kamar Sabila yang sering Berlian masuki saat keduanya masih lajang. Berlian langsung menutup pintu kamar Sabila ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Sabila. Kemudian Berlian menarik tangan Sabila untuk duduk diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Sabila kenapa nenek lampir berada disini, eh maksud aku bibi Rosa berada disini, jangan-jangan dia ingin berbuat jahat kepadamu,"
"Apa yang kamu katakan Berlian, ibu sudah berubah. Ibu juga sudah meminta maaf kepadaku, dan ibu juga selalu memanjakan aku, apalagi sekarang aku sedang mengandung cucunya," ucap Sabila sambil tersenyum membayangkan perlakuan Rosa kepadanya akhir-akhir ini yang begitu baik padanya.
"Biasanya orang yang akan berbuat jahat kepada kita, awalnya baik terhadap kita Sabila, kamu jangan percaya dengan nenek lampir diluar sana,"
"Berlian, Berpikirlah positif dan kita akan mendapat hal yang positif juga,"
"Terserah kepadamu aku hanya mengingatkan, kalau memang bibi Rosa sudah berubah baguslah,?"
"Kamu kesini dengan siapa?"
*
Satu bulan kemudian.
Malik yang baru turun dari kamarnya langsung tersenyum mendapati pemandangan yang begitu menyejukan hatinya yang selalu dirinya lihat setiap hari selama satu bulan ini, saat Sabila dan juga ibunya sedang bercengkrama dengan tawa dari keduanya yang terdengar damai di telinga Malik. Saat Rosa memutuskan untuk tinggal dirumah Malik. Tapi dibalik itu Malik masih belum tenang saat dirinya belum menemukan siapa yang telah mencelakai ibu mertuanya. Hari yang menjadi target utama Malik pun sulit untuk ditemukan apalagi dengan tidak adanya bukti yang akurat.
__ADS_1
Malik langsung berjalan menghampiri Sabila dan juga ibunya yang berada di ruang tamu yang sedang menunggu Malik.
"Baiklah kalian sudah siap?" tanya Malik membuat Sabila dan juga Rosa langsung menggandeng lengan Malik di sebelah kanan dan juga kirinya. Saat hari ini adalah hari dimana Sabila akan memeriksakan kandungan ke dokter Fitri saat kandungan Sabila sudah memasuki usia enam bulan.
*
Senyum sumringah keluar dari mulut ketiganya saat keluar dari ruangan dokter Fitri, saat bayi yang berada di kandungan Sabila sangat sehat begitupun dengan Sabila.
Dan ketiganya saling berebut foto hasil USG yang memperlihatkan bayi yang berada dikandungan Sabila yang berjenis kelamin laki-laki.
Malik langsung menghentikan langkahnya begitupun dengan Sabila saat mendapati seseorang yang tidak asing bagi keduanya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung..............