MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 23 Segera Membaik


__ADS_3

"Oww bu perutku sakit," ucap Sabila membuat ibu Leli langsung membantu Sabila untuk naik ke atas ranjangnya kembali dan ibu Leli langsung menekan bel yang berada di tembok yang berada di sebelah kanan ranjang perawatan Sabila untuk memanggil dokter Fitri. 


"Ibu Sabila, ibu Sabila harus mengontrol emosi ibu, karena itu tidak baik untuk kesehatan ibu dan juga calon bayi ibu. Saya mohon ibu Sabila tetap berada diatas ranjang dan jangan sesekali turun dari atas ranjang kecuali ibu Sabila ingin ke kamar mandi, akan lebih baik ibu buang air kecil ataupun besar juga diatas ranjang dan nanti suster yang akan membantu ibu Sabila," ucap dokter Fitri setelah dirinya memeriksa Sabila. "Apa ada yang sedang ibu pikirkan?" 


"Tidak dok, terima kasih," bohong Sabila membuat dokter Fitri langsung keluar dari ruang perawatan Sabila. 


"Nak…" 


"Bu perasaanku masih tidak enak aku takut terjadi sesuatu kepada mas Malik bu," ucap Sabila yang begitu cemas sambil menghubungi ponsel Malik berulang kali. Tapi tidak tersambung dengan ponsel Malik. 


"Tuh kan bu, mas Malik tidak bisa dihubungi," 


"Nak tenangkan dirimu siapa tahu ponsel Malik sedang kehabisan bateri. Kamu tidak boleh berfikir negatif ketika suami kamu sedang di luar rumah," 


"Tapi bu…" 


"Nak percayalah, Malik suami kamu baik-baik," ucap ibu Leli memotong perkataan Sabila untuk menenangkan anaknya. 


Jam menunjukan pukul dua belas malam membuat Sabila tidak bisa memejamkan matanya dan telapak tangan berkeringat karena begitu kuatir, pasalnya Malik belum juga kembali dan Malik tidak memberi kabar kepadanya. Dan beberapa kali Sabila menghubungi Malik dan tetap saja ponsel Malik tidak bisa di hubungi. Air mata Sabila tidak bisa ditahan lagi dan jatuh membasahi kedua pipinya. 


"Ya Allah dimana mas Malik? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku takut terjadi sesuatu kepada mas Malik. Ya Allah lindungi mas Malik dimanapun dia berada," ucap Sabila sambil menghapus air matanya. Dan Sabila langsung menatap kearah pintu saat ada seseorang yang membuka pintu ruang perawatan Sabila. 

__ADS_1


Wajah muram Sabila langsung terlihat jelas saat mengetahui bahwa yang datang bukanlah Malik.


"Hijo dimana suamiku? Kenapa kamu datang tengah malam begini? Apa mas Malik baik-baik saja? Kenapa dia tidak menemuiku? Hijo jawab pertanyaanku, dimana mas Malik? Kenapa kamu diam saja," ucap Sabila bertubi-tubi melayangkan pertanyaan kepada Hijo membuat Hijo hanya tersenyum manis ke arah Sabila.


"Maaf bu Sabila. Aku hanya mendapat pesan dari pak Malik. Agar ibu Sabila tidak perlu kuatir. Pak Malik baik-baik saja…"


"Kalau mas Malik baik-baik saja kenapa dia tidak menemuiku. Hijo katakan yang sejujurnya apa yang terjadi dengan mas Malik, Hijo katakanlah jangan membuat aku menjadi cemas begini," ucap Sabila memotong perkataan Hijo yang masih diam terpaku di tempatnya. 


"Tenang lah bu Sabila. Aku pastikan pak Malik baik-baik saja. Dan pak Malik berpesan agar bu Sabila menjaga kandungannya. Itu saja bu Sabila," ucap Hijo yang langsung pergi meningalkan kamar perawatan Sabila sebelum Sabila mengatakan sesuatu. 


"Huffff aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ibu Sabila kalau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mudah-mudahan semuanya segera membaik," ucap Hijo saat sudah di luar ruang perawatan Sabila. 


"Nak kita harus percaya pada apa yang dikatakan oleh Hijo. Bahwa Malik baik-baik saja. Mungkin Malik sedang keluar kota," 


"Tapi kenapa mas Malik tidak menghubungiku bu?" 


"Mungkin dia sangat sibuk, kamu tahu suami kamu itu pengusaha ternama di negara ini. Jadi sekarang kamu tidurlah. Apa kamu tidak kasihan dengan calon anak kalian? Jadi sekarang kamu tidurlah," ucap ibu Leli untuk menenangkan Sabila sambil membelai rambut anaknya. 


*


"Daddy kamu mau kemana ini sudah malam?" tanya Berlian saat Varo mengganti baju tidurnya dengan t-shirt, celana panjang terakhir memakai jaket kulit untuk menutupi tubuhnya yang kekar saat dirinya hanya mengenakan t-shirt. 

__ADS_1


"Mommy aku ada urusan sebentar," 


"Apa kamu memiliki wanita simpanan? Tega sekali kamu. Meninggalkan istrimu yang sedang hamil besar untuk menemui wanita simpanan. Aku masih bisa melayanimu," ucap Berlian yang tiba-tiba menangis. 


"Astagfirullah mommy apa yang kamu katakan, itu tidak benar," ujar Varo yang langsung memeluk tubuh Berlian. Lalu meraup wajah Berlian dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipi istrinya. "Sampai kapanpun tidak ada wanita di hatiku selain dirimu mommy, hanya kamu yang berada dihatiku," 


"Tapi kenapa kamu pergi tengah malam begini? Tidak pernah sekalipun kamu pergi tengah malam begini?"


"Ini tentang Malik," 


"Ada apa dengan Malik?" 


"Nanti setelah pulang aku akan menceritakan semuanya kepadamu mommy, sekarang aku pergi dulu," ucap Varo sambil mencium singkat bibir Berlian. 


*


*


*


Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2