
Selama perjalanan ke panti asuhan Malik menyandarkan kepala Sabila di bahunya ketika keduanya duduk di bangku penumpang. Saat Malik memutuskan untuk menggunakan sopir pribadinya kemanapun Malik pergi, atas permintaan Sabila, tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu menimpa suami.
"Pak berhenti," ujar Malik pada supir pribadinya.
"Mas kenapa berhenti?"
"Apa kamu tidak ingin makan itu?" tanya Malik sambil menunjuk penjual rujak buah.
"Tidak mas, aku tidak menginginkan apapun,"
"Ayolah Sabila, aku akan melakukan dan mengabulkan semua yang kamu inginkan, biasanya orang hamil pasti akan sangat menyukai rujak buah,"
"Tapi aku tidak mas, aku tidak menginginkan apapun, dan aku baik-baik saja,"
"Tidak mungkin Sabila,"
"Yang merasakan aku mas, jadi aku yang tahu. Sudah pak jalan lagi saja," ucap Sabila dan sopir langsung melajukan mobilnya kembali.
"Sabila aku ingin merasakan apa yang biasanya suami rasakan, pergi tengah malam mencari sesuatu yang istrinya inginkan, disaat itu juga. Mengalami kehamilan simpatik, aku ingin merasakan itu Sabila,"
__ADS_1
"Mas Malik, tidak semua perempuan yang sedang hamil mengalami ngidam mas, beda manusia beda hormon dan juga beda kehamilan mereka. Aku malah bersyukur tidak mengalami apa yang biasanya perempuan hamil rasakan mas, aku bisa makan apapun dan tidak mengalami morning sicknes," ucap Sabila sambil tersenyum ke arah Malik.
"Oh ya, berarti aku lebih leluasa untuk menjenguk calon anak kita," ujar Malik yang langsung memeluk tubuh Sabila diakhiri dengan mendaratkan ciuman di bibir Sabila.
*
Sesampainya di panti asuhan Malik dan juga Sabila sudah disambut oleh ibu Lina tepat di pintu masuk panti asuhan.
"Syukurlah pak Malik dan juga ibu Sabila datang," ucap ibu Lina setelah menjabat tangan Malik dan juga Sabila. "Ada yang ingin membawa Fillea bu, pak. Dia bilang dia ayah kandung dari Fillea, dengan menunjukan tes dna, dia juga sering mendatangi panti asuhan ini akhir-akhir ini, maaf sebelumnya saya tidak memberi tahu pak Malik dan juga Sabila," ucap ibu Lina. Tapi tidak dihiraukan oleh Malik dan juga Sabila yang langsung masuk ke dalam panti asuhan dengan terburu-buru.
Malik langsung menghentikan langkahnya begitupun juga dengan Sabila saat ada seseorang laki-laki yang sedang menggendong Fillea.
"Tahu apa anda tentang ini?" ucap seseorang sambil membalik badannya ke arah Malik dan juga Sabila.
"Pak Malik,"
"Hijo,"
Ucap keduanya bersamaan, membuat ibu panti menjadi bingung tapi tidak dengan Sabila dan juga Malik yang langsung menghampiri Hijo yang sedang menggendong Fillea.
__ADS_1
"Jadi…"
"Ini anakku pak Malik yang selama ini aku cari, dan aku sudah melakukan tes dna," jelas Hijo sambil memberikan tes dna kepada Malik. "Terima kasih kepada pak Malik dan juga ibu Sabila karena sudah memberikan fasilitas kepada anakku ini, dengan menjadi orang tua asuhnya, tapi maaf pak, bu aku harus membawa anakku ini," terang Hijo yang masih mendekap erat Fillea di dalam pelukannya.
"Mas," ujar Sabila yang langsung memeluk tubuh Malik.
"Sabila biarkan Fillea kembali kepada orang tuanya, kita bukan siapa-siapa," ujar Malik tahu apa yang akan dikatakan oleh Sabila.
"Tenang saja bu Sabila, aku tidak akan mengganti nama yang telah ibu Sabila berikan kepada anakku, dan ibu Sabila masih bisa menemui anakku aku tidak akan melarangnya," sambung Hijo.
"Apa aku boleh menggendong nya?"
*
*
*
Bersambung............
__ADS_1