MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 21 Aku Baik-baik Saja


__ADS_3

Malik mengendarai mobilnya dengan kencang, saat dirinya menerima pesan dari anak buahnya, saat anak buahnya sudah menemukan salah satu orang yang telah menabrak Sabila seminggu yang lalu. 


Membuat perasaan Malik sedikit lebih lega dan dirinya langsung mengambil ponselnya di kantong celananya saat ada yang menelepon. 


Malik langsung memutar balik mobil yang dikendarainya saat dirinya sudah menutup sambungan ponselnya. Dan Malik langsung mengendarai mobilnya dengan kencang karena panik. 


*


Sesampainya di rumah sakit Malik langsung berlari menuju ruangan dimana Sabila dirawat. Saat tadi ibu mertuanya menelepon Malik dan memberi tahu Malik. Jikalau Sabila tiba-tiba tidak sadarkan diri. 


"Sabila," ucap Malik saat sudah membuka pintu ruangan perawatan dimana Sabila mendapat perawatan. Dan Malik langsung mendekat kearah Sabila yang sedang terbaring diatas ranjang rumahnya sakit sambil tersenyum ke arah Malik. 


"Mas Malik," ucap Sabila yang tidak dihiraukan oleh Malik yang langsung menciumi seluruh wajah Sabila di akhir dengan mencium singkat bibir Sabila. 


"Apa yang terjadi? Kenapa ini bisa terjadi? Dimana yang sakit?" tanya Malik bertubi-tubi sambil menelusuri setiap jengkal tubuh Sabila.


"Mas jangan berlebihan. Aku baik-baik saja," 


"Kalau kamu baik-baik saja, kamu tidak akan berada disini Sabila," ujar Malik sambil membelai wajah Sabila dengan penuh kasih sayang diakhiri menyelipkan rambut Sabila di belakang telinganya. 


"Aku ingin bertemu dengan dokter yang menangani mu," 


"Saya berada disini tidak perlu menemuinya," 


"Dokter Fitri?" 


"Iya, kenapa? apa sekarang kamu sudah mulai terkesima dengan kecantikan saya ini?" tanya dokter Fitri yang sudah berada didalam ruang perawatan Sabila dan dirinya langsung menghampiri Sabila dan dokter Fitri langsung memeriksa keadaan Sabila kembali. 

__ADS_1


"Dok apa yang terjadi dengan istriku, kenapa dokter Fitri yang menangani Sabila? Dokter Fitri bukannya dokter kandungan?" tanya Malik penasaran karena tidak mungkin dokter kandungan menangani pasien di luar bidangnya. 


"Harusnya pak Malik sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan ibu Sabila,"


"Apa maksud dokter aku tidak memahaminya," 


"Tentu saja tidak memahaminya, karena kaum laki-laki tahunya enak saja, sudah puas langsung molor, kalau belum puas naik lagi," 


"Dokter Fitri aku sedang tidak ingin bercanda aku serius," 


"Saya kira…" 


"Dokter!" bentak Malik sambil memotong perkataan dokter Fitri. 


"Mas Malik," ujar Sabila sambil menarik tangan Malik saat Malik membentak dokter Fitri. "Aku sedang mengandung mas," ucap Sabila membuat Malik langsung menatap ke arah Sabila yang sedang tersenyum. 


"Dok apa benar yang dikatakan oleh istriku?" 


"Betul pak Malik, selamat untuk kalian berdua. Ini sungguh keajaiban yang luar biasa yang telah Tuhan berikan kepada kalian," jelas dokter Fitri membuat Malik langsung menghampiri dokter Fitri dan Malik langsung memeluk dokter Fitri. 


"Terima kasih dok, sekali lagi terima kasih, ini semua juga karena dokter Fitri yang selalu memotivasi kami," ujar Malik setelah melepas pelukannya. 


"Peluk lagi dong," canda dokter Fitri membuat ibu Sabila yang sedari duduk di sofa didalam ruang perawatan Sabila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati perilaku dokter Fitri 


"Dokter…" 


"Maaf bercanda pak Malik. Tapi ada kabar yang kurang bagus untuk ibu Sabila," ucap dokter Fitri yang sudah kembali ke mode serius. Membuat Malik dan juga Sabila langsung saling pandang dan Malik langsung menghampiri Sabila dan menggenggam tangan Sabila. 

__ADS_1


"Katakanlah dok, kami akan mendengar kabar itu," 


"Kandungan ibu Sabila sangat lemah dan berpotensi…" 


"Dok jangan katakan apa yang akan dokter katakan," ucap Malik memotong perkataan dokter Fitri karena Malik tidak ingin mendengar penjelasan dokter Fitri. "Sekarang dokter Fitri katakan apa yang harus istri saya lakukan?" 


"Sebaiknya ibu Sabila tetap harus berada di rumah sakit agar mendapat perawatan khusus pak," 


"Tidak masalah aku mohon pada dokter Fitri lakukan yang terbaik untuk istriku," ucap Malik membuat dokter Fitri langsung tersenyum kearah Sabila dan juga Malik. 


Setelah kepergian dokter Fitri dan juga ibu mertuanya yang ingin pergi ke kantin. Malik langsung menciumi perut Sabila yang masih rata saat sebelumnya dokter Fitri memberi tahu kalau usia kandungan Sabila memasuki usia lima minggu. 


"Mas sudah," 


"Sabila stop!" ucap Malik saat Sabila ingin beranjak dari duduknya. "Kamu tidak dengar apa yang dokter Fitri katakan,"


"Mas, aku hanya ingin duduk," 


"Tidak bisa kamu harus terus berbaring," ucap Malik membuat Sabila mengurungkan niatnya. Dan Malik langsung mengangkat ponselnya yang berdering dan Malik langsung menatap Sabila. "Ada urusan yang harus segera aku selesaikan, aku pergi dulu," 


*


*


*


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2