
Setelah kepergian Malik dari rumah sakit, Malik langsung melajukan mobilnya dengan kencang, meskipun Sabila tidak mengizinkan Malik untuk pergi.
Malik berulang kali memukul setir pengemudi saat dirinya sedang mengemudikan mobilnya. Ketika Malik mengingat kembali saat dirinya menerima panggilan ponsel saat di rumah sakit. Yang sekali lagi mengancam dan mengusik ketenangan keluarga kecilnya.
Malik yang sudah sampai tempat tujuan langsung turun dari mobil yang dinaiki nya saat dirinya memutuskan untuk menemui orang yang selama ini meneror dirinya. Saat orang tersebut mengajak Malik untuk bertemu.
Malik mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru gedung kosong tempat dirinya dan juga orang yang meneror Malik akan bertemu.
"Tempat apa ini," ujar Malik yang masih mengedarkan pandangannya. Tapi tidak melihat satupun orang di tempatnya berada.
Hingga suara tepuk tangan dari seseorang yang keluar dari gedung kosong tersebut membuat Malik langsung menatap seseorang yang baru keluar dari gedung kosong tersebut sambil tersenyum sinis.
"Malik Adi Barata, ternyata dirimu jantan juga berani datang kesini seorang diri, bagaimana dengan tawaran aku?"
"Apa kamu juga yang dengan sengaja menabrak Sabila?" tanya Malik tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.
"Tentu saja aku tidak akan melakukan itu, aku sangat iri kepadamu ada wanita yang begitu sangat mencintai dirimu. Hingga dia rela mengorbankan nyawanya untukmu. Tapi kamu harus tahu, seharusnya aku yang mendapatkan cinta Sabila bukan dirimu kamu tahu itu!"
"Hari, aku pikir kamu benar sudah ikhlas melepas Sabila untuk diriku…"
__ADS_1
"Aku masih ingat apa yang pernah aku katakan kepadamu. Tapi kamu tahu itu hanya ucapan, Malik Adi Barata ha ha ha," ucap Hari diakhiri dengan tawa kencang yang keluar dari mulut hari yang terus berjalan mengelilingi Malik yang sedang berdiri terpaku, tidak menyangka kalau Hari yang melakukan semua ini, karena setahu Malik Hari sudah berubah. "Apa kamu terkejut? Kamu tahu manusia bisa berubah dari yang jahat menjadi yang baik dan juga sebaliknya," ucap Hari lagi dan Hari berhenti tepat di hadapan Malik. "Tinggalkan apa yang seharusnya menjadi milikku, dan kembalikan padaku," ucap Hari sambil menarik kerah kemeja yang dikenakan Malik. Memuat Malik langsung menyingkirkan tangan Hari.
"Jangan pernah kamu usik keluargaku jika kamu ingin selamat," ancam Malik membuat Hari langsung tertawa kencang sambil bertepuk tangan.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu Malik Adi Barata, kembalikan Sabila dariku atau nyawa kamu taruhannya?"
"Sadarlah Hari percuma saja, Sabila sudah tidak mencintaimu dan yang dia cintai hanya aku suaminya,"
Bugh bugh bugh
Hari langsung memukul perut Malik berulang kali membuat Malik langsung jatuh tersungkur.
Malik tersenyum sinis saat anak buah Hari tiba-tiba sudah mengepung dirinya.
"Apa ini yang disebut laki-laki bila tidak bisa bertarung satu lawan satu?"
"Jangan banyak bicara," ujar Hari yang langsung menyuruh anak buahnya untuk mengeroyok Malik.
"Stop!" ujar Hari pada anak buahnya sebelum mengeroyok Malik. "Sekarang kamu tinggal pilih lepaskan Sabila atau nyawamu yang akan melayang?" tanya Hari dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Tidak keduanya,"
*
Prak
Gelas yang berada di atas nakas disamping ranjang Sabila tiba-tiba jatuh saat Sabila ingin mengambilnya. Dan bu Leli yang sedang duduk di sofa yang berada di ruang perawatan Sabila langsung menghampiri Sabila.
"Nak kenapa? Kenapa kamu tidak memanggil ibu bila kamu ingin mengambil minum?" tanya bu Leli sambil membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Bu kenapa perasaanku tidak enak begini?" tanya Sabila yang sudah duduk di ranjang perawatannya. Membuat bu Leli langsung menghentikan aktivitasnya dan langsung menggenggam kedua tangan Sabila.
"Bu ini perasaan yang begitu aneh yang tidak pernah aku rasakan selama ini bu, aku ingin menemui mas Malik bu," ujar Sabila yang langsung turun dari ranjang perawatannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung..............