MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 43 Menghukummu


__ADS_3

"Baiklah kalau itu yang mas Malik inginkan, aku akan pergi menemui mereka, mas Malik jangan cemburu dan mencariku, dadah mas Malik. Semoga mas Malik tidak kesepian," 


"Sabila!" teriak Malik dengan kencang sambil beranjak dari tidurnya. "Awas saja…"


"Awas apa?" tanya Sabila sambil tersenyum dan bertolak pinggang di samping Malik. 


"Apa kamu mempermainkan aku Sabila?" 


"Untuk apa?" tanya Sabila yang langsung duduk dipangkuan Malik sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Malik. "Cemburu ya? Cie cie berarti mas Malik sangat mencintaiku bukan, begitupun aku. Aku juga sangat mencintai mas Malik lebih dari apapun," ujar Sabila yang langsung mel*mat bibir Malik. 


"Apa kamu sedang merayuku?" tanya Malik saat Sabila melepas tautan bibirnya. 


"Tentu, siapa lagi yang harus aku rayu? Orang lain? Tidak mungkin mas Malik ayah dari anakku, maafkan aku kalau tadi aku membuat mas Malik cemburu, aku tidak akan melakukan lagi, dan mulai sekarang aku tidak akan menemui Lea kecuali mas Malik sendiri yang mengijinkan aku dan juga mengantar aku, bagaimana?"


"Ok kalau begitu," ucap Malik singkat. "Dan aku akan menghukummu tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum aku yang mengijinkan," ucap Malik yang langsung merebahkan tubuh Sabila dan mengungkungnya. 


"Kalau hanya itu hukumnya, aku juga tidak menolak mas," ujar Sabila sambil tersenyum dan Malik langsung mel*mat bibir Sabila begitupun Sabila tahu apa yang harus dirinya lakukan. 


"Mas berhenti," ucap Sabila saat Malik sedang menghentak-hentakan tubuhnya saat keduanya sedang melakukan senang ranjang. 

__ADS_1


"Ada apa? Apa aku menyakitimu?" tanya Malik sambil menghentikan aksinya. 


"Apa mas Malik sudah tidak marah lagi denganku seperti tadi?" 


"Bagaikan aku bisa marah pada istriku ini, dan aku selalu percaya kepadamu Sabila," ucap Malik sambil membelai wajah Sabila. 


"Tapi kenapa tadi waktu di rumah sakit mas Malik terlihat marah sambil menarikku? Dan saat di mobil mas Malik juga terlihat kesal padaku mas," 


"Aku hanya sedang ingin mengerjaimu Sabila," 


"Ih mas Malik membuat aku panik saja," ucap Sabila yang langsung mendorong tubuh Malik yang masih mengungkungnya. 


"Sabila apa yang kamu lakukan, aku…" 


"Son lihatlah mamah kamu ternyata ganas juga," ucap Malik dan keduanya langsung memulai kembali kegiatan yang baru saja tertunda. 


Malik yang sudah memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Sabila, setelah keduanya selesai dengan kegiatan panasnya langsung membuka matanya, saat ponsel miliknya yang berada di atas nakas tidak berhenti berdering, membuat Malik langsung mengangkat ponselnya. 


Malik mengangkat ponselnya dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, sambil terus mendengarkan sambungan ponsel miliknya. Saat anak buahnya yang menelepon dirinya, untuk memberi tahu informasi tentang kecelakaan yang membuat ibu mertuanya meninggal dunia. 

__ADS_1


"Apa benar kecurigaanku selama ini, tapi kenapa? Ya Allah mudah mudahan aku tidak salah langkah," gumam Malik saat sudah menutup sambungan teleponnya. 


"Mas ada apa?" tanya Sabila dengan mata yang masih terpejam. 


"Tidak ada apa-apa," ucap Malik yang langsung mendaratkan ciuman di kening sambil. 


"Sabila aku tidak ingin kamu mengetahui apa yang aku ketahui, maafkan aku," gumam Malik lagi sambil mengeratkan pelukannya. 


"Ibu apa yang ibu lakukan?" tanya Malik yang baru keluar dari kamarnya dan mendapati Rosa sedang mondar-mandir di depan kamar Malik. 


"Lihatlah nak," ucap Rosa sambil memberikan selembar kertas kepada Malik. "Ibu menemukan di depan rumah saat ibu ingin keluar rumah untuk melakukan senam pagi. 


Malik langsung tersenyum sinis saat melihat selembaran kertas yang ibunya berikan. 


"Nak ada apa?" 


*


*

__ADS_1


*


Bersambung.................


__ADS_2