MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 09 Melati


__ADS_3

"Sabila? Apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Malik ketika Malik mengingat kembali, sebelum Varo dan juga Berlian menghampiri dirinya dan juga Sabila, Sabila langsung mengurungkan apa yang akan dikatakannya. 


Membuat Sabila langsung tersenyum sambil menggenggam kedua tangan Malik. 


"Aku ingin meminta ijin pada mas Malik, apa aku boleh mengadopsi bayi yang tadi?" tanya Sabila membuat tangan Malik langsung menggenggam balik kedua tangan Sabila. 


"Sabila, bukannya aku melarang kamu untuk mengadopsi bayi tadi, tapi kamu pikirkan kembali, kita sama-sama sibuk, kalau kita mau mengadopsinya, nanti siapa yang akan menjaganya ketika kita sedang sibuk, dan iya kalau kita menyewa babysitter, belum tentu babysitter tersebut akan memperlakukannya dengan baik saat kita tidak berada dirumah, lebih baik dia berada disini, ibu panti yang akan merawatnya dan kita bisa mengunjungi bayi itu setiap saat kamu inginkan," jelas Malik sambil tersenyum ke arah Sabila. 


"Benar juga yang mas Malik katakan, apa mas Malik tidak keberatan kalau setia pulang mengajar aku mampir kesini terlebih dahulu?" 


"Tidak, aku tidak akan keberatan, tapi kalau kamu merasa lelah jangan kamu paksakan ok," ujar Malik membuat Sabila langsung memeluk tubuh Malik. 


"Baik mas terima kasih, oh ya mas aku ingin menggendong bayi tadi," ujar Sabila setelah melepas pelukannya, dan Sabila langsung beranjak dari tempat duduknya.


Malik hanya bisa tersenyum sambil menatap wanita yang sudah merubah hidupnya, dan berada disampingnya saat dulu Malik pernah menolaknya mentah-mentah, tapi dengan kegigihan Sabila, akhirnya Malik bisa mencintai Sabila dengan tulus hingga saat ini.


Malik begitu intens menatap Sabila yang sedang menggendong bayi malang yang tega dibuang oleh orang tuanya. 


"Berilah keadilan untukku dan juga istri ku ya Allah, apa salahku, hingga kamu tidak ingin menitipkan anugerah untuk kita, sampai kapan aku akan menunggu? Apa engkau akan selalu menguji keluargaku? Ya Allah engkau maha pemurah bagi umatmu seperti diriku, mudah-mudahan engkau juga bermurah hati kepada aku Dan juga istri ku, amin," gumam Malik dalam hati sambil menghampiri sambil yang sedang menimang bayi mungil. 


"Mas Malik kamu mengagetkanku saja," ujar Sabila saat Malik memeluk tubuhnya dari belakang sambil menaruh dagunya di pundak Sabila, dan tangan Malik langsung membelai wajah bayi yang sedang di gendong Sabila. 


"Mas?" 


"Heeh," 

__ADS_1


"Ibu panti menyuruh aku untuk memberi nama bayi ini mas, menurut mas Malik nama yang bagus untuk bayi perempuan ini siapa ya mas?" tanya Sabila membuat Malik langsung memejamkan matanya untuk mencari nama yang tepat untuk bayi perempuan yang berada di tangan Sabila. 


"Fillea, bagaimana?" 


"Fillea mas?" 


"Iya, yang diambil dari bahasa Arab yang berarti bunga melati, agar bayi yang kita beri nama Fillea ini, hatinya dan juga kepribadian seperti bunga melati yang putih dan wangi," jelas Malik membuat Sabila langsung mencium pipi Malik. 


"Terima kasih mas, nama yang bagus, aku suka," 


"Bagaimana bu Sabila, ibu ingin memberi nama bayi perempuan ini dengan nama siapa?" tanya ibu Lina saat ibu Lina menghampiri Sabila dan juga Malik. 


"Bayi perempuan ini sekarang namanya Fillea, dan panggilannya Lea," jawab Sabila sambil menciumi pipi mulus Fillea. 


"Bu Lina?" 


"Iya bu Sabila ada apa?" 


"Aku ingin Fillea dijaga dengan baik, dan aku akan menyiapkan semua keperluan dan kebutuhan Fillea, dan satu lagi, jangan ada satu orangpun, yang boleh menjadi orang tua asuhnya, selain kita," ucap sambil sambil menaruh Fillea di box bayi saat Fillea sudah tertidur pulas. 


"Tenang saja bu, kami akan menjaga Fillea dengan baik, dan tidak ada orang tua asuh kecuali bu Sabila dan juga pak Malik," 


"Terima kasih bu Lina," 


*

__ADS_1


Hari sudah petang saat Sabila dan juga Malik baru tiba di rumahnya, ketika keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu di panti asuhan bersama Fillea, anak asuhnya yang baru, saat Malik dan juga Sabila sudah memiliki sepuluh anak asuh di panti asuhan kasih. 


Membuat Sabila dan juga Malik menatap heran, ketika Rosa sudah menyambut keduanya dengan sangat ramah, tidak seperti biasanya. 


"Baiklah karena kalian sudah datang, ayo kita makan malam bersama, mamah sudah memasak untuk kalian," ujar Rosa sambil menarik tangan Sabila dan juga Malik menuju meja makan. 


"Bu, jangan berlebihan, apa rencana ibu selanjutnya?" tanya Malik, saat Malik merasa curiga pada apa yang dilakukan oleh Rosa ibunya. 


"Kenapa kamu bertanya seperti itu nak," ujar Rosa yang langsung duduk di kursi sambil menundukkan kepalanya sedih. 


"Mas kenapa mas Malik berkata seperti itu? Setiap manusia akan berubah menjadi lebih baik," 


"Tapi…"


"Mas," ucap Sabila memotong perkataan Malik sambil beranjak dari kursinya menuju kearah Rosa. "Bu, maafkan perkataan mas Malik," ucap Sabila sambil memeluk tubuh Rosa. 


"Terima kasih nak, kamu memang menantu yang paling baik," ujar Rosa setelah Sabila melepas pelukannya. "Apa boleh ibu meminta sesuatu kepada mu nak?" tanya Rosa pada Sabila. 


*


*


*


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2