
"Kalian kenapa melakukan ini didepan mataku, kalian membuat jiwa jombloku meronta-ronta," ucap dokter Fitri ketika dirinya sudah berada didalam ruang perawatan Sabila. Saat dokter Fitri diberitahu oleh dokter yang menangani Sabila. Jikalau Sabila pasien setianya mengalami kecelakaan.
"Siapa suruh dokter Fitri masuk tidak mengetuk pintu," ucap Malik setelah dirinya melepas tautan bibirnya saat mendapati dokter Fitri sudah berada di dalam ruangan tersebut. "Sudah tua begitu saja sudah meronta-ronta, coba kalau melihat aku sedang bergulat diatas ranjang apa yang akan dokter lakukan,"
"Jelas saja saya ikutan. Boleh juga mencoba terong impor milik kamu yang pasti…"
"Mesum dasar dokter sableng," ucap Malik memotong perkataan dokter Fitri.
"Sableng begini juga kalian membutuhkan saya bukan?"
"Iya dokter Fitri yang cantik dan sexi, kami masih membutuhkan dokter Fitri," sambung Sabila sambil tersenyum kearah dokter Fitri.
"Tuh dengar istri kmau bilang, saya cantik sexi, apa kamu tidak ingin mencobanya," goda dokter Fitri sambil memainkan alisnya keatas dan kebawah untuk merayu Malik.
"Amit-amit dokter kalau bercanda jangan keterlaluan,"
"Saya tidak bercanda. Saya berkata jujur mau yuk?"
"Ogah,"
"Kenapa sih kamu dan juga motor selalu menolakku,"
"Motor?"
__ADS_1
"Iya itu si Varo sepupu kamu yang setiap hari mompa mulu," ujar dokter Fitri yang langsung menepuk jidatnya. "Kenapa saya malah bercanda," ucap dokter Fitri sambil tertawa dan menghampiri Sabila yang terbaring di ranjang ruang perawatannya. "Maaf ya Sabila. Mulut ini kadang susah dikondisikan," ucap dokter Fitri sambil tersenyum ke arah Sabila membuat Sabila langsung membalas senyum dokter Fitri. Yang sudah mereka kenal lama dan keduanya sudah terbiasa dengan ucapan dan candaan dokter Fitri.
"Saya ada kabar baik untuk kalian?" ucap dokter Fitri sambil menggenggam tangan Sabila. Membuat Malik dan juga Sabila langsung menatap kearah dokter Fitri. Dan dokter Fitri langsung menjelaskan kabar baik apa, pada Sabila dan juga Malik. Malik dan juga Sabila langsung tersenyum senang mendengar semua yang dokter Fitri sampaikan, dan dokter Fitri langsung keluar dari ruang perawatan Sabila setelah memberi kabar baik kepada Sabila dan juga Malik.
"Mas," ucap Sabila membuat Malik langsung menciumi seluruh wajah Sabila dengan tersenyum senang. "Aku masih tidak percaya pada apa yang dikatakan dokter Fitri. Apa ini semua hanya mimpi mas?"
"Ini nyata Sabila dan Allah telah mengabulkan sedikit demi sedikit setiap doa yang kita panjatkan, kita hanya perlu berusaha lagi agar kita cepat diberi momongan, kamu tadi dengar bukan penjelasan dokter Fitri?" tanya Malik membuat Sabila langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum, mengingat kembali penjelasan dokter Fitri jika dirinya lima puluh persen sudah dapat mengandung saat gangguan ovulasi pada rahimmya dapat ditangani, walaupun belum sepenuhnya bisa diatasi.
*
Satu minggu kemudian.
"Nak kamu istirahatlah di kamar, ini sudah malam pasti sebentar lagi Malik pulang, kamu belum sembuh total dan harus banyak beristirahat," ujar ibu Leli ibu dari Sabila yang sudah seminggu ini menemani Sabila, saat Malik meminta ibu mertuanya untuk menemani Sabila dirumahnya, karena selama seminggu ini Malik selalu pulang tengah malam.
"Nak, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, kamu harus berfikir positif dimanapun suamimu berada, baiklah sekarang kamu masuk kedalam kamar," ujar ibu Leli sambil membantu Sabila untuk berdiri dari duduknya.
Hingga terdengar suara kunci pintu rumah di putar dari luar dan Malik langsung masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam. Membuat Sabila yang ingin menuju ke kamar langsung mengurungkan niatnya, dan Sabila langsung menjawab salam Malik sambil membalik badannya tersenyum kearah Malik, yang langsung menghampiri Sabila sambil mencium singkat kening Sabila. Dilanjut dengan menjabat tangan ibu mertuanya.
"Mas Malik sudah pulang?" tanya Sabila membuat Malik hanya tersenyum kearah Sabila dan menuntun Sabila untuk menuju kamarnya. Saat sebelumnya Malik berterima kasih kepada ibu mertuanya dan menyuruh ibu mertuanya untuk beristirahat.
"Sabila sayang, aku bisa melakukan sendiri. Kamu beristirahatlah ini sudah tengah malam," ucap Malik sambil mendudukan Sabila diatas tempat tidurnya saat Sabila akan membantu Malik untuk melepaskan pakaian kerja yang Malik kenakan.
"Tapi mas,"
__ADS_1
"Sabila aku mohon," ucap Malik sambil tersenyum ke arah Sabila, membuat Sabila langsung balik tersenyum ke arah Malik dan menganggukan kepalanya mengikuti perintah Malik.
"Mas?"
"Heh," ujar Malik saat Malik baru keluar dari kamar mandi setelah Malik membersihkan dirinya.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Sabila membuat Malik langsung menatap Sabila dan menghampiri Sabila yang sedang duduk bersandar di dipan tempat tidurnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakanlah aku akan menjawabnya," ucap Malik yang sekarang ikut naik ke atas tempat tidurnya sambil menidurkan kepalanya di pangkuan Sabila,"
"Apa yang mas Malik lakukan di kantor hingga pulang selarut ini? Apa mas Malik masih menyelidiki kejadian seminggu yang lalu? Aku sudah bilang kepada mas Malik lupakan saja kejadian minggu lalu," ucap Sabila membuat Malik langsung beranjak dari tidurnya dan duduk menghadap ke arah Sabila.
"Lupakan? Kamu bilang. Aku akan terus mengejar orang yang sudah menabrakmu kemanapun mereka pergi. Jadi jangan pernah kamu bilang untuk aku melupakan kejadian seminggu yang lalu, kamu mengerti?" ucap Malik yang langsung memeluk tubuh Sabila untuk tidur di dalam dekapannya."Tidurlah dan jangan bicara lagi," ucap Malik saat Sabila ingin mengucapkan sesuatu, membuat Sabila langsung menelusupkan kepalanya di dada bidang Malik.
Malik menatap Sabila saat Sabila sudah tertidur lelap. Dan malik langsung mengacak-acak rambutnya frustasi.
*
*
*
Bersambung..........
__ADS_1