
Veronica yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruang persalinan, ketika dirinya tidak diperbolehkan untuk masuk keruang persalinan menemani Berlian, saat dokter Fitri hanya memperbolehkan satu orang yang boleh masuk kedalam ruang persalinan. Veronica langsung menghampiri Malik dan juga Sabila yang sedang duduk di bangku tunggu bersama dengan Iskandar, bibi Ami dan juga pak Cul, yang tadi menyusul menggunakan mobil Iskandar.
"Malik Sabila,"
"Iya bi," ucap Malik dan Sabila berbarengan.
"Tenang saja melahirkan tidak serempong Berlian dan juga Varo, tenang saja, mereka itu terlalu banyak drama jangan ditiru ya Sabila," ucap Veronica yang sekarang duduk disamping Sabila sambil menepuk tangan Sabila.
"Kamu juga dulu lebih parah, sampai baju papah jadi robek-robek tidak karuan dan teriak-teriak bikin papah harus periksa ke dokter THT setelah menemani kamu melahirkan," sambung Iskandar.
"Ih papah kenapa dibicarakan disini?"
"Kamunya saja pintar sekali menasehati orang, dirinya sendiri?"
"Yang penting mamah menasehati yang benar bukan begitu Sabila?"
"Iya bi," jawab Sabila sambil tersenyum. Dan langsung terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan membuat semua yang berada di bangku tunggu langsung bernafas lega sambil mengucap hamdalah.
"Eh ada pak Malik dan juga ibu Sabila," ucap dokter Fitri yang baru keluar dari ruang persalinan dan mendapati keduanya sudah berdiri di depan ruang persalinan. "Jangan seperti mereka ya, yang melahirkan sudah seperti perang dunia ketiga," ujar dokter Fitri membuat Sabila dan juga Malik hanya tersenyum kearah dokter Fitri. "Melahirkan itu enak loh tidak jauh beda dengan proses membuatnya,"
"Memang doktet Fitri sudah pernah melahirkan?" sambung Veronica bertanya kepada dokter Fitri.
"Belum," ujar dokter Fitri sambil terseyum ke arah Veronica. "Lagian tidak ada terong impor yang serius,"
__ADS_1
"Makanya cari yang lokal, santan nya lebih kental,"
"Mamah," sambung Iskandar.
"Berarti terong impor kamu santan nya encer, buktinya cuma bisa memproduksi satu manusia langka yang sedang berada di dalam," bisik dokter Fitri di telinga Veronica sambil tertawa.
"Dokter bisa saja," ucap Veronica yang langsung di tarik tangannya oleh Iskandar tahu apa yang sedang istrinya bicarakan dengan dokter Fitri.
*
Tangan Malik dan juga Sabila saling bertautan saat ingin keluar dari rumah sakit dimana Berlian melahirkan. Setelah keduanya memberi selamat kepada Berlian dan juga Varo. Dan keduanya langsung berpamitan.
Langkah Malik langsung terhenti membuat Sabila juga menghentikan langkahnya saat ada seseorang yang menghalangi langkah keduanya.
"Hari," ucap Sabila saat menatap Hari yang menghalangi langkahnya.
"Lupakan ya sudah berlalu. Tapi maaf untuk jalur hukum akan terus berjalan dan ditegakkan seadil adilnya," ucap Malik tegas dan langsung pergi meninggalkan Hari sambil menggandeng tangan Sabila, membuat Hari hanya diam terpaku di tempatnya.
"Sial," ujar Hari yang langsung menghubungi seseorang.
*
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Sabila yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap keluar jendela, yang menghubungkan taman miliknya, langsung terkejut, saat Malik tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Mas Malik mengagetkan saja," ucap Sabila membuat Malik langsung. Membalik tubuh Sabila dan mengelus perut Sabila yang sudah sedikit terlihat. "Mas,"
"Iya sayangku ada apa," ujar Malik yang sekarang beralih menciumi perut Sabila.
"Kenapa ibu belum juga datang kemari dan menghubungi kita mas, ada apa dengan ibu? Ibu baik-baik saja kan? Apa mas Malik belum memberi tahu kalau aku sedang mengandung?"
"Sudah, aku sudah memberi tahu,"
"Apa aku boleh menghubungi ibu langsung, selama ini mas Malik tidak memperbolehkan aku menghubungi ibu kenapa mas?"
"Tidak kenapa-kenapa. Sudah jangan dibahas lagi, kemarin ibu bilang akan ke Indonesia sekitar dua minggu lagi," terang Malik.
"Tapi mas…"
"sudahlah Sabila jangan dibahas lagi. Apa kamu lupa hari ini jadwal untuk memeriksakan calon anak kita,"
"Oh iya aku lupa," ujar Sabila yang langsung mengambil ponsel miliknya yang berdering di atas meja nakas. "Mas sepertinya kita harus mengundur jadwal kita ke dokter Fitri. Barusan ibu panti telepon dan ibu panti bilang kita harus segera ke panti asuhan sekarang juga," ucap Sabila setelah dirinya mematikan sambungan ponselnya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung.............