MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 44 Osteoporosis


__ADS_3

"Ibu menemukan ini dimana?"


"Di Depan rumah persis nak," terang Rosa membuat Malik langsung berlari menuju keluar rumah, dan langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru sudut rumahnya. Rosa langsung menepuk punggung Malik saat dirinya mengikuti Malik untuk keluar rumah. 


"Ada apa nak?" 


"Lihatlah bu, ada yang mengancam keluargaku," ujar Malik sambil menunjukan selembaran kertas yang berada di tangannya ke hadapan Rosa. 


"Kita harus lapor polisi nak," 


"Aku harus mengumpulkan bukti yang lebih banyak bu untuk membuat laporan ke polisi," ujar Malik yang langsung masuk kedalam rumah sambil memasukkan kertas tersebut di dalam kantong celananya. 


Rosa langsung menghampiri Malik, saat Malik sedang menunggu asisten rumah tangganya menyiapkan makanan untuk Sabila saat Malik tidak mengijinkan Sabila untuk keluar dari kamar. 


"Nak makanan itu untuk siapa?" 


"Sabila bu," 


"Sabila baik-baik saja kan?" tanya Rosa yang langsung mendapat anggukan dari Malik. 


"Oh ya bu, ibu tidak ingin pulang kerumah menemui bapak?" tanya Malik. 


"Tidak nak ibu lebih suka tinggal bersama kalian disini," 

__ADS_1


"Ok baiklah, aku ke kamar dulu bu," ujar Malik yang langsung menuju kamarnya sambil membawa nampan yang berisi makanan yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya untuk Sabila. 


"Mas kenapa mas Malik lama sekali, aku sudah sangat lapar. Apa mas Malik ingin aku dan juga anakku kelaparan," ujar Sabila saat Malik baru masuk kedalam kamar. 


"Apa yang kamu katakan dia juga anakku, kita yang membuatnya bersama," ucap Malik yang sekarang duduk tepat di hadapan Sabila sambil mencium singkat bibir Sabila. "Tidak boleh protes ok," ucap Malik lagi yang langsung menyuapi Sabila saat Sabila ingin mengatakan sesuatu. "Baiklah bumil sekarang tinggal minum susunya," 


"Mas nanti dulu, kasih waktu jeda agar makanan yang aku makan turun dengan sempurna," protes Sabila saat Malik menyodorkan satu gelas susu hamil ke hadapan nya. 


"Baiklah, sambil menunggu biar aku dulu yang minum susu," 


"Mas Malik jangan bercanda!" 


"Aku tidak bercanda, aku juga harus minum susu agar tidak terkena osteoporosis," 


"Tapi bukan…" ucapan Sabila berhenti saat tangan Malik tidak bisa di kondisikan dan meremas gunung kembar Sabila.


"Apa lagi, jangan meminta lebih," 


"Baru ingin aku katakan," ujar Malik yang langsung menghentikan aksinya. "Untuk kali ini kamu tidak boleh menolak," 


"Mas besok saja aku masih lelah," 


"Bukan itu maksudnya, makanya kalau aku bicara belum selesai jangan dipotong terlebih dahulu," 

__ADS_1


"terus?" 


"Setelah kasus ibu terungkap kita pindah ke dubai, untuk kali ini aku tidak ingin mendangar ada penolakan darimu," ucap Malik yang langsung mendapat anggukan dari Sabila, dan Malik langsung mel*mat bibi Sabila hingga terdengar suara panggilan dari ponsel Malik. 


"Mengganggu kenikmatan saja," ujar Malik yang langsung menghentikan aksinya dan beranjak dari tempat tidurnya menuju meja kerjanya dimana ponsel Malik berada. 


Malik hanya mengangguk anggukan kepalanya saat menerima panggilan ponsel tersebut, dan terakhir Malik hanya menautkan kedua alisnya sambil mematikan ponselnya. 


"Siapa mas?" tanya Sabila saat Malik sudah kembali dan duduk di atas tempat tidurnya kembali. 


"Apa kamu ingin tahu? Kalau kamu ingin tahu minum susu kamu terlebih dahulu," ucap Malik sambil menyodorkan satu gelas susu yang berada di atas nakas kehadapan Sabila 


"Baiklah tapi setelah itu…" ucapan Sabila berhenti saat Malik menaruh jari telunjuknya tepat di bibir Sabila dan Sabila langsung minum susu tersebut. 


Malik beranjak dari tempatnya sekarang dan pergi menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. 


"Mas ada apa. Kamu belum memberitahu, kamu tadi mendapat panggilan ponsel dari siapa?" tanya Sabila penasaran yang sekarang mengikuti Malik ke ruang ganti. 


"Ini tentang kasus ibu Sabila, dan aku pergi dulu ada yang harus aku urus, jangan pernah keluar dari rumah tanpa seizinku, ok!" perintah Malik yang langsung mencium singkat bibir Sabila dan keluar dari kamarnya. 


*


*

__ADS_1


*


Bersambung............


__ADS_2