MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 40 Identitas Palsu


__ADS_3

Malik dan juga pak Sofyan yang masih berada di pemakaman langsung menatap seseorang yang baru saja berkata. Tapi tidak dengan Sabila yang sekarang menyandarkan kepalanya di nisan sang ibu. 


"Ibu," ucap Malik singkat, tapi tidak dihiraukan oleh Rosa yang langsung menghampiri Sabila dengan menyingkirkan tangan pak Sofyan yang masih berada di bahu Sabila. 


"Sabila, sudahlah ikhlaskan saja ibumu, masih ada ibu disini yang akan bersamamu," ucap Rosa yang langsung mendekati Sabila sambil memeluk punggung Sabila dari samping. 


"Ibu," ucap Sabila singkat sambil menatap Rosa yang sedang tersenyum manis ke arahnya. 


"Sekarang kita pulang, kasihan dengan anak kamu, jangan ada penolakan. Ibu tidak mau kamu kepanasan berada disini," ujar Rosa yang langsung membantu Sabila untuk berdiri. 


"Ibu," ucap Sabila yang langsung memeluk tubuh Rosa, yang sekarang sudah berubah tidak seperti dulu lagi di mata Sabila. 


"Sudahlah ayo kita pulang," 


*


Sabila tidak ingin pulang ke rumahnya sendiri. Dirinya ingin pulang ke rumah almarhum ibunya, dan Malik langsung mengiyakan keinginan Sabila. 


Sabila yang sudah berada di rumah almarhum ibunya langsung masuk kedalam kamar ibunya. Dan merebahkan tubuhnya meringkuk sambil memandangi foto ibunya yang sudah berada di tangannya. Air mata Sabila pun menetes, mengingat kembali kejadian tadi pagi yang merenggut nyawa ibunya yang paling di cintai di depan matanya. 


"Ibu aku tidak akan diam, aku akan mencari tahu siapa yang telah sengaja menabrak ibu," ucap Sabila sambil mengusap usap foto ibunya. 

__ADS_1


"Aku tahu ini pasti perbuatan Hari," ucap Malik yang sekarang duduk diatas tempat tidur dimana Sabila berada. 


"Aku ingin menemui Hari mas," 


"Untuk apa? Aku tidak akan mengijinkan itu Sabila. Biarkan orang suruhan aku yang akan mencari tahu kebenaran," ucap Malik yang langsung ikut merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan langsung memeluk Sabila. 


"Ada apa kamu datang ke Indonesia?" tanya pak Sofyan pada Rosa saat keduanya berada di ruang tamu rumah almarhum ibu Sabila. 


"Jelas saja aku ingin mengunjungi menantu dan juga anakku, yang tidak akan lama lagi akan memiliki anak," jawab Rosa sambil tersenyum sinis ke arah pak Sofyan. 


"Aku tidak percaya kepadamu pasti kamu punya niat buruk kepada Sabila," 


"Sofyan, Sofyan. Pikiran kamu terlalu jauh, untuk apa aku menyakiti Sabila yang sebentar lagi akan memberikan aku cucu, yang sudah begitu lama aku nantikan Sofyan," 


"Hei pak ustadz Sofyan, roda itu berputar masa aku harus menjadi orang jahat terus, pikirkan lah,"


"Awas saja kalau sampai kamu menghancurkan rumah tangga Sabila dan  juga Malik," ancam pak Sofyan dan langsung meninggalkan rumah almarhum ibu Sabila. Senyum tersungging dari kedua sudut bibir Rosa setelah kepergian pak Sofyan. 


Sudah seminggu Sabila berada di rumah almarhum ibunya begitupun juga dengan Malik dan juga Rosa yang menemani Sabila. 


Sabila yang berada di kamar ibunya langsung membuka semua laci untuk mencari keberadaan ponsel milik almarhum ibunya, tapi Sabila tidak mendapati ponsel tersebut hingga terdengar seseorang membuka pintu kamar. 

__ADS_1


"Sabila sedang apa kamu? Kita sarapan dulu, ibu sudah memasak untukmu dan juga cucu ibu," ucap Rosa yang langsung menghampiri Sabila. 


"Maaf bu, aku merepotkan ibu,


"Tidak sayang, ibu tidak merasa direpotkan, ibu malah senang bisa membuatkan makanan untuk kamu dan juga calon cucu ibu," ucap Rosa yang langsung memeluk tubuh Sabila. "Dan satu lagi, maafkan ibu karena selama ini ibu selalu menghinamu Sabila," 


"Aku selalu memaafkan ibu tanpa ibu harus meminta maaf," 


"Kalau begitu kita makan terlebih dahulu," ucap Rosa saat telah melepas pelukannya beralih menggandeng tangan Sabila untuk keluar dari kamar. 


Malik terus saja mengumpat setelah dirinya mendapat panggilan telepon dari anak buahnya jika anak buahnya tidak bisa menemukan siapa yang sudah menabrak ibu mertuanya hingga meninggal. Saat anak buah Malik menyelidiki siapa pemilik mobil yang sengaja menabrak ibu mertuanya. 


"Hari, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja," ucap kesal Malik sambil mengepalkan tangannya. 


"Mas," ucap singkat Sabila ketika menghampiri Malik. 


"Sabila, maaf aku belum bisa menemukan siapa yang telah sengaja menabrak ibu, saat mobil yang menabrak ibu ditemukan di pinggir jalan, dan mobil yang menabrak ibu, mobil baru yang dibeli dengan identitas palsu," jelas Malik yang langsung memeluk Sabila saat mendapati kekecewaan dari raut wajah Sabila. 


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...........


__ADS_2