
Kemudian Malik langsung beranjak dari tidurnya menuju meja kerjanya yang berada di kamar dan Malik membuka tas nya kembali untuk mengambil selembaran kertas, lalu Malik meremas nya dan melemparnya ke tempat sampah tidak jauh dari tempatnya berada.
Malik langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya sambil memegangi keningnya. Pasalnya selama seminggu ini setiap pagi ada saja yang mengirim surat kaleng, untuk mengusik ketenangan keluarga kecilnya, ditambah lagi dirinya belum menemukan siapa yang sengaja menabrak Sabila. Saat orang kepercayaan Malik mengatakan bahwa plat mobil yang digunakan untuk menabrak Sabila palsu.
"Ya Allah cobaan apalagi yang akan engkau berikan kepadaku," gumam Malik dalam hati sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sabila aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat nyawa kamu dalam bahaya seperti ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dirimu apalagi menyakitimu seperti ini. Membuat hatiku terasa teriris sembilu," ucap Malik sambil menyelipkan rambut Sabila ke belakang telinga saat dirinya kembali lagi naik ke atas ranjang. Diakhiri mencium singkat bibir Sabila yang sudah tertidur lelap dan Malik langsung memeluk tubuh Sabila.
Sabila yang sudah beranjak dari tidurnya langsung mencari keberadaan Malik yang tidak berada disampingnya, menuju ke dalam kamar mandi dan terakhir diruang ganti tapi tidak mendapati keberadaan Malik.
"Mungkin mas Malik sudah berada di bawah," ujar Sabila sambil tersenyum dan dirinya langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Pagi bu," sapa Sabila pada ibunya dan matanya menelusuri setiap sudut ruangan tapi dirinya tidak mendapati keberadaan Malik.
"Suamimu sudah berangkat kekantor sejak pagi tadi nak," ucap ibu Leli tahu apa yang sedang Sabila cari. Sabila langsung menghembuskan nafasnya kasar. Pasalnya sudah satu minggu ini Malik juga selalu berangkat ke kantor lebih awal.
__ADS_1
"Bu apa yang dikerjakan mas Malik di pagi hari, aku merasa curiga dengannya bu, tidak pernah sekalipun selama aku menjadi istrinya dia seperti ini bu," ucap Sabila membuat ibunya langsung menggenggam kedua tangan Sabila untuk menenangkannya.
"Kamu tenang lah nak, tadi Malik berpesan dia berangkat lebih awal karena ada urusan yang harus diselesaikannya. Dan dia juga berpesan agar kamu makan yang banyak agar kamu cepat pulih nak," ucap ibu Sabila yang langsung mengambilkan makanan untuk Sabila saat Sabila sudah berada di meja makan.
*
Brak
Malik yang baru sampai di kantornya langsung menggebrak meja sambil meremas kertas yang berada ditangannya. Pasalnya Malik sudah berangkat lebih awal untuk mengintai siapa yang selalu menaruh surat kaleng di meja kerjanya tapi hasilnya nihil, dan lagi-lagi dirinya tidak menemukan siapa orangnya.
Malik langsung membaca ulang kertas yang baru dirinya genggam dan Malik langsung mengacak-acak rambutnya setelah selesai membaca surat kaleng tersebut, karena lagi-lagi itu surat ancaman untuk dirinya agar meninggalkan Sabila jika ingin Sabila tetap aman.
Hingga terdengar suara notifikasi pesan masuk membuat Malik langsung membuka pesan yang berada di ponselnya, sambil mengangkat kedua alisnya.
Dan terdengar suara ketukan dari luar pintu ruang kerjanya membuat Malik langsung memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya. Dan menyuruh seseorang yang baru saja mengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kamu?"
"Iya Pak,"
"Apa urusanmu sudah selesai?"
"Belum pak, tapi aku mendengar kalau bapak sedang ada masalah," ujar Hijo membuat Malik langsung menatap ke arah Hijo sambil memicingkan sebelah matanya. "Aku tahu semuanya pak, aku sudah lama bekerja dengan pak Malik," ujar Hijo tapi tidak dihiraukan oleh Malik yang langsung pergi meninggalkan ruangannya.
"Kamu kerjakan apa yang perlu kamu kerjakan, aku ada urusan sebentar," perintah Malik sebelum dirinya keluar dari pintu ruang kerjanya tanpa menghiraukan apa yang akan dikatakan oleh Hijo.
"Mudah-mudahan kekuatiranku tidak terjadi," ucap Hijo ketika Malik sudah meninggalkan ruang kerjanya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...............