
"Sebelum itu terjadi aku pastikan terong dan juga telur puyuh milik mu sudah aku jadikan balado Iskandar," sambung Veronica sambil menjewer telinga Iskandar yang masih berada tepat di hadapan pak Sofyan.
"Ampun! Sakit! jangan kamu sakiti aku Veronica, bagaimana kita nanti malam melawati malam pertama," goda Iskandar sambil memeluk Veronica.
"Cih tua bangka, bau tanah ngomongnya kaya kuat aja, minggir aku ingin memberi selamat kepada kedua mempelai," Sambung Varo membuat Veronica langsung memukul kepala Varo. "Mamah sakit tahu,"
"Anak kurang ajar, orang tua sendiri dikatain, mau kamu apa? Benar kata Malik dasar kambing,"
"Berarti mamah dan juga papah biangnya kambing dong?"
"Benar juga ya, tapi tak apa yg penting masih bisa naik,"
"Paling sekali doang, kasihan deh pasangan bau tanah,"
"Bagaimana dengan kamu daddy Varo?" sambung Berlian dan Varo langsung membekap mulut Berlian saat ingin mengatakan sesuatu membuat Veronica dan juga Iskandar langsung tertawa kencang.
"Jadi? Sudah turun mesin kamu kambing? Makanya jangan olah raga terus jangan-jangan satu tahun lagi letoy tak bisa berdiri sungguh kasihan anak mamah," ujar Veronica meledek Varo begitupun dengan Iskandar membuat tempat acara tersebut menjadi riuh, untung saja acara bukan dilaksanakan di dalam masjid melainkan di sebuah aula masjid tersebut.
"Pak Sofyan langsung menarik tangan dokter Fitri yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya saat dokter Fitri ingin menghampiri keluarga Waradhana yang masih saling adu sindir.
"Ibu, ingat jangan mencampuri urusan orang lain, apalagi yang tidak berfaedah seperti keluarga yang tidak normal seperti itu," ujar pak Sofyan menasehati dokter Fitri.
__ADS_1
"Pak Sofyan, yang bapak katakan tidak normal itu keluarga bapak sendiri loh pak, apa ucapan bapak ini benar?"
"Astaghfirullah hal azim," ujar pak Sofyan sambil tersenyum ke arah dokter Fitri yang juga sedang tersenyum sambil menatap pak Sofyan. Malik langsung berdehem saat Malik dan juga Sambil menghampiri kedua nya yang sedang saling menatap.
"Dunia serasa milik berdua anak dan juga menantu sudah berada di depannya kalian tidak tahu," ujar Malik membuat pak Sofyan dan juga dokter Fitri langsung mengalihkan pandangannya pada Malik dan juga Sabila sambil tersenyum malu.
"Selamat untuk bapak dan juga ibu baru semoga kalian bahagia selalu…"
"Dan segera diberi momongan biar wedus punya adik," sambung Varo memotong perkataan Malik membuat Malik langsung menghembuskan nafasnya kasar, karena sudah mencium bau-bau tidak kebenaran dengan kedatangan saudaranya tersebut.
"Bukan begitu wedus, tapi aku tak yakin kalau pasangan pengantin baru tersebut bisa memberi adik untukmu wedus, tau sendiri untuk naik ke atas tempat tidur aja susah Ha ha ha," ucap Varo sambil tertawa dan tawa Varo langsung berhenti saat Berlian menjewer telinga Varo.
"Sakit mommy,"
"Iya mommy maaf," ujar Varo sambil menyatukan kedua tangannya ke hadapan Berlian.
"Dasar kambing suami-suami takut istri, hajar terus Berlian, kalau bisa jangan kasih jatah selama satu bulan,"
"Mas, kamu juga jangan bicara seperti itu, semua orang menatap ke arah kita mas," sambung Sabila sambil menggenggam erat tangan Malik.
"Pak sepertinya aku akan awet muda bila bersama keluarga bapak yang selera humornya tingkat dewa seperti ini," Bisik dokter Fitri di telinga psk Sofyan membuat pak Sofyan langsung tersenyum sambil menatap dokter Fitri.
__ADS_1
"Cie cie pasangan pengantin baru main bisik bisikan ini masih siang bibi Fitri bibi terbaru ku," ucap Varo saat sudah mendekat ke arah pak Sofyan dan juga dokter Fitri untuk memberi selamat. "Selamat ya dokter Fitri akhirnya menemukan terong impor juga walaupun sudah layu,"
"Daddy Varo!"
"Iya mommy aku hanya sedang bercanda dengan dokter Fitri," ujar Varo tahu apa yang akan dikatakan oleh Berlian istrinya. Kemudian Varo dan juga Berlian memberi selamat kepada keduanya dan tidak bercanda lagi tahu bahwa dokter Fitri yang dulu mereka kenalan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dokter Fitri yang sekarang.
Semua tamu undangan sedang menikmati hidangan yang tersedia tapi tidak dengan Sabila yang sedang duduk dengan keringat bercucuran di wajahnya membuat dokter Fitri langsung menghampiri Sabila yang sedang duduk sendirian saat Malik sedang menjamu kerabat dekatnya.
"Sabila apa kamu sudah mulai kontraksi?" tanya dokter Fitri dengan tenang sambil memegang perut Sabila membuat Sabila hanya mengangguk Sabila tersenyum.
"Bagus lah tetap tenangkan dirimu, nikmati prosesnya kalau kamu merasa sakit ambil nafas melalui hidung dan keluarkan dari mulut ok, ibu akan memanggil bapak dan juga Malik," ujar dokter Fitri yang langsung menghampiri pak Sofyan dan juga Malik, membuat Malik langsung histeris membuat semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak terkecuali dengan keluarga Waradhana yang langsung menghampiri Sabila.
"Ternyata yang harus puasa wedus kasihan sekali," ujar Varo saat tahu Sabila sedang mengalami kontraksi. "Sabila ini saatnya kamu memberi pelajaran pada wedus, jangan kasih ampun," ujar Varo lagi.
"Ah tidak!"
*
*
*
__ADS_1
Bersambung.............