MASAL Menanti Buah Hati

MASAL Menanti Buah Hati
MASAL 25 Jagalah Calon Anak Kita


__ADS_3

Sabila yang sedang menikmati sarapan pagi di atas ranjang rumah sakit dengan terpaksa. Hanya demi buah hati yang baru tumbuh di rahimnya. Saat perasaannya masih sama, mencemaskan suaminya Malik yang tidak kunjung datang menemui dirinya. Walaupun Hijo sudah memberi tahu Sabila jika Malik baik-baik saja. 


Sabila langsung begitu antusias menatap pintu ruang perawatannya saat ada seseorang yang masuk kedalam ruangan nya. 


"Selamat pagi ibu guru cantik," ucap Berlian yang langsung masuk keruangan Sabila dan menghampiri Sabila. Yang sedang menghembuskan nafasnya dengan raut wajah yang begitu sedih. "Kenapa sedih sayangku, kenapa kamu tidak memberi tahu aku, kalau kamu sedang mengandung? Kamu anggap aku apa? Ini kabar yang menggembirakan semua orang. Kenapa kamu menyembunyikan dariku?" tanya Berlian bertubi-tubi pada Sabila yang sedang memicingkan sebelah alisnya sambil menatap ke arah Berlian. 


"Kamu tahu dari siapa?" tanya Sabila penasaran.


"Jelas saja…" 


"Dokter Fitri," sambung Varo sambil memeluk pinggang istrinya. Takut Berlian memberitahu yang sebenarnya, jika Malik yang menceritakan semuanya. Karena Varo tidak ingin Sabila tahu kalau Malik sedang berada di kantor polisi. Saat delapan pengacaranya belum bisa mengeluarkan Malik dari kantor polisi, saat Hari yang notabennya anak dari pejabat tinggi di negara ini juga mengerahkan pengacara terbaiknya untuk menuntut Malik. 


"Iya dokter Fitri yang memberi tahu," bohong Berlian karena dirinya sudah berjanji pada Varo akan merahasiakan semuanya pada Sabila. "Makan yang banyak. Aku membawa buah-buahan untuk kamu," ucap Berlian dan dirinya langsung membuka parcel buah yang dirinya bawa. Dan dengan segera Barlian langsung mengupas buah tersebut. 


"Terima kasih," 


"Jangan hanya berterima kasih saja. Makanlah," ucap Berlian saat dirinya sudah mengupas buah dan memberikannya pada Sabila. 


"Berlian, Varo?" tanya Sabila pada Berlian dan juga Varo yang berdiri di sampingnya. "Apa Kalian mengetahui Malik berada dimana?" 


"Malik? Itu yang akan aku tanyakan kepadamu. Dari tadi aku tidak melihat Malik?" ucap Berlian sambil mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan tersebut untuk bersandiwara. 


"Varo?" 


"Maaf aku tidak tahu Sabila. Kamu tahu sendiri aku tidak begitu akrab dengan Malik. Tapi aku dengar Malik sedang ada proyek besar. Mungkin dia sedang sibuk dengan proyek besar tersebut," bohong Varo sambil tersenyum untuk meyakinkan Sabila. 


"Apa paman Sofyan dan juga bibi Rosa sudah mengetahui kalau kamu sedang mengandung?" tanya Berlian untuk mengalihkan pembicaraannya. 

__ADS_1


"Belum, aku belum memberitahu kepada mereka, aku sedang menunggu mas Malik. Biarkan mas Malik yang memberi tahu ibu dan juga bapak," ucap Sabila sambil turun dari ranjangnya untuk menuju kamar mandi dibantu oleh ibu Leli saat Berlian ingin membantu tapi Sabila menolak. 


"Daddy," 


"Apa mommy, dan juga baby daddy," ucap Varo sambil mengelus perut Berlian yang sudah besar dan tinggal beberapa minggu lagi dirinya akan melahirkan.


"Apa sebaiknya kita memberi tahu saja kepada Sabila apa yang terjadi dengan Malik," 


"Jangan mommy, Malik sudah berpesan agar tidak memberitahu Sabila. Takut terjadi sesuatu kepada Sabila dan juga anak yang dikandungnya yang begitu lemah," 


"Daddy cepat atau lambat pasti Sabila tahu. Alangkah baiknya kita memberitahu lebih awal. Coba kalau Malik bisa dikeluarkan dari penjara kalau tidak bagaimana?"


"Iya juga sih tapi…" 


"Tapi apa. Aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan," ucap Sabila yang tiba-tiba sudah berada di belakang Varo dan juga Berlian dan mendengar semua yang keduanya katakan saat Sabila tidak jadi untuk ke kamar mandi. 


"Aku ibunya, aku akan menjaga anakku," ucap Sabila yang langsung keluar dari ruang perawatannya di ikuti Berlian, Varo dan juga bu Leli yang langsung menuntun Sabila. 


*


Sesampainya di kantor polisi Sabila tidak mempedulikan kesehatannya Karena Sabila langsung masuk dengan terburu-buru. Diikuti ibu Leli, Berlian dan juga Varo yang memutuskan untuk mengantar Sabila untuk menemui Malik. 


Sabila langsung menghambur memeluk Malik saat Malik menemui dirinya yang menunggu di ruang besuk tahanan. 


"Sabila kenapa kamu berada disini?" tanya Malik sambil menatap Varo dan juga Berlian dan menggelengkan kepalanya. Membuat Varo langsung mengucap maaf dari jauh. 


"Sabila," ucap Malik saat Sabila melepas pelukannya dan beralih meraup wajah Sabila dan menghapus airmata Sabila yang tiba-tiba menangis. 

__ADS_1


"Jangan menangis, masa ibu guru menangis," ucap Malik sambil tersenyum manis. 


"Apa yang terjadi mas? Jangan sampai aku mengetahui dari orang lain lagi. Aku istrimu mas. Hanya aku tempatmu mengadu," 


"Maafkan aku Sabila. Aku hanya tidak ingin membuat kamu kuatir," ucap Malik sambil menyelipkan rambut Sabila ke belakang telinganya dan Malik mengajak Sabila untuk duduk. 


"Hari?" tanya Sabila saat Malik menceritakan apa yang terjadi kepadanya. "Mas kenapa mas Malik tidak pernah bercerita kepadaku?" 


"Karena aku tidak ingin membuat kamu cemas Sabila," ucap Hari sambil menggenggam kedua tangan Sabila. "Sabila maaf, mungkin untuk saat ini aku tidak bisa menemanimu menjaga calon anak kita," 


"Mas," 


"Sabila aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kau lakukan. Maaf, aku mohon selama aku tidak berada di sampingmu, jagalah calon anak kita," ucap Malik sambil tersenyum dan langsung memeluk tubuh Sabila. 


"Daddy," 


"Apa?" 


"Apa Malik tidak bisa bebas? Malik tidak bersalah. Dia hanya mempertahankan dirinya, lagian tidak ada yang modar kan?" 


"Modar?"


*


*


*

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2