
"Ah sakit mommy apa yang kamu lakukan dengan kakiku!" teriak Varo saat Berlian menginjak kaki Varo agar Varo tidak banyak bicara.
"Diam atau kamu juga tidak akan dapat jatah selama satu bulan!" ucap Berlian membuat Varo langsung diam tanpa berkata apapun lagi membuat Veronica langsung menepuk punggung Varo.
"Syukur memang enak, ssstttt jangan bicara lagi," ujar Veronica sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Varo saat Varo ingin mengatakan sesuatu. "Jangan bicara lagi atau istrimu akan menambah jatah untukmu jadi dua bulan," ledek Veronica membuat Varo langsung menghembuskan nafasnya kasar.
*
Varo yang memutuskan untuk mengantar Malik dan juga Sabila dan tentunya dokter Fitri yang selalu setia disamping Sabila ke rumah sakit, langsung menghembuskan nafasnya kasar pasalnya Varo berniat mengantar ketiganya agar dirinya bisa menertawakan Malik ketika Sabila mengalami kontraksi dan Malik menjadi sasarannya, seperti dirinya saat Berlian melahirkan, tapi Itu semua hanya bayangan yang dibayangkan Varo, karena Sabila begitu tenang sambil menggenggam erat tangan Malik.
"Sabila ayolah suguhkan aku pertunjukan dengan kamu memukul, menggigit, mencakar wedus, ayolah Sabila," ujar Varo sambil mengemudikan mobilnya.
"Ha ha ha kambing jadi kau menawarkan diri untuk mengantar kita ke rumah sakit ada maunya dasar kambing, tidak mungkin Sabila akan melakukan itu kambing,"
"Belum saja, sebentar lagi tunggu saja,"
"Tidak akan,"
"Akan,"
"Tidak kambing,"
"Iya wedus,"
"No,"
"Yes,"
__ADS_1
"Berisik!"
"Diam!" teriak Sabila dan juga Berlian yang duduk di samping Varo yang sedang mengendarai mobilnya, tapi berbeda dengan dokter fitri yang langsung tersenyum melihat perdebatkan yang menurutnya lucu sambil terus mengelus elus perut Sabila.
"Sabila benar apa yang dikatakan oleh kambing kenapa kamu terlihat santai, aku jaga juga ingin merasakan apa yang para suami rasakan saat istrinya sedang mengalami kontraksi seperti ini, nyidam pun juga tidak seperti wanita hamil pada umumnya, sebenarnya kamu kenapa?"
Plak
Sabila menampar Malik saat mengalami kontraksi, membuat Varo langsung tersenyum senang.
"Sabila kenapa kamu menamparku apa salahku Sabila?" tanya Malik sambil memegangi pipinya.
"Tadi mas Malik bilang ingin merasakan apa yang para suami rasakan bukan? Saat istrinya sedang mengalami kontraksi, dan barusan aku melakukannya," jelas Sabila sambil mengatur nafasnya.
"Kalau begitu aku tidak menginginkan nya Sabila,"
"Bodo amat, masa bodo tidak ada yang bertanya kepadamu kambing," ujar Malik sambil menendang jok mobil di mana Varo berada.
"Varo!"
"Mas Malik!" teriak Berlian dan juga Sabila berbarengan saat Malik dan juga Varo akan berdebat kembali.
*
Setibanya dirumah sakit suster dan juga dokter sudah menunggu kedatangan Sabila, atas perintah dokter Fitri. Dan Malik langsung ingin membopong tubuh Sabila tapi Sabila menolak begitupun brankar dan juga kursi roda yang sudah disiapkan hanya sia-sia saat Sabila tetap ingin berjalan sampai ke ruang persalinan sambil menahan kontraksi yang semakin sering Sabila rasakan.
"Apa yang kamu inginkan Sabila?" tanya Malik saat sudah berada di ruang persalinan,"
__ADS_1
"Tidak ada mas, aku ingin kamu tetap berada di sampingku,"
"Apa kamu tidak ingin menamparku lagi seperti tadi? Memukul aku juga boleh, menggigit? Mencakar dan apapun yang kamu inginkan aku tidak akan marah Sabila,"
"Mas diamlah, aku hanya ingin mas Malik diam disampingku itu saja mas," ujar Sabila sambil tersenyum manis ke arah Malik membuat Malik langsung meraup wajah Sabila dengan kedua tangannya dan menciumi seluruh wajah Sabila.
"Kamu beruntung nak, mempunyai istri seperti Sabila," ujar dokter Fitri sambil menepuk punggung Malik, saat dokter Fitri memutuskan untuk membantu proses persalinan Sabila.
Dokter Fitri dan juga dokter lainnya langsung bersiap siap saat Sabila sudah pembukaan sepuluh dan dokter Fitri langsung memberikan aba-aba pada Sabila.
"Mas," ucap Sabila sambil terus mengatur nafasnya.
"Iya Sabila,"
"Peluk aku mas," ucap Sabila lagi membuat Malik langsung memeluk tubuh Sabila. Dan dokter Fitri langsung memberikan aba-aba untuk Sabila mengejan. Malik terus mengikuti Sabila untuk memeluknya padahal dokter Fitri melarangnya agar Sabila leluasa untuk mengatur nafasnya tapi Sabila tidak mendengarkannya dan terus memeluk tubuh Malik sambil mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter Fitri untuk mengejan sambil terus memeluk tubuh Malik, hingga terdengar suara tangisan bayi membuat Sabila langsung melepas pelukannya begitupun juga dengan Malik yang melepas pelukan Sabila dengan tersenyum senang mendengar suara tangisan bayi, tapi senyum itu hilang saat melihat Sabila tidak membuka matanya.
"Ibu Fitri!" teriak Malik membuat dokter Fitri langsung mendekat.
Berlian, Varo, pak Sofyan, Veronica dan juga Iskandar yang sudah tiba di rumah sakit langsung menghampiri Malik yang baru keluar dari ruang persalinan sambil menangis dan langsung memeluk tubuh pak Sofyan.
*
*
*
Bersambung.........
__ADS_1
Maaf untuk beberapa hari kedepan otor g janji bisa up, karena otor sedang tidak enak badan, dan otor akan up jika otor sudah merasa baikkan, mohon pengertiannya ya untuk otor, mudah mudahan kalian semua sehat selalu dan setia menunggu novel otor up, terima kasih. Jaga selalu kesehatan kalian.