
Perawatan dengan sigap langsung membawa Hari kedalam ruang perawatannya setelah Hari terjatuh saat akan beranjak dari duduknya, membuat Sabila yang berada di samping Hari langsung berteriak histeris saat Sabila melihat Hari memuntahkan darah sebelum Hari terjatuh.
Malik langsung memeluk tubuh Sabila saat beberapa ahli medis masuk ke dalam ruang perawatan Hari dengan terburu-buru.
"Apa yang terjadi pada Hari mas aku melihat Hari muntah darah dan langsung jatuh pingsan,"
"Aku tidak tahu, kita doakan saja yang terbaik untuk Hari," ucap Malik sambil mencium singkat kening Sabila.
Hingga terdengar suara pintu ruang perawatan Hari terbuka, dan semua ahli medis yang menangani Hari keluar diikuti oleh beberapa perawat yang mendorong brankar yang terdapat tubuh Hari yang sudah tertutup kain di seluruh tubuhnya, membuat Sabila dan juga Malik hanya bisa terdiam saat salah satu perawat memberi tahu Sabila dan Malik kalau Hari sudah meningal dunia.
*
Satu bulan berlalu, satu bulan sudah Malik dan juga Sabila menjalani kehidupan seperti manusia normal lainnya tidak ada konflik yang mengganggu rumah tangganya dan juga tidak ada yang perlu ditakutkan lagi saat semua sudah berjalan sesuai dengan keinginan Malik dan juga Sabila.
Sabila sedang sibuk berada di dapur bersama dengan kedua asisten rumah tangganya mempersiapkan makanan yang akan dirinya bawa untuk mengunjungi ibu mertuanya di tahanan, saat Malik mengijinkan Sabila untuk pertama kalinya mengunjungi ibu nya, ketika sebelumnya Malik selalu melarang Sabila mengunjungi nya.
Senyum tersungging dari kedua sudut bibir Sabila saat Malik baru turun dari kamarnya.
"Mas Malik ingin sarapan yang mana?" tanya Sabila sambil menunjuk makanan yang berada di atas meja makan saat Malik sudah duduk di kursi meja makan.
"Apa kamu yang memasaknya?"
__ADS_1
"Tadi dibantu dengan mba mas,"
"Sabila aku sudah pernah bilang kepadamu jangan pernah kamu melakukan apapun kamu mengerti itu! Tidak ada alasan lagi, kamu tidak kasihan dengan anak kita," ujar Malik yang langsung beranjak dari duduknya dan langsung menarik kursi tepat di sebelahnya untuk Sabila duduk. "Karena kamu sudah lelah menyiapkan sarapan untukku sekarang aku yang akan melayanimu dan juga anak kita, kamu duduk diam disini," ujar Malik lagi sambil mencium perut Sabila dan langsung menyiapkan makanan untuk Sabila lalu menyuapinya dengan telaten.
*
Sabila turun dari dalam mobil dengan tersenyum saat sudah berada di depan rumah tahanan dimana ibu mertuanya ditahan guna mempertanggung jawabkan perbuatanya dengan hukuman dua puluh tahun penjara. Malik langsung menggandeng tangan Sabila untuk masuk ke dalam tahanan saat sipir jaga memperbolehkan keduanya untuk masuk kedalam.
Sabila terus menggenggam tangan Malik saat keduanya sudah berada di ruang besuk untuk menunggu kedatangan Rosa dari dalam tahanan.
Senyum mengembang dari kedua sudut bibir Sabila menyambut kedatangan Rosa ibu mertuanya, tapi berbeda dengan Malik yang terus menatap tajam ke arah ibunya yang tidak menunjukan ekspresi sama sekali.
"Pulanglah, aku tidak ingin melihat kalian berdua," ucap ketus Rosa yang masih berdiri di tempatnya. Membuat Malik langsung beranjak dari tempat duduknya dengan mengepalkan kedua tangannya membuat Sabila langsung menenangkan Malik dengan memeluk lengan Malik.
"Ibu, kenapa ibu berkata seperti itu? Bagaimana kabar ibu? Aku memasak makanan kesukaan ibu apa ibu tidak ingin mencicipi masakan aku, yang rasanya jauh lebih enak dari yang pernah aku masak dulu bu,"
"Lepaskan sebelum aku menyakiti kamu dan juga anakmu itu," ucap Rosa membuat Malik langsung menarik tangan Sabila saat Sabila masih memeluk tubuh Rosa.
"Ibu macam apa kamu itu? Kita kesini untuk mengunjungimu, tapi apa balasan mu dan aku yakin bahwa kamu bukan lagi ibuku,"
"Mas! Apa yang kamu katakan?" tanya Sabila membuat Malik langsung menarik tangan Sabila untuk keluar dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak, ibu memang tidak pantas disebut dengan ibu, sekali lagi maafkan ibu, ibu akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dengan Sabila nak," ujar Rosa setelah kepergian Malik dan juga Sabila sambil menyandarkan tubuhnya di tembok dan terduduk sambil menangis.
"Bu kita kembali ketahanan," ucap salah satu sipir sambil membantu Rosa untuk berdiri.
"Bagaimana dengan yang aku ajukan kemarin?"
"Maaf bu, tidak bisa seseorang untuk mengajukan hukuman mati, karena hukum kita punya peraturan," Jelas sipir saat Rosa menginginkan hukuman mati bagi dirinya.
*
Satu minggu kemudian.
Sabila dan juga Malik sedang sibuk dengan bermacam-macam keperluan untuk anaknya yang tidak lama lagi akan lahir kedunia.
Dan Malik langsung menghembuskan nafasnya kasar saat bel pintu rumahnya ditekan seseorang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...................