
"Tidak! Aku akan tetap disini membantu kamu menyiapkan makan malam untuk kita," ucap Malik sambil mencium pipi Sabila dan dirinya langsung membantu Sabila memasak, sudah menjadi kebiasaan Malik dan juga Sabila, walaupun sebisa mungkin Sabila melarang Malik, tapi Malik tidak pernah peduli, karena pasti Malik akan membantu semua apa yang dikerjakan oleh Sabila.
Hingga keduanya memutuskan untuk tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, karena keduanya saling membantu satu dengan yang lainnya mengurus rumah.
"Terima kasih mas Malik," ujar Sabila sambil menyandarkan kepalanya di bahu Malik saat keduanya sudah selesai menyiapkan makan malam.
Dan seperti biasa keduanya langsung mengambil satu piring makanan yang sudah di masak untuk makan berdua, hal romantis yang selalu mereka lakukan jika sedang makan malam, karena keduanya hanya bisa melakukanya di malam hari, dengan kesibukan Malik dan juga Sabila yang jarang bertemu ketika pagi dan juga siang hari, Karena Sabila harus berangkat mengajar dan juga kesibukan Malik mengurus perusahaan yang dilimpahkan orang tuanya kepada Malik. Tapi walaupun begitu Sabila selalu menyiapkan sarapan pagi untuk Malik, dan juga bekal makan siang Malik yang dirinya siapkan sebelum Sabila berangkat mengajar.
Setelah keduanya selesai makan malam dan membersihkan dirinya masing-masing, keduanya langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya dengan saling berpelukan, itulah yang selalu dilakukan keduanya selama ini sebelum keduanya terlelap.
"Mas sampai kapan kita akan menunggu…"
"Sssttt, jangan katakan lagi," ujar Malik memotong perkataan Sabila sambil melepas pelukannya. "Kamu tahu Allah maha adil, Sabila, pasti suatu saat kita akan diberi momongan kita harus bersabar, dokter Fitri juga pernah bilang kepada kita, kalau kamu masih bisa memiliki kesempatan untuk bisa mengandung anak kita kelak," ujar Malik lagi memotong perkataan Sabila, tahu apa yang akan dikatakan oleh Sabila, sambil mengelus perut Sabila ketika keduanya tidur saling berhadapan.
__ADS_1
"Apa mungkin kesempatan itu bisa menghampiri diriku mas?"
"Kenapa kamu berkata seperti itu, kamu tahu tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, ketika Allah sudah menghendakinya Sabila, jadi kita harus percaya itu, ok," ujar Malik sambil membelai wajah Sabila.
"Terima kasih mas, karena mas Malik yang bisa membuat aku semangat lagi, untuk menanti buah hati, semoga doa yang kita panjatkan akan segera terkabul,"
"Amin," ucap Malik yang langsung memeluk tubuh Sabila dengan erat. "Dan aku akan selalu menanti hari itu, bersama dengan dirimu, sampai habis usiaku Sabila istriku," ujar Malik sambil melepas pelukannya beralih menyatukan keningnya dengan kening Sabila sambil mencium singkat bibi Sabila dan keduanya langsung terlelap.
*
"Astagfirullah hal azim, ibu, ibu, kapan ibu akan berubah,"
"Hingga Malik mempunyai keturunan dari wanita yang bisa mengandung bukan dari menantu kesayangan bapak yang mandul itu," ucap lantang Rosa kepada suaminya.
__ADS_1
"Malik dan juga Sabila pernah bilang, kalau Sabila itu tidak mandul bu, hanya Sabila sulit untuk mendapatkan keturunan, bukan bererti dia mandul, dan mereka juga pernah bilang, masih ada kesempatan untuk Sabila bisa mengandung,"
"Itu hanya omong kosong pak, jangan percaya pada mereka, dan keputusan ibu untuk Malik menikah lagi, tidak bisa diganggu gugat, titik," ucap Rosa sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu macam apa kamu, yang tega menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri?" tanya Sofyan membuat langkah Rosa yang akan masuk kedalam kamar langsung terhenti.
"Apa maksud bapak, siapa yang akan menghancurkan kebahagiaan Malik? Ibu hanya ingin memberi kebahagian seutuhnya pada Malik, yang tidak pernah bisa diberikan oleh menantu bapak yang mandul itu," ucap Rosa sambil membalik badannya menghadap Sofyan.
Brak…
*
*
__ADS_1
*
Bersambung.................