Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 21


__ADS_3

"Oiya mas, kak Athur ini adalah kakaknya dari sahabatku, Amelys yang aku ceritakan pada mas". Tere memberi paham pada suaminya.


Dave hanya manggut manggut.


" Oh jadi ini yang katanya Tere hebat itu, apaan coba masih hebatan aku", batin Dave tidak terima.


Athur memasang wajah senyumnya, walaupun itu senyum yang dipaksakan. Begitu menyakitkan melihat orang yang disayang bersama orang lain.


"Iya Pak. Saya kakaknya Amelys, sahabatnya Tere. Kebetulan mereka sudah berteman lama jadi sudah saya anggap Tere sebagai adik kandung saya sendiri"


Tidak mau berlama lama, Dave pun mengajak Tere untuk segera ke kantin. "Iya dokter Athur, ternyata dunia ini sempit ya, dokter adalah dokter pribadi mama saya, dan Tere adalah istri saya. Kalau begitu, saya dan istri pergi duluan ya dok". Dave pamit dari hadapan Athur, ia mengembangkan senyum lebarnya dan memegang tangan Tere dengan posesifnya.


Setelah berlalu dari hadapan Athur, Dave pun melepas genggamannya. "Loh, dilepas lagi mas. Sudah benar benar tadi digenggam dengan erat kok". Tere melayangkan celotehannya dengan bibir manyun. Dave membiarkan Tere jalan sendiri. Tere yang sadar sudah ditinggal Dave, segera menyusul


" Dih, kutub utara". Sungut Tere yang sudah sampai di kantin. Mereka ternyata makan disana. Dengan duduk berhadapan sangat menguntungkan bagi Tere untuk memandangi wajah tampan suaminya.


Ia menopang dagu dengan kedua tangannya. Dan memperbanyak frekuensi kedipan pada Dave. Jelas Dave risih! " Napa lu mandangi gue gitu? Gue ngerti kok kalau gue ganteng. Gak usah kaya gitu juga. Norak". Dave berbicara dengan nada datar dan akhirnya memalingkan mukanya


"Permisi mas, mbak. Silahkan". Pelayan itu menurunkan pesanan mereka berdua yaitu nasi goreng spesial. Ya terlihat simpel tapi kalau makan dengan orang tersayang bakalan enak hehehe.


" Makasih mbak". Tere tersenyum ramah pada pelayan itu. Dan segera mengambil sendok. Ketika mereka sedang makan, Dave menjadi manusia paling penasaran di bumi ini.


"Lu katanya sahabatnya Amelys. Kok gak ngerti sih kakaknya kerja dimana?". Dave menanyakan hal itu sambil menyuap nasi goreng itu dan memandang nyalang ke arah Tere. Buat apa coba tanya soal itu?! Dasar


" Oh soal kak Athur, sebenarnya aku ngerti mas kalau kak Athur seorang dokter tapi emang gak menanyakan di rumah sakit mana dia bekerja". Tere masih sibuk menyuap nasi goreng itu tanpa menoleh ke arah Dave


"Lu kalau gue omong lihatin dong. Gak menghargai banget". Dave melayangkan protesnya. Ia menunjukkan muka masamnya


" Hah? Bukannya mae tadi bilang, gi isih minding minding gii". Tere impersonate gaya bicara Dave dan mengganti hurufnya dengan vocal i

__ADS_1


Dave awalnya malas menanggapi, ternyata pandangannya tertuju ke kalung liontin yang sudah bertengger di leher jenjang Tere. Ia merasa asing. Karena sewaktu di Zurich pun, Tere tidak memakainya. Dan sejak kapan?! Pertanyaan itu yang memenuhi otak Dave, dan Tere pun sebenarnya tidak suka menghambur uangnya. Mengingat harga fantastis dari kalung liontin itu bisa ditebak mudah oleh Dave


"Kalung dari siapa?".Dave menatap nyalang pada Tere dan berbicara dingin padanya. Ia tidak peduli dengan ejekan Tere yang bilang bahwa ia adalah manusia yang paling kepo. Kewarasannya yang lebih utama daripada ia mati penasaran hahaha


Jelas Tere membelalakkan matanya. Bahkan saat ini, ia berhenti dari aktivitasnya mengunyah makanan. Ia sedikit menunduk melihat kalung itu dan memeganginya


" I-Itu mas, da-dari kak Athur. Tapi----". Pembicaraan itu sudah dipotong terlebih dahulu oleh Dave


"Oh, sekarang mainnya sama dokter sok kegantengan itu?". Dave seakan tidak terima. Tapi kenapa?! Apakah penting baginya? Bukankah ia tidak peduli dengan Tere mau dekat dengan siapa saja?! Lantas kenapa dia seperti itu?!


" Bu-bukan gitu mas maksudku. Ini memang kak Athur yang kasih tapi aku dikasih ini kembaran sama Amelys. Jadi bukan hanya aku saja mas yang dikasih. Amelys pun juga dikasih". Tere menatap Dave dengan mata beradu tak kalah tajam


"Lagian mas, kan kita itu kenapa kamu bisa sesewot itu? Hubungannya sama kamu apa?". Tere mengangkat dagunya, seakan membalikkan pertanyaan interogasi itu.


"Lu itu istri---"


"Istri di atas kertas sekaligus pembantu kan buat kamu. Itu kan yang kamu ingin omongin sama aku? Iya kan? Kenapa?". Tere dengan lancar menyela pembicaraan Dave, Tere pikir hanya Dave yang bisa menyela, Tere pun bisa. Hahaha


"Terus alasannya menanyakan itu apa? Bukannya di perjanjian peraturan kontrak pernikahan itu aku maupun kamu bebas ya buat ngelakuin apa saja? Bukan lah begitu? Apa mas lupa?". Tere seakan terbawa emosi karena Dave susah ditebak.


Sedikit sedikit posesif sedikit sedikit acuh. Membuat Tere bingung dengan perasaan suaminya yang macam cuaca itu


Bagaikan di skak mat, Dave seakan kehilangan kata kata untuk membalas interogasian Tere. Sedangkan Tere yang menatap Dave mendelikkan matanya


"Atau jangan jangan? Mas sudah mulai cemburu ya sama aku? Atau mas mulai membuka hati mas buat aku? Buktinya mas seakan gak rela kalau kak Athur memberikan kalung ini sama aku".


Tere malah tersenyum lebar ke arah Dave, ia meledek Dave habis habisan. Dave pun tidak menggubris sama sekali. Dan kebetulan makanannya sudah selesai. Buru buru ia bayar dan pergi meninggalkan Tere.


"Yah kok aku ditinggal sih mas?!". Seru Tere yang nasi gorengnya masih setengah porsi. Daripada mubazir, ia memakannya dan tidak mengejar Dave. Perutnya kali ini lebih penting daripada soal Dave yang ngambek

__ADS_1


" Dasar tukang ngambek. Bukannya gak kebalik ya, harusnya cewek yang ngambek. Lah ini?! Malah cowoknya". Tere malah sibuk mengomel sendiri. Untung di kantin masih sepi jadi omelannya tidak terdengar oleh orang lain.


Sesudah selesai, Tere pun menuju kasir untuk membayar. Ia berjaga jaga saja. Barangkali Dave hanya membayar punya dia sendiri.


"Mbak totalnya nasi goreng meja 3 berapa ya?". Tere sembari mengeluarkan dompet dari slingbag nya .


" Oh kalau itu sudah dibayar sama mas mas yang tadi duduk sama mbak". Kasir itu memberi penjelasan.


"Oh gitu, ya sudah makasih ya mbak". Tere berlalu pergi, tidak lupa ia juga membeli bubur untuk pesanan orang tuanya dan papa mertuanya


Letaknya tidak jauh dari tempat nasi goreng itu. Hanya beberapa langkah saja. " Mbak bubur ayam 3 ya". Tere memesan dan menunggu pesanannya datang.


Ia menjadi senyum senyum sendiri. "Lucu ya kamu mas, kamu tuh ngambek tapi sempat sempatnya membayari aku. Emang deh suami aku tuh limited edition", batin Tere


***


Ternyata Dave tidak kembali ke ruang mama Anita, tetapi ia langsung cus ke kantor. Butuh sekitar 25 menit menuju ke kantor karena jalanan mulai macet.


Sesampainya di kantor, ia memanggil Baron. "Segera ke ruangan saya sekarang". perintah Dave dari telepon


Tok


Tok


Tok


" Masuk"


Terlihat Baron memasuki ruangannya dan menunduk singkat sebagai tanda hormat pada bosnya. "Ada yang bisa saya bantu pak?"

__ADS_1


"Saya mau kamu pesankan kalung liontin edisi terbaru yang limited edition. Bisa kan? Untuk hari ini?"


__ADS_2