Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 56


__ADS_3

Kami minta maaf karena sudah membahas ini Re. Kami menghargai keputusanmu. Kami akan merahasiakan keberadaanmu. Kamu berhak bahagia." Ucap Kirani


"Iya, aku akan mengurus surat ceraiku dengan Dave juga." Tere bersikukuh untuk bercerai saja dari Dave.


Mendengar kata 'cerai' Ares dan Kirani juga agak kaget. Secepat itu Tere memutuskan semua itu.


Ares memandang Tere dengan penuh penjelasan, begitu juga dengan Kirani. Tapi mereka memilih bungkam.


Tere yang melihat ekspresi pasangan tersebut hanya menghela nafas. Sebenarnya keputusan ini baru ia pikirkan. Ia ingin memperbaiki semuanya tapi rasa rasanya sulit. Ia terlanjur membenci Dave dengan segala kelakuan yang ia perbuat.


"Kenapa?" Tere menatap Kirani dan Ares. Karena tatapan mereka menyaratkan penjelasan dari Tere.


"Maaf Re, tapi kenapa harus mengambil jalan cerai? Apa memang tidak bisa diperbaiki?" Kirani akhirnya memberanikan untuk menanyakan itu.


Cerai adalah hal yang sangat menyakitkan bagi kedua belah pihak. Dan bagaimana mungkin Tere tanpa pertimbangan dua kali langsung mengajukan cerai.


"Aku sudah tidak bisa mentolerir sikap Dave. Urusan selingkuh itu merupakan hal yang paling fatal. Memasukkan orang ketiga ke rumah tangga itu sama saja dengan perumpamaan duri dalam daging. Aku cinta Dave tapi di sisi lain aku juga membencinya. Biarlah rasa benci yang mendominasi hati ini."


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Maaf bukan aku membela sahabatku sendiri. Tapi Dave saat ini sudah banyak berubah. Ia sama sekali tidak berhubungan lagi dengan Clara."


"Apa kamu 24 jam bersamanya? Tidak kan? Lantas bagaimana kamu bisa tahu bahwa Dave tidak bersama Clara."


Pernyataan dari Tere itu seketika membuat Kirani dan Ares tidak berkutik. Ia bingung menjawab apa. Tapi setahu Ares, Dave tidak lagi berhubungan dengan Clara.


Ares sengaja tidak memberitahu Tere tentang Clara yang meminta pertanggungjawaban dari Dave karena menuduh Dave telah menghamilinya.


"Iya terserah Re, mau percaya atau tidak. Tapi aku juga sahabatnya. Aku juga memantau perkembangan hubungan Dave dan Clara. Tapi memang sudah tidak ada lagi sampai saat ini."


Ares menatap Tere dengan penuh permohonan. Ia begitu sedih jika harus menyaksikan Dave bercerai dengan Tere.


"Keputusanku tentang bercerai sudah aku pikir matang matang. Segala konsekuensi juga sudah kupikirkan. Tentang mama Anita, dan semuanya. Sudah aku pikirkan. Tapi untuk saat ini aku belum menghubungi mama Anita lagi."

__ADS_1


Tere memang masih berhubungan baik dengan mama mertuanya itu. Ia tidak mungkin langsung berbicara soal cerai, ia kana bicara pelan pelan dengan mama Anita.


"Tante Anita juga kesehatannya agak memburuk Re." Ya! Ares juga memantau kondisi dari orang tua Dave itu. Mama Anita sampai saat ini juga dirawat di rumah sakit.


Mendengar hal itu hati Tere kembali terpanggil. "Mama Anita kambuh lagi?" Tere menatap tajam Ares. Bagaimana mungkin ia tidak tahu soal ini.


Tere berpikir ini ada hubungannya dengan dirinya dan Dave yang bertengkar sampai aka pisah. Jika kalau kondisinya seperti ini. Mungkin Tere akan mengundur proses perceraiannya.


"Iya Re, Tante Anita sudah dirawat di rumah sakit dari lusa. Kesehatannya kian memburuk, aku tahunya juga dari Dave. Aku juga akan menjenguknya sehabis dari Beijing ini."


Tere bimbang, jika menyangkut tentang mama mertuanya. Mama Anita sudah Tere anggap sebagai mama kandungnya sendiri.


Tapi, Tere sudah bertekad bahwa ia akan tetap di Beijing. Karena jika Tere kembali ke Indonesia, ia pasti akan bertemu dengan Dave.


Tere belum bisa melihat Dave lagi. Mengingat wajahnya saja membuat sedih apalagi jika harus bertemu. Tere belum sanggup.


"Aku video call saja, aku tidak mau kembali ke Indonesia. Itu adalah tempat terburuk bagiku. Aku bertekad tidak akan kembali ke negara itu."


****


"Halo selamat siang. Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa hasil tes DNA sudah bisa diambil nanti sore. Silahkan Tuan mengambilnya nanti."


"Baik, terimakasih."


Pihak rumah sakit menghubungi Dave untuk mengambil hasil tes DNA.


Ya! Dave dengan paksa menyuruh Clara untuk tes DNA. Hanya itu satu satunya cara agar mengetahui kebenaran itu.


Jika memang Clara mengandung anaknya, maka Dave terpaksa menikahinya. Tapi itu kemungkinan terburuknya. Ia merasa memang tidak berhubungan dengan Clara.


"Aku akan mengetahui kebenarannya Cla, kamu sudah tidak bisa mengelak lagi. Kamu tidak bisa membohongiku dengan mudah. Jika dulu aku memang masih mencintaimu,tapi saat ini rasa cinta itu sudah hilang dari hatiku."

__ADS_1


Dave yang duduk di ruangan kantornya hanya tersenyum miring.


Ia lantas menarik atensinya pada foto yang terpajang di meja itu. Ya! Itu fotonya dengan Tere saat menikah.


Dave mengambil foto itu, ia usap bagian foto Tere. "Sayang, aku sangat merindukanmu. Dimana kamu sekarang Sayang? Apa kamu tidak mau bertemu dengan suamimu ini? Aku sudah tidak lagi mencintai Clara, Sayang. Aku hanya mencintaimu, tapi sayang sekali, itu sudah terlambat. Kamu sudah pergi, tapi aku janji, aku akan mencarimu."


Dave mencium foto itu. Ia lantas melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. Perusahaannya kini sudah membaik pasca di retas oleh oknum tertentu. Oknum itu ternyata juga rivalnya tapi entah kaitannya dengan Clara atau tidak ia belum bisa memastikan.


Setelah beberapa jam, akhirnya Dave selesai menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga harus menjenguk mamanya yang terbaring di rumah sakit.


Sebenarnya pikiran Dave sangatlah bercabang. Mulai dari Tere yang entah kemana perginya, Clara yang meminta pertanggungjawaban, dan sekarang ini Mama nya yang terbaring di rumah sakit.


Dave membereskan semua pekerjaannya dan akhirnya Dave memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk mamanya dan sekaligus mengambil hasil tes DNA.


"Aku sudah tidak sabar mengetahui hasilnya." Dave menaiki mobilnya dan melesatkannya ke rumah sakit itu. Setelah 25 menit, akhirnya Dave sampai.


Ia langsung mengambil hasil itu. "Saya mau mengambil hasil tes DNA atas nama Dave Dharmendra. Apakah sudah bisa diambil?"


"Sudah Tuan. Sebentar, saya ambilkan terlebih dahulu." Pihak rumah sakit itu mengambilkan hasil tes itu


"Ini Tuan hasil tes DNAnya." Pihak rumah sakit itu menyerahkan hasil tes itu dan Dave menerimanya


"Terimakasih"


Dave menerima surat itu. Sekarang hasil tes DNA sudah tepat di tangannya. Ia sebenarnya juga sangat takut. Bayangan kemungkinan terburuk itu sangatlah jelas di pikirannya saat ini.


Jika Ares ada di Indonesia, pasti Dave akan mengajaknya. Ia tidak ingin kaget sendiri. Dave menepikan dirinya ke tempat yang agak sepi. Ia menuju taman rumah sakit itu, kebetulan di taman itu sepi.


Dave mendaratkan bobotnya di kursi taman itu. Dan akhirnya ia membuka lembaran tes itu.Dave membelalakkan matanya, ia benar benar kaget dengan hasilnya.


"Jadi... "

__ADS_1


__ADS_2