
"Yang sakit sini Ma," protes Dave. Mama Anita menguraikan pelukannya dengan Tere. "Maaf Nak, Mama masih terlalu bahagia bisa memeluk menantu kesayangan Mama ini." Mama Anita terlalu senang saat bertemu dengan Tere.
"Maafkan putra Mama yang sangat bandel dan kurang ajar itu, Sayang." Mama Anita menggengam tangan Tere. Ia memandang manik mata menantunya. Tere pun mengulas senyum. "Iya, Ma. Tere maafkan kok. Dan Tere juga mau minta maaf karena ynag membuat Dave sampai seperti ini adalah Tere."
Tere mulai meneteskan air matanya lagi. Rasa bersalah itu belum hilang di benaknya. Mama Anita langsung menggeleng. "Bukan salahmu, Sayang. Ini semua sudah jalan takdir agar kalian bersatu kembali. Dave itu memang akan berkorban banyak jika memang itu berkaitan dengan orang yang ia cinta yaitu kamu."
Tere langsung mengalihkan pandangannya ke Dave. Dave pun tersenyum lemah. Tere mengalihkan lagi pandangannya ke mama Anita. "Iya Ma. Buktinya Dave sampai memboyong perusahaannya kesini." Papa Surya yang belum ada kesempatan ngobrol dengan Tere pun langsung menghampiri Dave.
"Ayo bangkit, kamu nih loyo saja." Perkataan itu membuat Tere tergelak tawa. "Hahaha masih sakit Pa. Itu tangannya patah," ucap Tere sambil mencium punggung tangan papa Surya. Tere dan papa mertuanya itu pun saling memeluk. "Maafkan Dave ya, Nak." Hanya permohonan maaf lah yang keluar dari bibir papa Surya. Tere mengangguk pelan.
Mereka pun saling bertukar cerita. Tentang kepanikan mama Anita sampai papa Surya yang menjadi amukan mama Anita karena tidak segera pulang dari kantor untuk terbang ke Beijing. Semua diceritakan.
"Ma, Pa maafkan Dave. Selama ini Dave banyak salah ke kalian. Bahkan Dave pernah bunuh diri akibat frustasi." Dave tidak ingin menutupi apa yang menjadi kesalahannya dulu.
Jelas mama Anita dan papa Surya tercengang. "Apa? Bunih diri?" tanya orang tuanya kompak. Mereka langsung mencari validasi dari Tere. "Apa benar itu, Sayang?" tanya mama Anita ke Tere.
"Iya Ma. Dave pernah melakukan percobaan bunuh diri karena aku menggugatnya cerai dulu, Ma, Pa." Tere membeberkan alasan sebenarnya. Sontak saja pandangan tajam mereka langsung tertuju ke Dave. "Oh bunuh diri ya! Nanti deh Mama bawain kamu baygon terus minum sana. Dasar pakai acara konyol kaya gitu. Malu tahu!" seru mama Anita sambil menjewer telinga Dave. Dave mengiris kesakitan. Sungguh miris nasibnya hahaha.
"Aw sakit Ma. Ampun lho," rintih Dave sambil memegangi telinganya yang panas akibat jeweran maut dari sang mama. Papa Surya pun ikut menimpali perkataan mama Anita. "Beliin saja Ma. Biar tahu rasa dia. Bukannya diperjuangkan malah menyerah pakai acara bunuh diri," ucap papa Surya sambil menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pikiran putranya.
__ADS_1
"Maafkan Dave, Ma, Pa. Ya habisnya mau gimana lagi," ucap Dave masih bisa denial. Tere hanya mendengkus. "Dasar emang manusia batu!" batin Tere sambil memandang suami tampannya.
******
Lima hari kemudian...
Kondisi Dave sudah mulai membaik. Walaupun tangannya masih belum pulih hingga saat ini tapi ia sudah bisa beraktivitas dengan satu tangannya. Dave sudah masuk kantor lagi.
Karyawan pun menyambutnya dengan ramah. Mereka begitu senang karena Dave sudah kembali pulih. Hari ini dia juga akan mengenalkan Tere ke semua karyawan yang bekerja di kantor barunya.
"Mohon perhatian, terimakasih atas sambutan meriah kalian. Saya benar-benar mengucapkan beribu terimakasih. Dan tujuan saya mengumpulkan kalian semua untuk mengenalkan ini adalah istri saya dan kalian pasti tahu siapa dia. Dia adalah Tere Sanjaya pemilik CEO di perusahaan Tuan Xiao Bao." Karyawan langsung bertepuk tangan meriah. Mereka tidak menyangka bahwa Tere adalah suaminya Dave Dharmendra.
Mungkin ini adalah takdir Tuhan yang tidak pernah Dave dan Tere bayangkan. Semoga mengalir begitu saja. Banyak air mata yang terbuang akibat kejadian tempo beberapa bulan yang lalu. Yang jelas sekarang mereka sudah kembali bahagia.
****
"Kamu yakin mau ke rumah Oma Opa?" tanya Tere saat dirinya bersama Dave menuju ke mansion milik Xiao Bao. Dave yang sedang memyetir mobil pun melirik ke arah Rere sekilas. Ia tersenyum. Iya Sayang, aku yakin."
Tere menganggukkan kepalanya. Ia belum bicara sebelumnya dengan opa dan omanya. Semoga saja Dave diterima baik oleh opa dan omanya.
__ADS_1
Setelah sampai di mansion, mereka pun turun dari mobil. Tere sudah berprasangka buruk terhadap reaksi Li Xie Cu dan Xiao Bao. Tapi Dave menggengam tangan Tere. Ia memberikan afirmasi positif terhadap istrinya.
"Tenang ya, kita hadapi semua bersama. Aku yang akan bertanggung jawab atas ini semua." Mereka langsung masuk ke mansion itu dan mendapati Li Xie Cu dan Xiao Bao yang duduk di taman belakang.
"Oma, Opa," ucap Tere dengan hati-hati. Keduanya yang asyik berbincang langsung menoleh ke arah Dave dan Tere. Sungguh ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
Baik Li Xie Cu maupun Xiao Bao langsung beranjak dari kursi itu dan menghampiri Dave dan Tere. Xiao Bao memberanikan bertanya terlebih dahulu. "Ini Dave, Sayang?" Tere pun memgangguk.
Li Xie Cu membekap mulutnya seakan tidak percaya akan hal itu. Xiao Bao sebenarnya agak kesal karena bagaimana pun Dave pernah menyakiti cucunya.
Tapi basa-basi, Xiao Bao langsung melayangkan bogeman mentah ke arah Dave. "Bastard!" seru Xiao Bao tersulut emosi. Tere sudah menduga bahwa Xiao Bao akan emosi. Li Xie Cu langsung melerai keduanya. Dave tidak membalas apapun. Dia memilih diam.
Tere juga melerai. "Kenapa kamu menyakiti cucu saya, hah! Dan sekarang kamu mau menyakitinya lagi?" tanya Xiao Bao masih dalam keadaan emosi. Li Xie Cu menahan Xiao Bao agar tidak melayangkan bogemannya lagi. "Maafkan saya Tuan Xiao Bao. Saya sudah menyakiti Tere. Tapi untuk kali ini beri saya kesempatan kedua. Saya akan memperbaiki semuanya. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk membahagiakan Tere."
Xiao Bao hanya tersenyum miring. "Kamu berjanji? Jangan pernah berucap soal janji. Bahkan kamu sendiri sudah berjanji pada Tuhanmu tapi kamu mengingkari!" seru Xiao Bao. Tere menghela nafas panjang. Gilirannya bicara sekarang.
"Opa, dengarkan Tere. Tere sudah memaafkan Dave. Dan juga ia sudah membuktikan cinta itu, Opa. Opa tahu siapa yang menyelamatkan Tere dari kecelakaan itu? Dia adalah Dave Dharmendra, suami Tere." Tere mulai meneteskan air matanya dan memeluk Xiao Bao. Hati Xiao Bao kembali terketuk melihat cucunya menangis.
"Sudah Sayang, jangan menangis seperti ini. Jika kamu memang mantap dengan Dave. Opa akan beri restu. Tapi tolong, jangan menangis lagi. Hati Opa terasa teriris rasanya," ucap Xiao Bao tulus.
__ADS_1
"Benarkah Opa?" tanya Tere serius.