
"Sampai kapan pun, aku tidak akan mengabulkan permintaan darimu, Sayang... " ucap Dave lirih.
Dave menggengam tangan Tere, tapi Tere menghempaskannha kembali. "Lepas Dave!" bentak Tere sambil meninggalkan ruangan meeting. Dave hanya mematung.
"Sayang, aku akan memperjuangkanmu, apapun itu." Dave lantas menyusul Tere dan meninggalkan ruangan meeting itu. Ia kembali ke perusahaannya lagi. Masih banyak pekerjaan yang ia selesaikan nanti.
****
Satu minggu kemudian...
Tring
Tring
Tring
Bunyi panggilan telepon terdengar nyaring di telinga Dave. Padahal ia sedang sibuk bekerja.
Satu dua kali Dave tetap abaikan karena ia masih fokus dengan berkas yang ada di tangannya.
"Gila ni orang, dari tadi nelponin gue terus," Dave melihat panggilan telepon itu ternyata dari Ares.
"Dave! Lama banget lu angkatnya. Gimana kabar lu?" tanya Ares dalam panggilan itu. Dave memang lama tidak komunikasi dengan Ares karena memang sedang sibuk saja.
"Ya begitulah.... " ucap Dave lirih, sepertinya ia sedang tidak bersemangat untuk bercerita lebih tentang apapun kegiatannya di Beijing.
"Idih belum sarapan lu? Lemas banget! Semangat napa?" Ares meledek sahabatnya yang terlihat lesu dalam menjawab pertanyaan darinya.
"Ya gimana tidak lemas sih, bini gue terus mbujuk gue untuk menandatangani surat perceraian." Dave menghela nafas panjang.
Ares yang semula semangat pun juga ikut sedih tapi ia tidak boleh menampakkannya ke Dave lewat suara. "Ya lu usaha lah. Masa kalah sama gue dulu? Gue sama Kirani dulu juga susah banget. Kirani dulu juga menolak mentah mentah, gue usaha terus sampai dia luluh. Nih buktinya saja bini gue sampe tekdung hahaha."
Dave memutar bola matanya malas, "Dih malah adu nasib lu. Bantuin kek gimana kek, malah adu nasib. Pikir sini mau tukar nasib?"
Dave jadi jengkel karena Ares malah tidak membantunya. Di seberang, Ares malah tertawa.
"Ya lu usaha buat temuin dia, nanti waktu makan siang lu stand by disana dan ajakin dia makan siang. Ya siapa tahu dia mau kan tidak ada yang tahu mood dia hari ini?"
Ares mulai mengeluarkan ide ide yang tersimpan dalam otak tumpulnya hahahaha.
"Iya juga, gue tidak kepikiran sampai situ sih. Ntar deh gue coba, siapa tahu dia emang beneran mau."
__ADS_1
Dave kembali sumringah dan semangat. Ia akan mengusahakan apapun demi bisa bersama istrinya lagi.
"Nah, gitu dong. Jadi laki laki harus cepat tanggap darurat." Ares asal berceloteh.
"Dih, emang gue BNPB. Gue mu kerja lagi. Nanti lagi saja teleponnnya. Gue mau fokus kerja dulu."
Dave memang sesibuk itu jadi dia bakal menyelesaikan pekerjaannya dengan segera agar nanti bisa makan siang dengan istrinya.
"Ya elah giliran sudah dapat solusi main mau nutup telepon saja. Ya sudah sukses buat nanti."
"Hmm"
*****
Tepat jam makan siang, Dave sudah berada di perusahaan Tere. "Siapa yang mau bertemu denganku?" Tere yang masih menyelesaikan sedikit kerjaannya.
"Tuan Dave Dharmendra, Re. Dia mau ketemu denganmu." Mei memberitahu Tere. Tere yang awalnya masih fokus langsung mengalihkan atensinya dan mendongak ke arah Mei.
"Dave? Ngapain di kesini?" Tere terlihat sangat keberatan kalau Dave mau menunggunya.
"Entahlah, katanya ingin bertemu denganmu."
"Tolak saja, aku tidak mau bertemu dengannya." Tere sudah membuat keputusan itu. Mei menggelengkan kepalanya, sisi tengil dalam dirinya sudah muncul lagi.
"Ya sayang saja sih, Tuan Dave ganteng banget. Kalau kamu tidak mau, biar aku saja tidak apa apa, hehehe." Tentu Mei akan dengan senang hati menerima Dave. Mei memang sudah begitu sikapnya.
Entah kenapa dada Tere terasa panas jika ada yang memuji suaminya. "Hei kenapa kamu bilang dia ganteng. Jangan memujinya, aku tidak suka!" seru Tere sambil tersungut sungut.
Mei tentu heran, kenapa Tere harus marah dan sewot? Apa ada hubungan antara Tere dan Dave?
"Gapapa kali, aku normal kok. Aku suka pria tampan, dewasa, ramah, ba...."
"Diam! Aku akan menemuinya, dan awas saja kamu memujinya lagi." Tere kembali berseru, ia terlihat kesal karena Mei terus memuji Dave.
"Ya sudah deh, sudah masuk jam makan siang. Aku permisi dulu." Mei meninggalkan ruangan Tere dan Tere pun segera menyusul ke lobby menemui Dave.
*****
"Sayang... " ucap Dave lirih sambil bangkit dari duduknya.
"Ada apa kamu kesini, Dave?" tanya Tere penuh penekanan.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu untuk makan siang, Sayang." Begitu antusiasnya Dave menyampaikan maksudnya.
Tere menghela nafas, kenapa dia harus terjebak dalam kondisi seperti ini. "Aku bisa sendiri. Aku akan makan siang sendiri tidak bersamamu."
Tere berlalu begitu saja karena memang pembahasan mereka dinilai sebagai teman dekat oleh karyawan kantor. Daripada menimbulkan banyak asumsi, lebih baik Tere segera keluar dari kantor dan segera makan di restoran langganannya yang tempatnya tidak jauh dari kantor, jadi cukup jalan kaki sudah sampai.
"Tunggu... " Dave mengejar Tere tapi istrinya itu seakan tutup telinga tidak mendengarkan perkataan Dave.
Tere terlanjur kesal pada kondisi seperti ini, ia ingin menghindar dari Dave dan saat ini dia malah akan terus terusan bertemu dengan Dave karena Dave sudah memindahkan perusahaannya di Beijing.
"Tunggu... " Dave terus mengejar Tere yang jalan cepat karena tidak ingin bersamanya.
Tapi truk berasal dari arah selatan itu begitu kencang dan sepertinya Tere tidak mengindahkan hal itu.
"Sayang, awas!" seru Dave yang langsung menyelamatkan Tere. Tere berhasil selamat dan Dave? Dave ingin menghindar juga tapi kecepatan truk itu terlalu kencang membuatnya terpental dan bersimbah darah.
"Dave!" seru Tere langsung menghampiri suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tere memangku kepala Dave, ia menggoncangkan tubuh suaminya. Dengan tangisan yang kencang semua orang pun juga ikut mengerubunginya termasuk Mei.
"Tere!" Mei syok karena Tere memangku Tuan Dave yang sudah bersimbah darah. Tidak lama dari itu ia langsung menelepon ambulans.
******
"Dave bertahanlah, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai kenapa napa... " ucap Tere lirih.
Mei yang berada di sampingnya juga bertanya tanya. Apa maksud dari Tere? Apakah hubungan Dave dan Tere sedekat itu?
"Sudah Re, Tuan Dave masih ditangani oleh Dokter. Kamu yang kuat ya, kita berdoa untuk keselamatan Tuan Dave."
Mei tidak tega dengan Tere yang menangis terisak itu. Ia mengusap punggung Tere.
"Dave kecelakaan gara gara aku, Mei. Aku merasa sangat bersalah atas hal ini, a-aku... "
Tere sudah tidak bisa melanjutkan kata katanya, ia sangat bersedih atas hal ini.
Tepat satu jam Dokter itu keluar dari ruangan.
"Apakah anda keluarga pasien?"
"Iya saya istrinya Dok." ucap Tere spontan hal itu membuat reaksi Mei terkejut.
__ADS_1
"I-istri?"
...Hai readers, maafin thor ya lama tidak update karena memang masih ada kesibukan real life dari athor. Tetap ikuti cerita ini ya. Boleh dong komen bab ini gimana?...