Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 64


__ADS_3

Di seberang sana, Ares terlihat panik. "Re, cepat kesini. Dave makin kritis kondisinya memburuk. Cepat Re!"


"Apa!" Tere memekik. Dia begitu kaget karena kemarin memang kritis tapi ini sudah memburuk. Memang seburuk itu sekarang kondisinya?


"Dia kritis dan kondisinya kian memburuk, cepat kesini ya."


"Iya iya pasti. Aku akan kesana sekarang." Tere langsung mematikan panggilan telepon itu dan langsung bergegas pergi ke rumah sakit.


Tere tidak lupa juga mengabari Mei yang berada di ruang meeting. "Mei, kamu gantikan posisiku, aku akan ke rumah sakit. Ini darurat banget." Tere begitu tergesa gesa.


Mei yang baru saja menyiapkan berkas itu langsung menoleh dan mengernyit. "Ba-baiklah, memang yang sakit sia.... "


Mei belum melanjutkan pembicaraannya tapi Tere sudah berlalu begitu saja. Ia jadi penasaran juga, sepenting apakah orang itu? Sampai membuat Tere mengalihkan meeting dengan perusahaan besar itu.


"Siapa ya?" Mei bermonolog sambil menata apa yang diperlukan dalam meeting nantinya. Ia akan menghandle sendiri.


Sementara Tere langsung memacu mobilnya. Hal ini berbeda dengan kemarin. Rasa cemas dan khawatir menjadi satu. Dirinya sepanik itu juga.


Walaupun Dave sudah menyakiti hatinya. Tapi kali ini hatinya kian terketuk. Ia mencemaskan suaminya itu.


****


"Ares!" Tere berlari kecil menuju Ares. Dave menunjukkan kondisinya memang makin menunjukkan penurunan.


"Re, Dave, Re. Dia benar benar butuh kamu. Gengamlah tangannya Re." Ares memundurkan diri dan mempersilakan Tere berdiri di samping Dave.


Tere mengesampingkan egonya. Hatinya terketuk untuk langsung menyentuh tangan Dave. Ia menciumi punggung tangan Dave.


"Dave, ku mohon bertahanlah. Bertahanlah." Entah apakah terbawa suasana, Tere meneteskan air matanya. Ia mengusap kepala Dave juga.


Suasana haru sangat terasa di ruangan itu. Ares lah saksinya. Ares bisa melihat dari sorot mata Tere yang menyiratkan tentang kepedulian dan cinta. Memang Ares bukan pakar, tapi ia paham soal sorot mata itu.


"Re, kita harus banyak berdoa." Ares mengelus punggung Tere. Tere masih menggengam erat tangan Dave.


Belum lama dari Ares berbicara, kondisi Dave kian memburuk dan Ares memanggilkan dokter untuk memeriksanya.


Ares langsung memencet tombol darurat itu dan dokter pun tiba. Dave benar benar sekarat. Ia sudah diujung hidupnya.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya. Kenapa kondisinya makin memburuk?" Tere mulai menangisi kondisi Dave yang kian memburuk.


Dan tepat setelah dokter memeriksa jantung Dave sudah berhenti berdetak. Tere yang menyadari hal itu langsung berteriak histeris.

__ADS_1


"Bangun bodoh! Bangun pengecut!" Tere menggaungkan kalimat itu. "Mohon maaf Nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa Tuan Dave tidak tergolong."


Dokter mengatakan itu dan Tere langsung menghamburkan tubuhnya ke tubuh Dave. Ia menggoncangkan tubuh Dave.


"Bangun bodoh. Kamu pengecut Dave! Mana janjimu selalu ingin bersamamu mencintaimu. Kamu pengingkar janji Dave!"


Tere berteriak histeris. Ia menangis sejadi jadinya. Ares menganga tidak percaya. Ia belum percaya Dave telah tiada.


Matanya nanar memandang wajah Dave yang sudah pucat. Ia mengusap punggung Tere yang masih memeluk tubuh suaminya.


"Bangun pengecut, aku bilang bangun!" Tere kembali memekik dan entah keajaiban dari mana.


Tiba-tiba saja denyut Dave kembali lagi. Tere langsung memandang Dave. Dokter yang ada di sampingnya langsung memeriksanya.


"Syukurlah ini keajaiban. Tuan Dave kembali hidup dan kondisi sudah mulai membaik. Mungkin malam nanti akan siuman. Ditunggu saja, Nyonya. Paling lambat besok pagi."


Dokter itu tersenyum ke arah Ares dan Tere. Ares dan Tere juga mengembangkan senyum. Tangis Tere seketika menyurut begitu saja.


"Terimakasih, Dok." Ares mengucapkan rasa terimakasihnya pada Dokter yang sudah mengecek.


"Iya Tuan, kalau gitu saya permisi dulu." Dokter itu langsung meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu, Tere masih memeluk tubuh Dave. Entah kenapa rasanya ia sulit membenci Dave lagi. "Awas saja kamu, Dave. Aku akan buat perhitungan denganmu. Aku akan menghajarmu jika kau sudah siuman. Ingat itu aku tidak main main."


Rasanya tidak kuat harus kehilangan sosok yang masih menjadi suaminya itu.


Walaupun Tere mengkhawatirkan Dave, tapi keinginan cerai masih ada di benaknya. Tapi entah, pikir saja nanti.


"Biarkan Dave istirahat Re. Kamu juga istirahat. Kasian air matanya dari tadi tumpah terus."


Ares agaknya menyindir Tere yang katanya tidak cinta lagi tapi buktinya ia sekhawatir itu


"Apaan sih Res. Aku hanya menangis palsu supaya si bodoh ini bangun."


Tere memalingkan wajahnya. Sedangkan Ares malah mesem mesem sendiri.


"Yakin palsu? Sepertinya actingmu perlu diberi penghargaan kalau begitu." Ares sudah dalam mode tengilnya.


Tere tidak menanggapi, ia memutar bola matanya malas. Sekarang ia menggenggam tangan Dave.


Ia mengelus punggung tangan Dave. Ia rasai punggung tangan yang ia rindukan. Dari tangan Dave, Tere pernah merasakan bahagia.

__ADS_1


Mereka menunggu Dave yang belum sadar itu. Tidak ada aktivitas yang berarti.


"Re, kamu tidak kembali ke kantor lagi?" Ares melihat Tere terlihat lelah. Smentara jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Tere menoleh ke arah Ares. "Iya aku akan kembali. Aku titip si bodoh ini ya. Jika dia kembali gaya gayaan mau mati, kamu tinggal hubungi aku lagi. Aku akan memarahinya lagi."


Ares hanya manggut manggut saja. "Oke kalau begitu, hati-hati di jalan. Jangan rindu sama suami sendiri. Nanti kamu harus kesini. Suami kamu bakal siuman."


Tere lagi lagi tidak menanggapi, ia langsung meninggalkan ruang itu.


*****


"Tere, kamu sembab? Kamu habis nangis?" Mei memastikan sahabatnya itu. Ia memperhatikan wajah Tere.


Tere membuang muka, " Apaan sih, sok tahu banget deh. Sudah sana kembali kerja. Tadi gimana meetingnya?"


"Aman terkendali, tenang saja. Mereka mau bekerjasama dengan perusahaan ini kok."


"Makasih ya. Ya sudah aku ke ruangan ku. Bye."


Tere langsung menuju ke ruangannya mengerjakan semua kerjaannya hingga selesai. Ia begitu fokus sehingga perkerjaan cepat selesai.


"Alhamdulillah selesai juga. Aku mau pulang dulu mau mandi dan makan." Tere langsung pulang ke mansion.


****


Setelah selesai mandi dan makan, malam itu Tere ke rumah sakit lagi. "Sayang, kamu mau kemana?" Li Xie Cu menanyai cucunya yang sudah berdandan rapi.


"Mau ke rumah sakit, Oma. Dave akan siuman malam ini. Aku ingin melihat konsisinya."


Li Xie Cu seperti mau menyanggah. Tapi Tere langsung bicara lagi. "Oma tenang saja, aku tidak akan kembali sama Dave kok. Hanya penasaran kondisinya saja."


Li Xie Cu akhirnya mengangguk. "Hati-hati Sayang."


*****


"Res! Gimana kondisi Dave?"


"Seperti yang kamu lihat, dia masih setia memejamkan matanya. Mungkin perlu kamu marahi dulu baru dia bangun."


"Ada ada saja kamu, Res."

__ADS_1


tidak berselang lama Dave mulai membuka kelopak matanya. Tere mengerjab.


"Sa-sayang?" Beo Dave lirih


__ADS_2