Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 40


__ADS_3

"Dave ada?" Dengan santai nya Clara bicara seperti itu di hadapan Tere.


Tere pun mengatur emosinya, ia mengepalkan tangannya. Rasanya ingin menonjok muka nenek lampir itu.


Tidak dijawab oleh Tere, ia langsung menutup pintu itu . Tidak lupa juga panggil bi Minah.


"Bi, Bi Minah!" Tere memanggil bi Minah yang masih berkutat di dapur.


"Iya ada apa Nyonya?" Bi Minah menarik atensinya ke arah majikannya itu. Ia melihat raut wajah yang begitu sendu dari muka Tere.


"Tolong bukakan pintu untuk orang di depan itu, saya mau pergi dulu bi." Tere menyuruh bi Minah untuk membukakan pintu itu. Tidak salah? Memasukkan pelakor dalam rumah?! Atau Tere sudah muak?!


"Baik Nyonya." Bi Minah menundukkan kepalanya tanda ia tunduk akan perintah Tere. Ia belum mengetahui tamu itu siapa. Sebenarnya bi Minah sendiri sudah tahu siapa itu Clara karena ia sudah bekerja di mansion Nyonya Anita sejak 15 tahun yang lalu.


****


"Mungkin ini yang terbaik. Dengan membiarkan Clara masuk aku ingin tahu bagaimana reaksi mas Dave."


Ternyata betul, Tere hanya ingin menguji Dave saja. Selebihnya ia menaruh banyak kecemasan pada rumah tangganya.


Kali ini Tere akan menemui Amelys yang baru saja pulang dari Zurich, Swiss. Kali ini ia akan menjemputnya di bandara bersama Athur.


Tere pun langsung menghubungi Athur untuk ikut juga dalam penjemputan.


Ia mengambil ponselnya dan tidak lupa menepikan mobilnya terlebih dahulu jika ingin bertelepon.


****


Kring


Kring


Kring


Athur yang sudah bersiap siap pun dikejutkan dengan panggilan telepon dari Tere. Ia mengernyitkan dahinya. "Tere telepon?"


Tidak berselang lama Athur pun menjawab panggilan itu.


Athur : "Halo, assalamu'alaikum Re. Ada apa?"


Tere : " Waalaikumsalam Kak Athur. Gini Kak, aku lagi senggang nih, boleh gak kalau aku ikut njemput Amelys di bandara bareng Kakak?


Athur : "Wah, boleh dong Re. Kebetulan ini mama sama papa tidak bisa menjemput, jadi aku sendiri. Mama papa lagi sibuk nyiapin perayaan di rumah buat menyambut kepulangan Amelys"

__ADS_1


Tere : "Oke kak, kita langsung ke bandara berarti?"


Athur : "Iya Re, aku tunggu di bagian utara ya"


Tere : "Oke kak, kalau gitu aku langsung kesana"


Athur "Hati hati"


Setelah mematikan panggilan telepon itu, Tere langsung menuju ke bandara. Jarak dari rumahnya ke bandara mungkin sekitar 40 menit.


Tere tahu bahwa Amelys akan pulang karena Amelys juga mengabarinya. Jadi ia datang, ia juga kangen dengan sahabatnya itu dan juga sebagai pelipur lara karena Dave masih belum bisa melupakan Clara.


"Oke, aku juga mau beli hadiah dulu sebentar"


Tere pun mampir ke mall yang di dekat bandara nanti. Ia akan membeli kado untuk sahabatnya.


****


"Aduh pilih yang mana ya?" Tere kebingungan antara dua pilihan tas berwarna biru dan pink. Amelys suka warna biru, tapi juga suka warna pink.


"Biru saja Re." Tiba-tiba Athur juga ada di store itu. Tere menoleh ke arah suara itu. "Kak Athur? Kok bisa ada di sini sih?" Tere mengulas senyum manisnya


"Iya, aku juga membeli barang disini dulu untuk adik kesayanganku itu. Hahaha." Athur sudah membawa paperbagnya. Ia menghadiahkan sepatu untuk adiknya itu.


Sesudah membelikan tas untuk Amelys, Tere dan Athur langsung ke bandara. Mereka memilih jalan kaki saja karena memang store itu dekat dengan bandara.


"Kak, makasih ya sudah diizinkan ikut, aku seneng banget bisa menjemput Amelys."


Tere antusias saat ini, ia tidak sabar menanti kedatangan sahabatnya itu.


"Iya Re. Tumben banget kamu ada waktu. Biasanya pasti Tuan Dave tidak suka kalau kamu dekat denganku. Ia pasti curiga, hehehe." Athur hanya mengulas senyum tipis pada Tere.


Tere tersenyum kecut bahkan hampir miris. "Hahaha iya dia lagi sibuk, sibuk dengan mantannya itu." Tere berusaha menstabilkan emosinya. Tanpa buliran bening itu tertahan di pelupuk matanya.


"Mantan Tuan Dave? Apa itu Non Clara?" Bahkan Athur tahu itu. Dave dengan Clara sudah berhubungan lama dan kandasnya hubungan itu juga diketahui banyak pihak.


Tere langsung menatap Athur dengan tatapan penuh tuntutan. "Kak Athur kok bisa tahu? Bukannya kakak jadi dokter pribadi mas Dave baru baru ini?"


Sepertinya Tere tertarik mendengarkan penjelasan dari Athur. Ia memposisikan badannya condong ke lawan bicaranya.


"Iya Re, sebelum aku jadi dokter pun Tuan Dave sudah menjalin hubungan dengan Nona Clara si model internasional itu. Siapa yang tidak kenal Tuan Dave sih, dia pengusaha sukses dan berpengaruh."


Entah mendengarkan pernyataan Athur, hati Tere bagaikan tercabik-cabik. Ia sedih karena sampai sekarang ia masih belum diketahui publik bahwa ia istri Dave.

__ADS_1


Media bahkan tidak mengetahui pernikahannya. Dan saat hubungannya dengan Clara diekspos, ia mendadak sedih.


"Media belum ada yang mengekspos bahwa aku istri mas Dave kan Kak? Pasti Kakak tahu soal ini."


"Iya Re, pernikahan Tuan Dave memang masih rahasia. Bahkan ia belum mengumumkan pada media bahwa kamu istrinya. Entah apa yang ditunggu Tuan Dave."


Athur juga tidak habis pikir, pernikahan Tere dan Dave sangat dirahasiakan. Bukan harusnya langsung dipublikasikan agar tidak menjadi kesalahpahaman.


Tere makin sedih, rasa kecewa terhadap Dave pun semakin besar. Tapi ini sudah menjadi konsekuensi bahwa menikah tanpa cinta akan berujung seperti ini.


"Sudah lah Kak, aku rasa jika aku terus menggali informasi tentang mas Dave dan mantannya akan semakin sakit saja." Buliran bening dari matanya seketika itu tumpah.


Di bandara, Tere menangis terisak. Ia tidak peduli saat ini dilihat orang atau tidak. Yang jelas ia sangat kecewa.


"Iya Re, kamu yang sabar." Athur mengusap punggung Tere. Ia merasa iba, bahkan orang yang dicintainya harus menanggung sakit hati seperti ini.


****


"Hai Tere! Ya Allah sahabat tengilku! Aku kangen banget!" Amelys pun memeluk Tere dengan bahagia. Ia juga merentangkan tangannya untuk kakaknya.


Mereka pun saling berpelukan. Lantas setelah berdrama ria berpelukan, akhirnya mereka pulang


Di rumah Amelys, ia disambut dengan meriah oleh maid dan orang tuanya.


"Anakku Sayang." Mama Lita-mamanya Amelys langsung memeluk putrinya. Disusul oleh Papa Mike-papa Amelys.


Mereka saling meluapkan rasa bahagianya. Atensi sekarang tertuju pada Tere yang menyambutnya.


"Tere ya ini?" Mama Lita kembali memastikan. Tere pun mengangguk sopan.


"Wah, makin cantik saja. Aduh tante juga kangen kamu loh."


"Iya tante, saya juga." Lantas mama Lita memeluk Tere. Setelah itu mereka di ruang keluarga.


Mereka mengobrol hangat. Dan tiba-tiba mama Lita berceletuk.


"Ya Ampun, Athur itu sampai kebingungan cari jejak kamu, Re. Dia tuh menaruh hati denganmu."


Athur yang tertawa pelan tiba tiba langsung membeku. "Mah, apaan sih. Ngawur banget bicara kaya gitu." Tegur Athur yang sudah salah tingkah.


"Apa benar kak Athur menyukaiku dulu?" batin Tere tersenyum kikuk.


...Hai readers? Gimana cerita kali ini? Kalian team Tere-Athur atau Tere-Dave? ...

__ADS_1


...Tinggalkan komenan kalian di part ini ya, nanti kalau tembus 15 komentar tanpa spam komentar maka thor akan update lagi. Ingat ya, jangan spam komen. ...


__ADS_2