Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 62


__ADS_3

Dave!" Pekik Ares. Ia langsung berlari. "SI*L! Kenapa lu minum obat seperti ini?!"


"Cepat panggilkan ambulans, Sayang!" Ares agak meninggikan suaranya karena saking paniknya. Entah berapa lama Dave sudah terkapar dengan mulut berbusa.


"Sudah dihubungi oleh pihak hotel, Mas. Tenang ya kamu, segera sampai kok. Apa aku harus menghubungi Tere?" Kirani yang ikut panik juga ingin mengabari istri Dave.


Ares menatap Kirani dan menggeleng, "Nanti saja, aku yang menghubungi. Kamu tidak usah terlibat di masalah ini, Sayang."


Tidak lama kemudian, ambulans pun datang. Para tim medis langsung membawa Dave ke rumah sakit terdekat.


Ares dan Kirani juga ikut ke rumah sakit itu. Mereka naik ke ambulans juga begitu juga Kirani.


"Kita menghubungi Tante Anita atau tidak?" Kirani perlu tanya juga soal ini. Ares lagi lagi menggeleng.


"Jangan kalau Tante Anita, dia ada riwayat penyakit jantung. Takutnya dia malah kenapa napa." Penjelasan Ares masuk akal juga jadi Kirani mengangguk setuju.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Dave langsung ditangani oleh dokter.


"Sebaiknya anda di luar terlebih dahulu, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin." Perawat itu berbicara bahasa Mandarin dan Ares mengangguk.


Kirani pun duduk di ruang tunggu tetapi Ares benar benar tidak bisa diam. Ia mondar mandir seperti setrikaan. Pikirannya berkecambuk. Ia bingung harus apa.


"Mas, kamu duduk dulu. Jangan panik gitu, kita berdoa ya." Ares mengangguk dan duduk di samping Kirani. Kirani pun mengusap punggung Ares.


Ares menggengam tangan Kirani dan memandangnya. "Sayang, aku merasa bersalah pada Dave, aku tidak bisa membantu menjelaskan pada Tere tadi." Terlihat gurat wajah sendu di wajah Ares.


"Tidak ini bukan salahmu. Semua sudah diatur oleh Allah seperti ini. Jangan pernah menganggap kamu bersalah karena pada dasarnya kita juga memikirkan perasaan Tere."


"Iya Sayang, sebentar aku mau telepon Tere." Ares pun mengambil ponsel yang berada di saku celananya.


Sudah tiga kali panggilan dan tidak ada jawaban sama sekali. Perasaan resah, gelisah, sedih menjadi satu. Ia langsung saja mengirimkan pesan untuk Tere.


"Kamu kirim pesan ke dia, Mas?" Kirani pun bertanya seperti itu karena sejak tadi suaminya sudah menelepon tapi tidak ada jawaban.


"Iya Sayang, mungkin dia sudah tidur. Karena ini juga sudah malam. Semoga dia luluh, aku juga kasian pada Dave."


"Iya"


Selang satu setengah jam akhirnya Dokter keluar. Ares dan Kirani langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Anda keluarga pasien?" Dokter yang baru saja keluar dari ruang itu langsung bertanya pada Ares dan Kirani.


"Iya Dok, saya keluarganya. Bagimana kondisi Dave saat ini?" Ares harap harap cemas menunggu jawaban Dokter itu.


Dokter itu menghela nafas, " Begini, pasien sudah meminum racun yang cukup berbahaya. Dan kondisi untuk saat ini masih kritis. Belum bisa dijenguk juga, semoga ada keajaiban yang bisa menolong pasien. Berdoa yang banyak, Tuan. Pasien butuh itu."


Dokter hanya bilang seperti itu. Ya! Memang racun itu mudah tersebar di seluruh tubuh Dave dan mengakibatkan kefatalan sampai Dave kritis.


Ares pun langsung bermuka pias. Dirinya tidak menyangka Dave akan separah ini. Dia bahkan belum bisa menjenguk.


"Kita kira kapan saya dan istri saya bisa menjenguknya?" Ares bertanya penuh menuntut penjelasan.


"Besok pagi bisa Tuan, tapi kondisinya masih sama. Biarkan pasien malam ini sendiri. Karena kami telah melakukan tindakan medis tadi, tubuhnya perlu adaptasi lagi. Kalau begitu saya permisi, Tuan." Dokter itu langsung berlalu


"Terimakasih, Dok."


Ares dan Kirani hanya bisa melihat Dave dari balik jendela. Tidak lupa Ares juga memfoto Dave yang sedang terbaring tidak berdaya untuk ditunjukkan pada Tere.


Ia kirim foto itu pada Tere supaya Tere lebih percaya.


*****


Pagi menyingsing di mansion Xiao Bao, Tere baru bangun dari tidurnya karena dia kelelahan.


Tere akan beranjak dari tempat tidurnya. Tetapi sebelum itu ia memeriksa ponselnya.


Begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Ares. "Ares? Kenapa dia? Kenapa juga mengirim pesan banyak gini?" Tere bermonolog sambil langsung membuka isi pesan itu.


Ares : [Assalamu'alaikum Re. Maaf mengganggu waktumu]


Ares : [Aku membawa kabar ini untukmu, Dave sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Dia sedang kritis saat ini dia butuh dirimu]


Ares : [Bahkan sampai Dokter keluar pun, Dave masih dalam tahap kritisnya]


Ares : [Aku tahu kamu mungkin tidak akan mau datang kesini. Tapi untuk kali ini, datanglah Re. Dave sudah sekarat rasanya. Dia butuh kamu. Maafkan dia, Re]


Ares : [Aku tahu ini tidak mudah, tapi penyesalan akan datang di waktu akhir jika kamu tetap mementingkan egomu]


Ares : [mengirim foto]

__ADS_1


Tere yang melihat pesan Dave begitu banyak itu langsung terbelalak. Ia melihat foto Dave yang benar benar terbaring di rumah sakit.


"Astaghfirullah, ada apa denganmu, Dave!" Entah kenapa air mata Tere langsung tumpah begitu saja. Ia benci tapi rasanya tidak bisa jika melihat Dave terbaring seperti ini.


Tere tidak menjawab pesan itu. Inginnya sih tidak menjawab tapi selang beberapa menit, pertahannnya jebol. Ia harus tahu kondisi suaminya.


Tere : [Rumah sakit mana? Dan dimana ruangannya?]


Tidak berselang lama Ares pun langsung menjawab.


Ares : [Xiaotangshan Hospital di ruang ICU lantai 4]


Tere sudah tidak membalas pesan Ares. Ia langsung bergegas untuk mandi dan langsung ke rumah sakit.


*****


"Mau kemana, Sayang?" Tere yang terburu buru sampai lupa tidak pamit pada Li Xie Cu dan Xiao Bao.


"Maaf Oma, Opa. Tere harus ke rumah sakit. Dave sekarang kritis dia dirawat di Xiaotangshan Hospital." Tere menunjukkan raut wajah cemas.


Li Xie Cu maupun Xiao Bao mengernyit, "Bukankah kamu sudah tidak peduli dengannya, Sayang?" Xiao Bao harus meyakinkan cucunya.


"Aku berusaha untuk tidak peduli, tapi nyatanya sulit. Paling tidak aku harus kesana, Opa untuk menuntaskan rasa penasaranku terhadap kondisinya."


"Baiklah kalau begitu, kamu diantar supir ya." Xiao Bao protektif terhadap cucunya.


"Iya Opa."


*****


"Re!" Kirani langsung menyapa Tere yang sejak tadi celingukan.


"Dimana Dave?" Tidak basa basi, Tere yang terlihat seolah-olah tegar itu langsung bertanya langsung pada Kirani.


"Dia di dalam. Ares juga di dalam. Kamu masuklah. Dave butuh dukunganmu." Kirani mengusap punggung Tere.


"Aku kesini hanya penasaran kondisinya. Tidak lebih." Tere berusaha tegar. Kirani hanya mengangguk. Dan Tere masuk ke dalam ICU Itu.


Ia syok karena memang benar adanya Dave tidak berdaya. Wajahnya pucat sekali. Di samping juga ada Ares yang menunggu dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Res" Tere memanggil Ares. Ares langsung menoleh.


"Tere!"


__ADS_2