
"Kok ada ya, cowok tampan banget kaya gini." Batin Mei sambil memandang intens laki laki itu. Mei tersenyum manis pada pria itu.
Dan sialnya, pria tampan itu juga tersenyum kepada Mei. Membuat hati Mei terguncang hebat.
"Thanks" Pria itu langsung berlalu meninggalkan Mei. Padahal niatnya Mei ingin berkenalan terlebih dahulu.
"Aduh, dia sudah pergi lagi. Ya ampun, tampan banget." Mei membayangkan wajah pria tampan yang belum diketahui namanya itu. Mei mesem mesem sendiri sampai ia kelupaan akan beli air mineral.
"Oh iya, kelupaan beli air mineral!" Mei segera buru buru beli air mineral itu dan menuju ke tempat dimana Tere menunggu
*****
"Lama banget sih kamu Mei? Semedi?" Tere yang sudah haus malah uring uringan dengan sahabatnya itu. Mei hanya nyengir kuda.
"Maafin aku, tadi aku tabrakan sama cowok tampan. Aduh idaman banget sih." Mei membayangkan lagi cowok itu.
"Giliran tentang cowok saja kamu langsung nyambung gitu. Emang kamu tadi kenalan juga sama cowoknya?"
Tere berucap sambil membuka tutup air mineral itu dan menengguknya hingga tersisa setengah botol.
"Belum sih, keburu pergi. Kayanya dia buru buru deh. Bawa berkas sama buku gitu, auranya itu loh kharismatik banget."
Mei yang mesem mesem sendiri langsung disenggol saja bahunya oleh Tere.
"Hahaha sadar dong, orang dia saja tidak tertarik sama kamu." Tere malah meledek sahabatnya itu.
"Ih kan tadi dia buru buru. Gue berharap nanti bakal ketemu lagi deh. Dan gue harap itu jodoh gue deh."
Mei terlanjur tergila gila dengan cowok yang ia barusan ia temui tadi. Sayangnya respon cowok itu hanya sekedar ramah biasa. Tidak ada rasa ketertarikan dengan Mei.
"Halah, jangan mengharap gitu. Nanti kalau tidak sampai jadi sedih." Tere terus meledek Mei sampai yang tadinya Mei sumringah menjadi mengerucutkan bibirnya.
"Sebagai sahabat harusnya kamu dukung aku sama cowok itu. Bukannya malah meledek begini." Mei merajuk kaya anak kecil saat ini. Membuat Tere makin gemas. Memang umur mereka tidak jauh berbeda, tapi Mei lebih kekanak-kanakan daripada Tere.
"Iya iya aku do'ain deh. Lagian kan kamu tidak tahu namanya siapa? Terus gimana cara nyarinya hahaha."
Tere sangat puas melihat Mei makin mengerucutkan bibirnya itu.
****
"Sayang, aku mau ke Beijing 3 hari saja ya." Kirani bergelayut manja di lengan Ares. Mereka saat ini baru saja tiba di hotel. Mereka sudah sampai sekitar satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Iya Sayang, apa sih yang tidak buat kamu." Ares mencolek dagu istrinya itu. Dia memang selalu gombal tapi memang ia sangat mencintai Kirani.
"Sayang, tapi aku masih capek. Aku mau istirahat dulu. Nanti saja ya jalan jalannya. Capek banget, mana lagi hamil juga." Kirani beranjak ke ranjang itu dan mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Iya Sayang, tidur saja kamu. Oh iya, aku mau mandi dulu ya dan aku izin mau ketemuan sama rekan bisnis di Beijing juga. Boleh kan?"
Ares mendekat ke arah istrinya itu dan mengusap kepala Kirani dengan lembut.
"Cewek apa cowok?" Kirani yang semenjak hamil menjadi sangat sensitif dan posesif.
"Cowok lah Sayang, mungkin sebentar saja kok. Tidak jauh dari hotel ini. Oke?" Kirani pun mengangguk.
Setelah mengantongi izin keluar dari Kirani, Ares pun mandi terlebih dahulu. Ia memutuskan untuk mandi supaya lebih segar saja.
Setelah mandi selesai, ia memakai baju dan bersiap siap bertemu dengan Xiang Wo, rekan bisnisnya.
****
"Tuan Ares Pradipta" Li Xiang Wo menjabat tangan Ares dengan senyuman yang ramah.
"Tuan Li Xiang Wo. Apa kabar?" Ares berbasa-basi dahulu.
"Maaf jika saya ingin bertemu dengan Anda dadakan seperti ini. Karena sampai tiga hari kedepan saya di Beijing atas kemauan istri. Ia ingin ke Beijing."
"Wah, kebetulan sekali. Saya akan membicarakan tentang proyek kita. Setelah berjalan selama tiga bulan, proyek kita mengalami perkembangan yang sangat pesat dan baik. Tidak sia sia saya bekerjasama dengan perusahaan Anda."
Li Xiang Wo memuji profesionalitas perusahaan Ares itu. Dalam hati Ares, ia sangat bangga bisa mencapai titik tertinggi ini. Semua berkat doa Kirani juga.
"Iya Tuan, saya juga sangat senang berkerjasama dengan perusahaan Anda."
"Iya Tuan, perusahaan Anda sama baiknya dengan perusahaan milik Tuan Xiao Bao."
"Tuan Xiao Bao? Apakah perusahaannya juga ada di Beijing?" Ares tidak tahu detail tentang perusahaan yang ada di negeri itu.
"Iya, perusahaan milik Tuan Xiao Bao sangatlah besar melebihi milik saya. Tapi sekarang yang memimpin yaitu cucunya bernama Tere."
Mendengar kata 'Tere' Ares langsung penasaran dengan pembahasan itu.
"Tere? Apakah cucu itu berasal dari Indonesia?" Ares sangat menduga bahwa Tere itu adalah Tere nya Dave.
"Ya, cucunya dari Indonesia. Ia sangat berkompeten. Saya juga sedang menjalin kerjasama dengan perusahaannya."
__ADS_1
Daripada penasarannya tidak terjawab, Ares langsung mengambil ponselnya dan mencari foto Tere dalam galerinya karena Dave mengirimi untuk memudahkan pencarian
"Apakah Tere yang Anda maksud itu ini ya Tuan?" Ares langsung menunjukkan foto itu pada Li Xiang Wo.
Li Xiang Wo menangguk. Ia hafal betul wajah cantik Tere yang mengaku masih single itu.
"Iya memang ini. Anda tahu siapa Tere?"
Li Xiang Wo juga keheranan bagaimana mungkin pemilik perusahaan Pradipta Company itu mengenal Tere.
"Iya Tere adalah teman saya." Hanya itu yang Ares katakan. Ia tidak mengatakan bahwa Tere sudah punya suami di Indonesia karena hal itu terlalu privasi baginya.
"Oh begitu, ya dia adalah wanita yang sangat berkompeten dan ia masih single. Para rekan bisnis saya juga naksir dengan dia hahaha."
Li Xiang Wo malah membicarakan Tere. Memang Tere menjadi topik hangat di berbagai perusahaan di negeri China itu.
"Oh ya? Dia mengaku single?" Ares begitu terkejut. Mengapa Tere harus merahasiakan statusnya yang masih single? Apa dia terlanjur sakit hati dengan Dave?
"Iya" jawab Li Xiang Wo.
"Mohon maaf Tuan Li Xiang Wo, apakah anda tahu dimana alamat rumahnya?" Ares agaknya mau menemui Tere terlebih dahulu.
"Saya tahu tapi ini privasi. Jadi mohon maaf saya tidak bisa memberitahukan hal itu. Tapi saya tahu lokasi perusahaannya kalau Anda mau."
Li Xiang Wo sangat menghargai privasi seseorang. Ia tidak akan membocorkan alamat itu pada rekan bisnisnya kecuali mendapat izin dari Xiao Bao.
"Baiklah. Alamat perusahaannya pun tidak apa apa."
Li Xiang Wo langsung memberitahu alamat perusahaan Terr itu. Ares bahagia, tapi ia masih merahasiakan ini dari Dave.
"Terimakasih Tuan Li Xiang Wo."
Ares menyimpan alamat itu dan ia pamit untuk pulang ke hotel terlebih dahulu menemani istrinya. Ia akan ke perusahaan Tere besok saja.
"Akhirnya Re, aku akan menemukanmu." Ares menatap alamat yang sudah diberikan oleh Li Xiang Wo di genggamannya saat ini.
...Hai Hai Readers, maaf ya baru upload karena Thor kemarin juga masih sibuk revisian pasca sidang skripsi hehehe, curcol. ...
.......Happy Reading... ...
...Jangan lupa like, komen, dan vote ya supaya Thor makin semangat untuk menulis cerita ini. Thanks...
__ADS_1