
Dave tersenyum tipis saat Tere ternyata masih mencintainya. "Aku juga tidak bisa jauh darimu, Sayang." ucap Dave lirih.
Mendengar suara Dave, Tere langsung mendongak ke arah Dave. "Dave? kamu sudah siuman?" tanya Tere seakan tidak percaya. Tere yang masih keheranan pun belum menyadari sepenuhnya. Ia masih memandang lekat suaminya itu. Dave pun mengangguk. "Aku sudah sadar, Sayang." cap Dave sambil terkekeh.
Tere yang semula menangis bombay pun dengan spontan memukul tangan Dave yang patah itu. Dave langsung mengaduh kesakitan. "Aw sakit, Sayang. Ini sakit sekali!" seru Dave sambil memejamkan matanya.
Tere pun menjadi ingat bahwa yang ia pukul adalah tangan Dave yang patah tadi. "Aduh, maafkan aku Dave. Kumohon..." ucap Tere lirih sambil mengelus tangan kiri Dave. Yang namanya patah tetap patah. Jadi rasanya tetap sakit.
"Aw tetap sakit, Sayang. Jangan dipegang dong." tukas Dave sambil menatap penuh mendamba ke Tere. Tere pun langsung mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah kalau tidak mau dipegang. Dih, gaya banget sih."
Melihat ekspresi cemberut dari Tere, Dave kembali terkekeh pelan. "Mau dong dipegang sama istri." Dave mengerlingkan satu matanya dengan genit. Tere hanya memutar bola matanya malas.
"Terimakasih Sayang. Kamu mau menungguku sampai siuman." tukas Dave sambil memegang tangan Tere. Tidak ada perlawanan dari Tere. Rasa bersalahnya lebih besar dari sekedar egonya untuk bercerai.
"A-ku melakukan ini karena memang i-ini salahku." ucap Tere lirih sembari menunduk. Ia masih dihantui rasa bersalah pada suaminya. Bagaimana tidak, dari kecelakaan itu tangan Dave harus patah dan perlu penyembuhan juga.
Jika Tere yang berada di posisi itu, pasti dia lah yang akan patah tangannya. Tapi Dave dengan baik hatinya, ia menyelematkan istrinya.
Dave mengulas senyum tipis. "Ini bukan salahmu, Sayang. Siapa bilang ini salahmu?" tanya Dave sembari menatap manik hitam indah Tere.
"Harusnya aku yang ada di posisimu, Dave tapi-"
"Ini bukan salahmu, Sayang." ucap Dave cepat. Ia menggeleng cepat sambil mencium punggung tangan istrinya. Tere tidak menolak atas perlakuan Dave.
Tere menatap nanar Dave yang mencium punggung tangannya. "Dave, sekali lagi maafkan aku. Kumohon..." ucap Tere lirih. Dave sekali lagi menggeleng. "Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri, Sayang? Bagiku kamu adalah duniaku. Setengah nyawaku ada di dirimu."
__ADS_1
Tere tersenyum tipis. "Tidak usah menggombal, Dave. Aku bukan anak gadis lagi." Dave hanya terkekeh. "Emang bukan anak ganti, tapi kamu adalah istriku." ucap Dave sunguh-sungguh.
Tere tidak menimpali apapun. Ia memilih untuk diam saja. Ia menghela nafas panjang. Ia memikirkan apakah keputusannya adalah pilihan yang benar.
Keputusan bercerai dari Dave masih berkecambuk dalam hatinya. Entah ia akan tetap mengajukan atau tidak. Kejadian kecelakaan tersebut seolah membuat hatinya terketuk.
"Kamu mengabari ini apa tidak pada mama?" tanya Dave. Tere pun menggeleng. "Tidak, aku tidak mengabarinya. Takut kondisi mama tidak stabil." ujar Tere sambil menunduk.
"Kabari saja, Sayang. Aku sudah berjanji untuk selalu mengabari kondisiku di Beijing. Dan terlebih lagi hari ini aku bersamamu. Mama pasti senang melihatnya." Tere pun mengangguk. Ia mengambil ponsel Dave yang berada di nakas.
Mereka akan video call bersama mama Anita. Tapi memang ini sudah larut malam. Jadi, pasti mama Anita dan papa Surya sudah tidur. Apalagi perbedaan waktu yang tidak terlalu mencolok memungkinkan orang tuanya sedang tidur.
"Tidak diangkat, Dave. Kita coba besok pagi saja bagaimana?" tukas Tere mematikan panggilan video call itu. Akhirnya Dave mengangguk, ia paham betul kalau memang ini sudah larut malam.
Tere yang merasa gerah karena belum mandi memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan berganti pakaian. "Dave, aku mandi dan ganti pakaian dulu ya. Kamu istirahat saja." ucap Tere sambil mengelus lengan Dave. Dave mengangguk.
"Iya Sayang."
*****
"Duh, kenapa ya jantungku berdegup kencang gini. Padahal sebelumnya aku melihat Dave dengan penuh kebencian. Tapi sekarang?" Tere bermonolog sambil mandi di kamar mandi yang ada di dalam ruang itu. Ia tidak habis pikir dengan perasaannya yang goyah karena perlakuan Dave tadi.
"Apa aku mencabut gugatan cerai itu ya? Tapi aku masih takut jika Dave bermain di belakangku lagi." Pikiran Tere begitu berkecambuk. Ia pusing memikirkan hal itu.
Dan setelah 20 menit berlalu, akhirnya Tere selesai mandi dan ganti baju. "Duh, segar banget nih." ucap Tere sambil tersenyum. Segera saja ia menghampiri Dave kembali. Ia melihat Dave masih membuka matanya.
__ADS_1
"Lho tidak tidur ya?" tanya Tere keheranan. Dave menggeleng. "Tidak Sayang, aku menunggumu. Tidak apa-apa, kan?" Dave menaikkan salah satu alisnya. Tere hanya menggeleng.
"Kamu masih sakit, belum pulih. Jadi kamu mending jangan memforsir tenagamu. Istirahat sana!" seru Tere sambil menatap suaminya. Dave menggengam tangan Tere yang terasa dingin karena habis mandi. Ia menatap wajah istrinya lamat-lamat.
"Kenapa? Apa aku salah? Aku hanya ingin melihat istriku berada di sampingmu saat ini. Aku tidak mau ditinggalkan lagi olehnya." ucap Dave sungguh-sungguh. Tapi kali ini Tere melepaskan genggaman tangan Dave.
"Sudah jangan aneh-aneh, cepat istirahat!" seru Tere terlihat ketus. Raut wajah Dave menjadi sendu. Ia berpikiran bahwa Tere masih kekeh dengan pilihannya yaitu bercerai.
"Sayang, lihat aku." ucap Dave lirih sembari menarik dagu Tere pelan. "Apa kamu keberatan berada di sampingku?" Mendengar hal itu, Tere langsung menggeleng cepat.
"Tidak, sama sekali tidak keberatan kok. Kenapa sih kamu tanya begitu?" tanya Tere sewot sembari menunjukkan wajah masamnya. Dave mengernyit. "Benarkah? Lantas kenapa kamu cemberut seperti itu?" tanyanya lagi.
"Tidak apa-apa." jawab singkat Tere. Ia lebih baik memalingkan wajahnya. Muka melas Dave membuatnya tidak tega. Dave pun bertanya, "Oke kalau begitu, sekarang kamu istirahat juga ya."
Tere menggeleng. "Tidak, aku tidak mengantuk. Kamu saja yang istirahat. Aku masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan." dalih Tere padahal itu hanya pengalihan. Jantung Tere kali ini tidak aman berada di samping Dave. Entah berdebar kencang.
Dave pun menghela nafas panjang. Ia teringat bahwa Tere ingin mengajukan gugatan cerai darinya tapi Dave tidak mengabulkan. Jadi, Dave kali ini pasrah saja. Mau cerai atau tidak itu sudah menjadi hak Tere.
"Mana surat gugatan cerai itu, Sayang? Jika kamu ingin mengajukan itu bukanlah aku juga harus menandatanganinya. Aku akan mengabulkan permintaanmu." ucap Dave
Seketika timbul denyut nyeri dari dada Tere. Mendengar kata gugatan membuatnya sesak. Akhirnya ia memutuskan suatu hal besar dalam hidupnya. "Aku tidak jadi mengajukan itu, aku mau kita kembali bersama lagi." ucapnya mantap.
...Jangan lupa votenya dong readers. Vote kalian adalah semangat buat Thor. Sebelumnya terimakasih buat kalian yang mau vote cerita ini. Salam hangat dari author....
...Boleh juga kok mampir ke ceritaku yang terbaru SEBUAH HARGA DIRI ISTRI...
__ADS_1