Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 41


__ADS_3

...Sebenarnya belum tembus 15 komentar, tapi gapapa demi readers yang sudah nunggu kelanjutannya, author kasih bonus double update untuk menemani malming kalian. Enjoy Reading...


Apa benar kak Athur menyukaiku dulu?" batin Tere tersenyum kikuk.


"Maaf ya Re, mama suka gitu. Suka ngawur kalau bicara." Sepertinya Athur malu mengakui bahwa ia memang menyukai Tere. Itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat semburat merahnya.


Bahkan Amelys juga menuai reaksi yang cukup nyata. Ia malah tersenyum penuh makna terhadap kakaknya yang masih denial akan perasaannya.


Athur cukup tahu batasan dengan siapa ia harus melabuhkan hatinya. Dulu memang Tere lah yang menjadi rencana berlabuhnya cinta Athur, tapi karena Rere sudah dimiliki oleh Dave, Athur menjaga jarak.


Namun, jika suatu saat Tere terluka karena Dave. Bisa dipastikan bahwa Athur akan merebut Tere dari genggaman Dave. Athur janji itu.


"Iya kak, santai saja." Tere menimpali dengan menatap Athur.


****


Sementara di rumah Dave


Cekrek


Suara pintu yang dibuka menyadarkan Dave dari acara memejamkan matanya. Ia menyangka bahwa itu Tere.


"Sayang, kamu sudah kembali." Dave masih belum menoleh, ia masih terlalu lemas untuk bangkit dan sekedar menoleh.


Clara pun tersenyum penuh arti. "Aku datang, Sayang."


Dave tidak asing dengan suara itu. Ya! Itu suara mantan kekasihnya, Clara. Ia langsung menarik atensinya ke arah Clara.


"Cla? Kok kamu bisa ada disini?! Dimana Tere?" Dave mencoba bangkit tapi ia terserang rasa pening di kepalanya.


Demam yang ia derita belum sembuh ditambah lagi kepalanya masih pusing. Dave tidak memiliki kekuatan saat ini.


"Kenapa Sayang? Harusnya kamu senang aku kesini. Kita bisa menikmati waktu berdua disini." Clara berjalan menuju ke arah ranjang Dave.


Ia kemudian duduk di ranjang itu, dekat Dave. Dave buru buru menghindar tapi Clara segera mencegahnya.


"Kenapa Sayang? Kamu ingin menghindar dariku? Aku sangat merindukanmu." Clara membelai rambut Dave. Dave yang sudah memegang janjinya pada Tere pun langsung menepis belaian Clara


"Stop it Cla! Kamu seharusnya tahu batasanmu! Mulai sekarang, jangan pernah temui aku." Dave membentak Clara. Ia mengumpulkan sisa tenaga yang ada di tubuhnya itu.


Clara pun tertegun. Selama ini Clara tidak pernah mendapatkan penolakan apapun dari Dave, kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu?

__ADS_1


"Dave, kamu membentakku, Sayang? Aku sungguh mencintaimu. Percayalah bahwa cintaku ini hanya padamu. Aku sama sekali tidak menyukai rivalmu itu. Aku hanya terpaksa. Bertahun tahun kita bersama Dave, tapi sekarang giliran aku mencintaimu, kau malah mencampakkanku."


Pernyataan Clara terlalu dramatis. Ia bagaikan aktris yang jago akting. Ia mengeluarkan air mata palsunya. Bahkan aktingnya terlihat natural.


Clara menatap Dave dengan tatapan sendu. Ia berharap akan mudah menaklukkan hati Dave kembali.


Menatap Clara yang berwajah sendu, timbul percikan rasa iba pada mantan kekasihnya itu. Bagaimana pun Clara pernah mengisi ruang hatinya.


"Maafkan aku Cla, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sudah janji pada Tere untuk menjauhimu." Dave malah seperti merasa bersalah karena membentak Clara.


Sesuai dengan ekspetasi, Clara pun tertawa dalam hatinya. Ia tertawa penuh kemenangan. Ternyata menaklukkan hati Dave sangatlah mudah. Cukup meneteskan air mata palsu, ia sudah mendapatkan simpati Dave.


"Aku sedih Sayang, aku sungguh tidak berharga di hadapanmu." Clara malah menambah drama itu dengan meneteskan air matanya.


Membuat Dave makin bersalah. Ia pun duduk menyandar headboard dan menghaous air mata Clara.


"Sudah jangan bersedih Cla. Aku mohon, akun tidak bisa melihatmu seperti ini. Ini terlalu menyakitkan buatku."


Clara lalu menghamburkan pelukan ke Dave. Dave dengan bodohnya mau membalas pelukan itu. Sungguh pria yang bodoh!


" Tetap bersamaku, Sayang. Aku mencintaimu." Clara memeluk erat Dave sambil menyunggikan senyum evilnya.


Dave melonggarkan pelukan itu. "Sudah Cla, jangan sedih." Dave menatap Clara secara dalam.


Dave pun tersenyum. Ia bahkan sudah melupakan nasib Tere saat ini ada dimana. Kenapa Dave tidak bisa menggunakan akal sehatnya untuk berpikir lebih jernih.


"Makasih Cla."


"Oiya, kamu makan ya? Kamu pasti lapar." Clara mengeluarkan makanan yang ada di paper bag itu.


"Nanti saja Cla, aku masih kenyang." Dave menolak karena ia sudah disuapi oleh Tere tadi.


"Oh oke." Clara menyimpan kembali makanan itu. Ia tidak mungkin memaksa Dave, yang ada Dave akan ilfil dengannya.


Dan diam diam, Dave yang memegang bucket pemberiannya itu langsung Clara potret secara candid.


Setelah itu langsung ia bagikan ke sosial medianya. Ia tersenyum tipis saat mengetik caption yang ada di foto itu.


"Get well soon, Honey."


Ya! Itu captionnya. Sungguh caption yang mengundang banyak tanya publik. Ia pasti akan diwawancarai wartawan atas postingannya itu.

__ADS_1


Yang media sosial tahu, bahwa Dave belum menikah. Jadi pasti warganet akan berbondong bondong memujinya.


Sementara Dave sendiri tidak tahu bahwa ia dipotret secara diam-diam. Waktu begitu cepat dan akhirnya 2 jam kemudian Clara pamit pulang.


"Sayang, aku minta maaf. Aku harus pulang. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku masih ada kerjaan. Nanti aku akan berkunjung lagi ya. Aku pulang dulu."


Cup


Dengan beraninya, ia mengecup singkat pipi Dave. Membuat Dave membeku saat itu juga. Perasaan bersalah muncul dalam hatinya karena sudah melanggar janjinya pada Tere.


Setelah 1 jam kepergian Clara, Dave tidak bisa tidur memutuskan menscroll sosial medianya.


Ia terkejut karena Tere mengupdate foto di instagram nya bersama keluarga dokter sok tampan itu! Darahnya seakan mendidih melihat itu! Kenapa ia harus begitu? Bukankah dia dan Clara juga melakukan perbuatan lebih tega dari Tere?


****


Di kediaman rumah Athur


Bukan tanpa alasan bahwa Tere mengupdate foto bersama keluarga Athur. Ia juga sedih lantaran Dave menerima bucket dari Clara dengan senyum merekah.


Bahkan tidak sedikit komentar dari warganet yang mendoakan Dave dan Clara segera menuju ke pelaminan.


Ia berusaha menata hatinya lagi. Kali ini ia tidak boleh lemah di hadapan Dave. Komentar dari warganet itu tidak akan membuatnya menangis.


Dan saat ini keluarga Athur mengadakan perayaan kecil di rumah sampai sore hari. Setelah itu Tere pamit pulang.


"Yah lu mau pulang saja! Padahal gue mau lu nginap sini." Amelys mengerucutka bibirnya. Ia memeluk Tere.


"Lagi kali saja ya. Oiya tante, om, dan kak Athur aku pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum"


" Waalaikumsalam."


****


Setelah sampai rumah, adzan magrib sudah berkumandang. Ia membuka pintu rumah malas malasan.


Suasana begitu hening tidak ada bi Minah, mungkin lagi salat Magrib. Tere langsung ke kamar Dave.


Baru masuk kamar dan Dave sudah siaga di depan pintu. "Baru pulang kamu?!" Dave menginterogasi Tere. Lah? Bukannya kebalik?!


"Bukan urusan mas, minggir! Aku capek." Tere menggeser tubuh Dave, tapi Dave langsung menahannya.

__ADS_1


"Sudah puas dengan ketemuan dengan dokter sok tampan itu? Hah?"


Tere hanya tersenyum smirk. " Situ juga sudah puas ketemu sama nenek lampir Clara? Hah?"


__ADS_2