Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 74


__ADS_3

"Kamu ngungkapin perasaan kamu? Terus dia jawab apa?" tanya Tere sangat penasaran. Mei pun menggeleng. Tere agak kaget sebenernya.


" Ja-jadi dia nolak?" tanya Tere seakan tidak percaya. Mei pun mengangguk. "Iya, Re. Dia nolak alasannya ya karena dia belum siap menerima siapa-siapa di hidupnya," ucap Mei berkaca-kaca. Tere jadi tidak tega melihat Mei yang sudah siap menangis itu. Ia pun mengelus punggung Tere.


"Maaf aku harus bertanya, kamu cinta banget sama dia?" tanya Tere serius. "Pastinya Re. Baru pertama kali aku mengungkapkan perasaan ke cowok. Selebihnya emang aku suka nolak cowok sih. Apa ini karma ya, Re?"


Tere menggeleng cepat. "Bukan kok, kamu percaya deh. Kalau memang kamu cinta, perjuangin dia, Mei. Aku yakin kok Kak Athur bisa menerimamu kalau kamu gigih memperjuangkan," ucap Tere jujur.


Athur memang tidak membuka sembarangan hati. Ia terlalu selektif memang. Dulu ia mencintai Tere, tapi ternyata cintanya sudah terlambat. Tere sudah menjadi milik Dave.


"Kalau dia tidak mau denganku gimana, Re? Padahal aku sudah berusaha?" tanya Mei hati-hati. Ia takut jika ia berjuang lebih dalam dan berakhir penolakan juga.


"Kamu masih percaya kata-kata 'usaha tidak mengkhianati hasil Mei'? Kamu memang harus berjuang dulu," ucap Tere menyemangati. "Iya, Re. Aku akan mencobanya. Tapi lebih baik aku tidak perlu lagi berekspektasi apa-apa. Daripada ujung-ujungnya sakit hati." Mei menyeka air matanya yang berair itu.


*****


"Dave, kamu sudah pulang ternyata?" tanya Tere merasa sungkan karena Dave sudah pulang dari kantor dan ujung-ujungnya dia tidak menyiapkan apa yang diperlukan Dave.


"Iya, Sayang. Hari ini pulang cepat soalnya aku kangen banget sama kamu, Sayang." Dave memeluk Tere yang baru saja pulang dari kantor jam 6 sore. "Eh, Dave. Jangan peluk deh aku masih bau lho. Kamu rebahan saja dulu nanti sehabis mandi kita makan bersama. Aku tadi beli makan soalnya," ucap Tere karena di rumah itu tidak ada pembantu karena pembantunya sakit dan pulang kampung.


"Oke Sayang. Aku tunggu ya," Dave merebahkan diri ke ranjang. Tepatnya ia menyandarkan dirinya ke headboard. Ia mengecek pekerjaannya. Tiba-tiba saja, Dave mendapatkan notifikasi dari Ares.

__ADS_1


Ares : [Dave, gimana kabar lu?]


Ares : [Oh ya, gue mau kasih kabar bahwa Clara sudah dipenjara bersama selingkuhannya. Ia dipenjara 7 tahun dan denda maksimal 600 juta]


Dave : [Kabar gue baik banget, Res. Gue sudah baikan lagi sama Tere]


Dave : [Syukurlah kalau Clara sudah dipenjara. Gue ikut bersyukur atas semua yang terjadi pada tempo beberapa bulan lalu. Semoga ini menjadi pelajaran yang berharga. Makasih banget lu udah bantu gue selama ini.]


Ares : [Dih sok bijak lu hahaha. Gue turut senang kalau lu udah baikan sama Tere. Gimana udah dapat jatah?]


Dave : [Dih, kepo banget! Dasar manusia absurd. Bilang aja lu pengen, kan?]


Dave [Dah sono minta ke bini. Gue mau makan malam dulu. Bye]


Setelah lama berkirim pesan akhirnya Tere sudah selesai dari mandinya. Ia berdandan santai ala di rumah. Ia langsung menuju ke dapur.


"Dave, aku ke dapur dulu ya?" izin Tere sembari keluar dari kamar. Dave langsung menyimpan ponselnya dan menyusul Tere. "Aku ikut, Sayang!" seru Dave karena ia sudah tertinggal dari Tere yang begitu cepat jalannya itu. Sesampainya di dapur, Tere hanya memindahkannya ke piring. "Maaf ya, Dave. Aku kerja lembur tadi dan akhirnya pekerjaan rumah malah terbengkalai," ucap Tere sendu. Dave pun menggeleng. Ia memeluk Tere dari belakang.


Kepalanya menyandar ke bahu Tere. "Tidak apa-apa, Sayang. Oh iya kalau misal perusahaan kamu dan punyaku gabung jadi satu gimana ya?" tanya Dave.


Tere langsung berbalik ke arah Dave. "Kamu yakin? Bukankah perusahaanmu baru saja membangun dan merekrut karyawan?" tanya Tere serius.

__ADS_1


Dave lupa akan hal itu. Ia menepuk jidatnya. "Aduh, aku lupa Sayang. Kalau aku yang menghandle dia perusahaan dan kamu di rumah gimana? Tapi itu hanya saran sih. Kalau kamu tidak mau juga gapapa kok," ucap Dave tidak mau memaksakan kehendak.


"Boleh sih gitu, tapi kamu bakalan kerepotan, lho. Kalau aku tetap meng-handle perusahaan tapi jika lembur dan lain-lain baru kamu handle gimana?" tanya Tere. Dave mengangguk. "Boleh, tanyakan dulu ke Opa. Aku tidak mau kita mengambil keputusan tanpa persetujuannya," ucap Dave sambil mengelus kepala Tere.


*****


"Enak kah masakannya?" tanya Tere pada Dave. Mereka menikmati masakan yang dibeli Tere di restoran dekat kantornya. "Enak kok," ujar Dave sembari tersenyum.


"Syukurlah deh. Aku bingung tadi, mau masak tapi kok udah jam segitu dan pasti aku sendiri capek. Aku pengen istirahat juga. Badanku pegel semua," keluh Tere sembari memegangi pundaknya yang terasa pegal. Dave menoleh ke arah Tere. "Nanti aku pijat deh biar gak pegal. Mau?" tanya Dave sambil tersenyum genit. Tere jengah dengan dalih pijat.


Tere memutar bola matanya malas. "Itu mah modus kamu saja, Dave. Jangan aneh-aneh. Kamu orangnya pamrih lho. Mau pijat tapi pasti plus-plus," dengkus Tere. Dave malah terkekeh. "Gak kok, nanti aku pijit beneran deh," ucap Dave serius. Tere memincingkan matanya. "Beneran ya?" tanya Tere memastikan. "Iya Sayang. Apa sih yang gak buat kamu," ungkap Dave membuat Tere bersemu merah. "Dih gombal mulu. Dah ayo selesaikan makannya." Dave mengangguk.


Setelah mereka selesai makan malam, mereka tidak langsung ke kamar mereka. Ia ke ruang keluarga. "Ayo menonton netflix yuk?" ajak Tere sembari bergelayut manja ke Dave. "Boleh, mau nonton genre apa? romance? horor? atau action? atau apa?" tanya beruntun Dave. "Mau horor, Dave. Ada film terbaru soalnya." Tere dan Dave pun menonton film horor. Awalnya Tere masih terlihat biasa. Tapi lama kelamaan. Banyak penampakan hantu di film itu. Ia menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Dave. Dave hanya terkekeh.


Sesekali Tere juga menjerit saat tidak sengaja matanya itu melihat penampakan hantu di film itu. Ia yang awalnya semangat, di tengah jalan pun langsung meminta berhenti. "Udah deh, Dave. Aku gak mau lanjutin. Nanti makin takut," ucap Tere memelas. Akhirnya mereka kembali ke kamar. Tapi lucunya Tere ingin digendong sampai kamar.


Setelah sampai kamar, Dave menawarkan tawarannya yang tadi. "Jadi pijat gak?" tanya Dave. Tere mengangguk. "Boleh kok. Aku siap-siap dulu," Tere sudah dalam posisi siap.


Di 10 menit pertama, Dave meminta dengan benar. Tapi selanjutnya jangan tanya. Tangannya malah bergerilya ke dalam baju Tere. Tere membulatkan matanya. "Tuh kan, apa ku bilang. Pasti mau plus-plus kan?" tanya menyelidik Tere. Dave terkekeh peka.


"Gapapa dong kalau pijat plus-plus," ucap Dave enteng. Tere mendengkus. "Kalau kamu jadi tukang pijat mungkin sudah dilabeli sebagai pemijat yang c*bul!"

__ADS_1


__ADS_2