Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 47


__ADS_3

"Kurang ajar kamu Cla! Beraninya kamu menjebakku!"


"Ayolah Sayang, kamu juga menikmati tadi malam. Jadi kita sama sama saling..." Belum selesai Clara berbicara Dave sudah emosi. Pikirannya menjadi berkecambuk.


Ia saat ini mencemaskan keadaan Tere. Pasti Tere terus mengkhawatirkan, padahal tadi malam terjadi huru hara. Tapi Dave tidak tahu akan kejadian itu.


"Cukup Cla! Aku putuskan hubungan kita sampai disini! Dan jangan pernah berharap jika aku akan menaruh perasaan lagi ke kamu!" Dave sudah berapi api rasanya. Ia gusar dan langsung ke kamar mandi. Ia mandi sekaligus langsung memakai baju dan pulang.


Setelah 25 menit, Dave sudah rapi dan siap untuk pulang. Ia mendapati Clara yang duduk di ranjang sambil menanti dirinya.


Dave pergi berlalu, bahkan melirik saja tidak. Dia sudah membenci Clara tepatnya perbuatan nekatnya itu.


"Dave, kamu mau kemana?" Clara mencegah Dave untuk tetap di kamar itu. Buru buru Dave menepis tangan Clara yang bergelayut di lengannya.


"Lepaskan aku Clara Frederick! Aku tekankan sekali lagi, kita bukan lagi sepasang kekasih. Dan kamu hanya masa laluku. Jangan pernah kamu memunculkan wajahmu di hadapanku!"


Tanpa belas kasihan, bahkan Dave langsung membentak Clara. Sebenarnya ia merasa kasian juga pada Clara, tapi ia harus tegas. Ia sekarang kepala keluarga. Bukan waktunya untuk main main.


****


"Arghhh.. kenapa ini bisa terjadi!" Dave berkendara dengan frustasi. Ia memukul stir mobilnya. Ia sangat gusar dengan dirinya sendiri.


Bahkan sebenarnya Dave tahu bahwa ada bekas tamparan sepertinya di pipi Clara. Tapi ia berusaha acuh. Jika saja dia menanggapi, maka Clara akan semakin berani mengganggunya.


Setelah sampai rumah, Dave langsung mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Tidak ada tanda tanda keberadaan Tere yang beraktivitas.


"Apa mungkin di kamar?" Dave langsung menuju kamarnya dan setelah dibuka pintu itu, Tere tidak ada.


Dave semakin keheranan, bagaimana bisa Tere tidak ada. Ia masih berpikir positif, mungkin mandi.


Tapi ketika di cek juga tidak ada. Ia langsung was was dengan pikirannya. Pikiran negatif mulai merayapi diri Dave. Dengan cepat ia membuka lemari baju dan ternyata baju Tere sudah tidak ada semua.


Dave membelalakkan matanya, ia kebingungan. "Kemana kamu, Sayang?" Dave frustasi meratapi kepergian Tere yang tiba tiba.


Dave berpikir sejenak, apa ada kaitannya dengan kejadian tadi malam. Dave hari ini tidak ke kantor karena memang sudah siang dan suasana hatinya buruk.


Ia langsung menghubungi Baron. Siapa tahu Baron tahu informasi.


Baron : Hallo Pak Dave, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?


Dave : Apa istriku ada nelpon kamu tadi malam?


Baron : Iya Pak, istri bapak menelepon saya. Dan ia menanyakan lokasi meeting kita. Tapi sebelum saya berbicara banyak, istri bapak langsung mematikan panggilan telepon itu.

__ADS_1


Dave : Oke terimakasih. Oiya hari ini kamu handle semua meeting kita, saya tidak masuk. Saya kurang enak badan.


Baron : Baik Pak.


Dave langsung mematikan panggilan telepon itu. Ia menduga bahwa Tere memergoki ia dan Clara tidur bersama.


Dave langsung mendial nomor telepon Tere tapi hasilnya nihil. Bahkan nomornya di luar jangkauan.


"Kemana kamu, Sayang?Jangan buat aku menggila seperti ini." Dave benar benar menyesal akan perbuatan bodonhnya.


Bisa bisanya ia sudah punya Tere yang begitu cantik, baik, dan mencintainya tapi ia malah berharap pada Clara yang notabene pernah menyelingkuhi dirinya. Bahkan selingkuh dengan rivalnya di depan matanya.


"Bodoh, bodoh emang aku!" Dave langsung berlalu dari kamarnya dan keluar lagi memacu mobilnya menuju ke villa yang dimiliki Tere.


"Sayang, aku tidak akan membiarkan kamu sendiri. Aku akan menyusulmu." Dave memacu kencang mobilnya itu.


****


Tok


Tok


Tok


Dave mengetuk pintu villa itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia coba berulang kali, tapi apa daya, tetap tidak mendapatkan jawaban.


"Siapa ya?" Bi Minah pun menghampiri Dave yang masih saja mengetuk pintu.


Dave langsung menoleh ke arah bi Minah yang masih dengan pakaian kotornya karena habis dari kebun.


"Saya suami dari Tere. Apakah Tere ada di dalam ya? Karena saya ketuk pintunya sama sekali tidak ada jawaban dari dalam."


Tentu bi Minah mengernyitkan dahinya, ia juga kebingungan. Tere bahkan tidak singgah kesini.


"Non Tere tidak kesini Tuan. Hanya dulu tempo bulan lalu, ia mampir kesini. Tapi hanya sekitar 3 hari. Setelah itu sama sekali belum kesini lagi."


Bi Minah memang tidak bohong. Tere memang tidak ke villa itu karena Dave pasti tahu. Darimana tahunya? Melacak keberadaan Tere waktu itu tapi enggan untuk menghampiri dan menjemputnya.


"Bibi sungguh yakin? Apakah boleh saya cek? Saya masih belum percaya." Dave bukannya pergi malah menerobos ingin masuk saja.


"Aduh maaf mas, saya mah tidak punya kewenangan untuk ini. Tapi benaran, Non Tere tidak kemari."


Dave memandang manik mata bi Minah, ia tidak menemukan suatu kebohongan dari kata katanya.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu saya pamit dulu bi, terimakasih. Oiya jika bibi tahu bahwa Tere ke sini tolong hubungi saya ya bi. Ini kartu nama saya."


Dave menyerahkan kartu nama miliknya yang tertera nomor pribadinya juga. Bi Minah mengangguk.


"Baik Mas."


Dave harus cari kemana lagi, tidak mungkin di rumah papa Surya, tidak mungkin juga di rumah papa Haris.


Kalau pun jika kesana, pasti mama Anita sudah memarahinya. Dave begitu mencemaskan Tere. Ia takut akan kondisi Tere yang sepertinya kecewa berat dengan dirinya.


****


Di Beijing


"Apa aku harus mengabari mama Anita ya?Aku takut kalau mama Anita malah mendengar dari orang lain. Itu membahayakan kesehatannya."


Tere benar benar khawatir akan keadaan mama Anita jika mengetahui fakta bahwa Tere berada di Beijing.


"Oke, tenang Tere. Kamu harus menghubungi dan memberitahu. Tidak apa jujur daripada kamu bohong dan itu akan menyakitkan bagi mama Anita."


Belum lama, tiba-tiba saja ada panggilan telepon dari mama Anita. Tere mengangkatnya.


Tere : Assalamu'alaikum Ma


Anita : Waalaikumsalam Sayang, gimana kabarmu? Sehat?


Tere : Iya Ma, sehat kok. Mama gimana?


Anita : Sehat dong, kamu lagi ngapain ini?


Tere : Lagi nyantai saja ma. Tere boleh gak bicara sesuatu yang penting sama mama?


Anita : Boleh dong, ada apa Sayang? Apa ini ada kaitannya dengan Dave?


Tere : I-iya ma


Anita : Bicaralah


Tere : Maafkan Tere sebelumnya ma. Rere harus menyampaikan ini. Aku harap mama bisa terima keputusan Tere.


Anita : Sebenarnya ada apa Sayang?


Tere : Tere saat ini sedang menghindar dari mas Dave karena mas Dave terus membuat kepercayaan Tere menghilang. Mas Dave masih berhubungan dengan Clara. Tere mohon sama mama untuk merahasikan keberadaan Tere yang berada di Beijing dengan oma opa dari ibu kandung Tere. Mama boleh berkunjung kesini, tapi Tere mohon, jangan beritahu mas Dave.

__ADS_1


Anita : Apa Clara si j*l*ng itu?!


...Hai readers? Gimana part ini? Jangan lupa like, komen, dan vote cerita ini ya. Terima kasih. Jangan lupa baca karyaku yang lain berjudul PENGASUH TUAN MUDA LUMPUH...


__ADS_2