Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 68


__ADS_3

"Apakah anda keluarga pasien?"


"Iya saya istrinya Dok." ucap Tere spontan hal itu membuat reaksi Mei terkejut.


"I-istri?" pekik Mei sambil menatap heran ke arah Tere. Tapi Tere tidak mengindahkan. Ia fokus pada penjelasan Dokter.


"Bagaimana Dok keadaan suami saya?" tanya Tere khawatir. Ia harap-harap cemas karena akan kondisi Dave. Dokter itu menghela nafas terlebih dahulu.


"Kondisi pasien masih belum sadarkan diri. Banyak luka di sekujur tubuhnya. Kondisi tangan kirinya patah." Tere kaget dengan kondisi Dave saat itu. Tangan kirinya patah dan itu salahnya.


"Tenang saja, kami sudah mengoperasi pasien. Pasien dalam masa pemulihan. Semoga lekas siuman dan kemungkinan siuman mungkin dalam waktu 8-9 jam lagi."


Tere manggut-manggut mendengarkan penjelasan Dokter. "Terimakasih, Dok. Apakah saya boleh mengunjunginya?" tanya Tere.


Dokter itu mengangguk. "Boleh, silakan. Kalau begitu saya permisi."


Setelah mendapatkan izin dari dokter akhirnya Mei dan Tere langsung ke ruang Dave. Tere memandang tubuh Dave yang lemah tidak berdaya. Kondisinya sama seperti beberapa minggu yang lalu saat dia kritis. Tanpa sadar, Tere meneteskan air matanya.


"Maafkan aku, Dave. Gara-gara aku kamu menjadi seperti ini kondisinya." ucap Tere lirih. Mei yang berada di samping Tere hanya mengusap punggung sahabatnya. Di kepalanya terdapat banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan ke Tere. Tapi menunggu semua kondusif saja.


"Sabar ya, Re. Tuan Dave pasti segera siuman kok." Afirmasi positif terus digaungkan oleh Mei semata-mata untuk menenangkan Tere. Tere menciumi punggung tangan Dave.


"Maafkan aku, Dave. Aku mohon bangunlah..." ucap Tere lirih.


Tere sudah lama duduk di samping Dave sementara Mei duduk di sofa. Ia tidak mau menggangu waktu sahabatnya itu. ia malah sibuk mencari tahu soal siapa Dave Dharmendra sebenarnya.


Mata Mei membelalak. "Ternyata memang benar Tere adalah istri Tuan Dave Dharmendra. Tapi kenapa Tere tidak mengakuinya dulu?" batin Mei sambil memandang punggung Tere.

__ADS_1


****


"Re, makan dulu yuk. Kamu dari tadi belum makan lho. Ini sudah hampir jam enam sore." Mei meletakkan kotak nasi itu di atas nakas dekat ranjang Dave. Tere menoleh. "Kamu saja, Mei. Aku tidak lapar."


Tere menolak secara halus, dia masih setia menemani Dave. Mei menghela nafas panjang. "Kalau kamu tidak makan, bagaimana caranya menjaga Tuan Dave jika kamu sakit?" ujar Mei


Akhirnya Tere menurut. Ia duduk di sofa bersama Mei. Mereka makan berdua. Suasana hening saat itu dan tiba-tiba Tere berbicara soal statusnya. "Kamu pasti heran kenapa aku tadi menyebut Dave sebagai suami." tukas Tere


Mei mengangguk. "Iya Re, apa memang benar Tuan Dave Dharmendra adalah suamimu?" Tere mengangguk. "Iya, Dave adalah suamiku."


Mei masih tidak percaya rasanya. "Are you kidding me?" Tere langsung menatap tajam Mei. "Emang kelihatan becanda?" jawab Tere dengan wajah datar.


"Hehehe peace." Mei nyengir lebar dan tangannya membentuk huruf V. "Lagian siapa juga yang tidak kaget, Re. Katanya kamu melajang."


Tere kembali menyendokkan makanan ke mulutnya. Ia tidak menanggapi Mei. Merasa tidak diperhatikan Tere, akhirnya Mei berceloteh lagi.


Tere tidak menjabarkan secara spesifik apa yang dia alami. Dia sudah malas mengorek luka masa lalunya. Ia ingin fokus ke depannya saja.


Mei paham akan hal itu, ia memilih menenangkan Tere saja. Ia tidak akan mengorek luka apa yang Tere alami. Dia paham betul kondisi Tere saat itu memang sangatlah pelik.


"Kamu yang sabar ya, Re. Sekarang kita fokus pada kesembuhan Tuan Dave saja. Semoga nanti malam dia siuman." ucap Mei memeluk Tere. Tere yang berada di pelukan Mei pun mengangguk. "Semoga saja Mei. Aku akan menunggu Dave sampai siuman."


Mei segera menggeleng. "Tidak Re, kamu harus pulang. Tidak apa aku yang berjaga disini. Kamu kelihatan capek." Wajah Tere memang pucat dari pertama ia membawa Dave ke rumah sakit.


"Aku sudah izin ke oma opa dan mereka mengizinkanku. Nanti pak supir akan membawakan baju ganti untukku. Sebaiknya kamu saja yang pulang. Besok aku tidak masuk ke kantor, kamu yang akan menggantikan."


Mei menurut apa kata Tere. "Baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu ya. Aku juga harus memasak untuk kakak laki-laki ku. Pasti dia belum makan sejak tadi." Tere pun mengangguk.

__ADS_1


*****


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam belum ada tanda-tanda Dave siuman. Hati Tere mendadak gelisah. Seharusnya Dave dapat siuman sejak jam sembilan malam. Tapi ini?


"Dave, aku mohon bangunlah..." ucap Terr lirih. Ia merasa frustasi dengan kondisinya saat ini. Jalan pikirannya buntu tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba terbesit i den untuk mengabari hal ini pada Ares.


Mustahil ia mengabari mama Anita, yang ada mama mertuanya nanti menjadi ikutan panik. Akhirnya Tere langsung menghubungi Ares malam-malam.


Dan beruntungnya Ares menjawab panggilan video call dari Tere. "Hai Re, tumben video call malam-malam? Ada apa?" tanya Ares.


"Maaf ya menggangumu, Res. Ini aku mau mengabarkan bahwa Dave masuk rumah sakit lagi." Tere langsung mengarahkan kameranya ke arah Dave. Ares pun membelalakkan matanya.


"Bunuh diri lagi, Re?" tanya Ares sambil menelisik ke arah Dave. Tere menggeleng pelan. "Tidak, ini semua salahku Res. Dia kecelakaan karena menyelamatkanku."


Tiba-tiba air mata Tere kembali menetes. Area menjadi iba dengan kondisi Tere yang terus tersiksa seperti ini. "Re, itu membuktikan bahwa Dave memang tulus mencintaimu. Maaf bukannya aku membela, tapi jika orang sudah mencintai kekasihnya bahkan ia mau melakukan apapun demi kekasihnya, termasuk menyelamatkan dirimu."


Kata-kata dari Ares sukses membuat Tere tersentil hatinya. Jiwa melankolisnya bangkit. "A-aku akan berusaha untuk menerimanya lagi."


"Itu terserahmu, Re. Itu adalah hak kamu mau menerima lagi atau berpisah. Tapi kamu harus tahu, jika kamu menerima pastikan semua tidak ada yang mengganjal di hatimu." kata Ares serius. Tere mengangguk.


Sampai akhirnya mereka selesai video call dan Dave belum siuman juga. Tere meletakkan ponsel di nakas dan memeluk Dave. Memberikan afirmasi positif pada pasangannya.


"Dave, bangunlah. Aku mohon bangunlah. Aku sadar betul dengan perasaanku sekarang, aku tidak bisa menjauhi dirimu." Tere tetap memeluk Dave dengan berurai air mata. Dan tanpa sadar Dave sudah bangun sejak Tere memeluk tapi Dave pura-pura tetap memejamkan mata.


Dave tersenyum tipis saat Tere ternyata masih mencintainya. "Aku juga tidak bisa jauh darimu, Sayang." ucap Dave lirih.


...Jangan lupa vote, like, dan komen readers. Baca juga karya baruku berjudul "Sebuah Harga Diri Istri"...

__ADS_1


__ADS_2