
Cup
Bibir kenyal Dave sudah mendarat di bibir tipis Tere. Tere langsung membelalakkan matanya. Aliran darahnya seakan berhenti seketika.
Tere tetap mematung dalam posisinya. Sedangkan Dave kembali ke aktivitas semula dengan fokus mengecek email di macbook nya.
Tere memegangi bibirnya sendiri. Ia tidak pernah menyangka akan dicium oleh suaminya. Apalagi tanpa ia meminta sekalipun.
Dave kembali menoleh pada Tere. "Ngapain lu pegang pegang bibir, mau lagi lu?! Mangkanya jangan ganggu orang lagi fokus. Sana tidur!". Dave menatap nyalang istrinya. Bak prajurit yang taat pada perintah Raja, Tere langsung menyelimuti tubuhnya hingga ke leher dan berbaring membelakangi Dave.
Ia memegangi bibirnya lagi. " Aduh, ternyata kok rasanya aneh aneh nikmat gimana gitu ya". Tentu dalam batin Tere mungkin meminta Dave melakukan lebih.
Tere langsung menghilangkan pikiran kotornya itu. Bisa bisanya ia menikmati saat Dave menyentuh bibir kenyalnya. Tidak mau berlarut larut dalam euforia nya, Tere segera memejamkan matanya. Dan tidak lupa ia membaca doa
****
Jam menunjukkan pukul 23.35 WIB.
Dave akhirnya kelar dalam menyelesaikan kerjaannya. Ia meletakkan macbooknya di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia juga mematikan lampu. Sehingga hanya cahaya temeram yang ada.
Dan posisi Tere sudah berubah menghadap Dave. Lalu Dave memandangi wajah damai Tere saat tidur. "Lu bagusan tidur, lebih anteng. Coba kalau bangun, sukanya ngereog mulu". Sarkas Dave pada istri palsunya itu sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah Tere
" Cantik sih, tapi tengil". Lagi lagi ia malah me-roasting istrinya sendiri. Dan Dave juga memejamkan matanya. Tentu ia tidur dengan membelakagi tubuh Tere.
*****
Pagi telah tiba, matahari menunjukkan eksistensi tanda Dave dan Tere harus bangun. Kemarin Tere amat kelelahan, jadi ia telat bangun pagi.
"Ya Allah, kok bangun jam segini sih. Mana belum siapin mas Dave sarapan juga lagi.". Tere mengerjab ngerjabkan matanya, terlihat Dave masih tertidur pulas di sampingnya. Pahatan wajah Dave sungguh indah.
__ADS_1
Detik itu juga Tere jatuh cinta berkali kali pada suaminya. Ia mengusap lembut pipi Dave. " Aduh, suamiku ganteng banget sih".
Tapi alangkah terkejutnya, Dave malah menjawab. "Kenapa humm? Lu pengen apa kalau gue ganteng?". Dengan mata yang masih setengah terbuka, Dave memandangi Tere. Suara Dave yang serak habis bangun tidur membuat Tere terbuai.
" Em i-itu mas, bukan apa apa". Tere menjadi gugup kala itu, ia tidak berani memandangi wajah tampan suaminya lagi. Cukup malu karena kepergok memuji. Ia bergegas turun dari ranjang.
Tetapi Dave menarik pinggang ramping Tere. Walaupun masih dalam keadaan setengah sadar, nyatanya kekuatan Dave jauh lebih besar daripada Tere. Tubuhnya saat ini sangat berdekatan dengan Dave.
"Kenapa hum? Lu pengen apa?". Nada serak khas habis bangun tidur Dave membuat Tere makin gugup. Jantungnya saat ini tidaklah aman.
" Gak pengen apa apa mas. Aku mau bangun ini". Tere menggelengkan kepalanya dan menjauhkan dada Dave yang hampir bersentuhan dengannya. Dave yang usil berniat memporak porandakan perasaan Tere.
Dave menahan tengguk Tere dan menyampingkan wajahnya. Dan pada akhirnya alat bicaranya itu sudah menyatu dengan sempurna. Dave memangutnya dengan pelan dan lembut. Tere masih terbelalak. Ingin dia melepas, tapi respon tubuhnya berkebalikan dengan otaknya.
Perlahan tapi pasti, Tere juga larut dalam pangutan Dave. Cukup lama mereka menikmatinya.
Dave menyentuh bibir Tere dengan jempolnya. Terlihat bibir istrinya yang mulai membengkak karenanya. "Bocah tengil cupu". Itu kata kata yang diucapkan Dave tepat di telinga Tere.
Tere yang masih syok hanya mengedipkan matanya secara cepat. " Apaan sih mas, kan ini first kiss ku". Tere segera bangkit dari ranjangnya dan menuju dapur
Dave memandangi tingkat Tere yang terlihat grogi itu. Ia mengulas senyum tipisnya. "Dasar! Dicium saja sudah beku gitu, apalagi ditusuk. Sok sok an pengen jadi suami istri yang sebenarnya". Dave sibuk me-roasting istrinya sendiri.
Saat momen pagi itu, ada gelenyar aneh timbul di dada Dave. Entah itu perasaan apa. Dave masih denial terhadap perasaannya sendiri.
****
Di dapur, Tere mulai menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng. Tidak lupa ia juga menggoreng telur mata sapi dan juga nugget. Menu yang terkesan simpel tapi bisa dilakukan dengan cepat.
Tere mencoba fokus, tapi nyatanya bayangan momen tadi masih terngiang di kepalanya. Perkara Dave yang langsung menyambar alat bicaranya membuat ia merasakan gelenyar aneh. Rasanya seperti jutaan kupu kupu hinggap di perutnya.
__ADS_1
Jika kembali membayangkan, mungkin Tere tidak akan sanggup. Antara gugup dan malu jadi satu. Tere menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu.
Setelah 25 menit, akhirnya sarapan jadi. Ia memanggil Dave untuk sarapan pagi Tapi jam sudah menunjukkan jam tujuh kurang 15 menit. Dan Dave juga buru buru.
"Gue gak sempet makan masakan lu. Lu makan saja sendiri". Dave berlalu meninggalkan Tere yang termenung di meja makan.
" Padahal masak capek capek. Alhasil malah dianggurin. Mending aku buatin bekal terus aku antar kesana saja. Mungki mas Dave mau". Tere mengambil kotak wadah bekal di almari dan mengisinya dengan nasi goreng, telur mata sapi, dan nugget ayam.
"Nah, kalau gini kan oke. Nanti jam 8 aku antar deh. Sekarang waktunya mandi dulu". Tere berlalu ke kamar dan mandi tanpa berendam hahaha
*****
Di kantor, kedatangan Dave sudah disambut oleh Ares, rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya dulu.
" Loh, Res? Tumben lu datang pagi pagi gini. Ada apa? Apa mau ngelamar jadi satpam disini?". Apa Dave sedang melawak? Apa ini adalah jokes bapak bapak?! Entah. Dave jika berhubungan dengan Ares memang otaknya agak sedikit geser.
"Mulut lu itu ya, perlu gue karetin. Gue kesini pagi pagi buat bahas masalah proyek kita. Kebetulan ada masalah sedikit yang harus kita selesaikan sekarang. Enak saja jadi satpam. Mana ada satpam ganteng kaya gini".
Bukan Ares namanya jika ia tidak narsis pada Dave. Kemudian mereka segera membahasnya. Pembahasan itu memakan waktu 1 jam. Dan akhirnya masalah itu menemui solusinya.
Setelah berbicara tentang proyeknya selesai, mereka berbincang ringan saja. Tiba tiba ponsel dari Ares berdering. Ternyata dari istrinya yang akan ke kantornya buat main saja atau sekedar bermanja manja.
Setelah selesai menelpon, Ares pun berbincang lagi dengan Dave. "Bini lu bro?". Tanya Dave
" Iya nih, nanti jam 9 mau ke kantor. Biasalah kalau punya bini gitu. Lu sama bini lu gimana kabarnya? Gue dengar dari mama Anita lu habis dari Zurich buat honeymoon". Ternyata jiwa penasaran Ares juga kental layaknya cewek.
"Mana ada gue honeymoon, gue gak cinta sama bini gue". Dave menjawabnya dengan ekspresi datar sontak Ares membelalakkan matanya.
" Wah, serius lu bro? Gila lu. Hati hati loh, kalau nanti direbut". Ares sengaja mengompori sahabatnya itu sambil menepuk bahu Dave. Seketika Dave teringat dengan dokter Athur.
__ADS_1