Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 35


__ADS_3

Kak Athur?". Tere membulatkan matanya, bagaimana bisa Athur berada di pesta itu. Kei menerima tisu pemberian Athur.


"Terimakasih kak". Tere mengusap bulir bening yang membasahi pipinya. Ia tetap menangis terisak menyaksikan pemandangan suaminya bersama wanita lain.


" Boleh aku duduk Re?". Athur yang masih berdiri mematung pun memulai pembicaraan. Wajahnya pun kali ini dibuat kebingungan. Kenapa Tere menangis di pesta milik pak Tom.


"Boleh kak, silakan". Tere mempersilakan Athur untuk duduk di dekatnya. Ia masih sibuk mengusap bulir beningnya.


" Kok kak Athur ada di sini?". Tere mulai menormalisasi perasaannya lagi. Tidak baik terus menangis di depan Athur. Ia menatap Athur yang memakai tuxedo. Terlihat sangat tampan, tidak kalah dengan Dave.


"Aku memang diundang di acara pak Tom Frederick karena aku adalah dokter pribadi Nyonya Airin, istri pak Tom". Athur pun mengulas senyumnya. Ia juga memandang Tere.


Tere pun manggut manggut saja. Ia bingung ingin bercerita atau tidak. " Dan pertanyaanku, kenapa kamu disini sendiri dalam keadaan menangis dan mana Tuan Dave? Bukankah kamu pergi dengan Tuan Dave?".


Athur memandang lekat lekat wanita yang dulunya menjadi idamannya. Ia tidak tega dengan situasinya seperti ini. Rasanya ingin memeluknya, tapi ia sadar bahwa itu istri Tuan Dave.


Tere menghela nafas panjangnya. Ia akan bercerita. Tidak baik jika hanya disimpan sendiri dan akhirnya sakit sendiri. Ia harus membagikan pada orang lain, termasuk pada Kak Athur.


"Kak, sebenarnya aku datang dengan mas Dave. Tetapi mas Dave malah bersama wanita lain. Dan lebih parahnya ia adalah mantannya mas Dave. Dari tatapan mas Dave menunjukkan bahwa ia masih mencintai mantannya kak".


Mencoba untuk tegar nyatanya hanya omong kosong. Bohong banget kalau Tere bisa tegar. Ia kembali menangis terisak, dan tanpa sadar pun ia menjatuhkan kepalanya ke bahu Athur.


Athur yang menerima sandaran itu pun jadi kikuk. Bagaimana jika nantinya ada Tuan Dave yang melihatnya. Itu membuat kesalahpahaman.


Athur hanya merespon singkat. Ia mengelus pucuk kepala Tere untuk memberikan ketenangan. Hatinya saat ini kembali merasa teriris. Bisa bisanya Dave setega itu pada Tere.


"Menangislah Re, tumpahkan semua keluh kesahmu. Dan habis itu kamu harus meminta penjelasan dari Tuan Dave. Tidak baik jika terus marah dengannya jika kita tidak mendengarkan penjelasan darinya".


Athur adalah seorang yang berpendidikan jadi alangkah baiknya jika ia menasehati Tere, bukan malah menyudutkan Dave.


" Rasanya aku tidak akan kuat menatap mas Dave Kak. Sakit sekali melihat momen tadi. Ingin pergi saja rasanya". Saat ini Tere malah memeluk Athur dari samping. Pria tampan itu malah membeku.

__ADS_1


Athur pun membalas dengan mengusap lengan Tere secara lembut. "Jangan Re, itu bukan solusi. Jika kamu mau masalah ini selesai, maka hadapilah. Percuma kamu lari dari masalah ini. Toh tidak akan bisa mengobati rasa sakitmu".


Athur bagaikan kakak yang baik bagi Tere. Mereka cukup lama di taman itu. Dan pada akhirnya Tere pamit untuk pulang. Tentunya diantar oleh Athur.


****


"Makasih ya kak sudah mau mengantar. Maaf merepotkan kakak selama ini". Tere mengulas senyum tipis pada Athur.


" Iya sama sama Re. Semangat ya kamu". Athur pun membalas senyuman itu. Ia merasa lega jika Tere sudah lebih baik daripada sebelumnya. Lalu Tere pun keluar dari mobil itu.


Setelah mobil Athur sudah meninggalkan teras rumahnya, ia masuk ke kamar. Ia bertekad untuk masih ngambek pada Dave.


"Siapa yang mengantarmu?". Dari dalam kamar sudah ada Dave yang menyandarkan tubuhnya ke headborad.


Dave sudah pulang sebelum acara selesai. Ia mencari Tere tapi nyatanya tidak ada. Bahkan ponsel Tere juga tidak aktif ketika dihubungi. Jadi ia memutuskan untuk pulang tanpa Tere tadi.


"Bukan urusan mas". Tere membuang muka, ia menuju ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Tapi buru buru dicegah oleh Dave.


Dave mencoba menjelaskan pada Tere. Ia memegang kedua tangan Tere. Ia sangat merasa bersalah pada istrinya.


"Tidak sengaja? Jika memang tidak sengaja kenapa ketemuannya lama?". Tere membalikkan pernyataan Dave itu. Memang aneh jika tidak sengaja harusnya hanya menyapa. Itu yang dipikir oleh Tere.


" Aku lama tidak bertemu dengannya". Jawaban Dave itu membuat Tere tidak habis pikir. Ia tersenyum smirk saat ini.


"Lama tidak bertemu atau memang masih ada rasa?". Tere menatap tajam Dave. Ia menepis genggaman tangan Dave.


" Sayang". Dave malah enggan menjelaskan membuktikan bahwa ia memang masih ada rasa.


"Sudahlah mas, aku hari ini capek banget. Capek fisik, capek hati. Jadi mas minggir. Aku mau ganti. Aku capek mas!". Kali ini Tere mengumpulkan nyalinya untuk membentak Dave.


Dave pun terkesiap. Ia langsung saja memundurkan badannya untuk tidak menghalangi Tere ke walk in closet. Lebih baik ia menunggu Tere di ranjang.

__ADS_1


Tere yang sudah di walk in closet segera mengganti gaunnya itu. Setelah itu ia melakukan rutinitasnya malah hari dengan menyikat gigi, skincare an, dan lainnya.


Setelah lebih dari 20 menit akhirnya Tere kembali ke ranjang. Ia mendapati Dave yang masih menunggunya. Ia memberikan atensinya ke arah Tere. Mukanya saat ini memelas.


Tere tidak mudah terbujuk rayuan Dave. Ia mengambil bantal dan gulingnya saat ini. Sepertinya Tere akan tidur di kamarnya dahulu.


"Sayang, mau kemana?". Dave bangkit dari ranjangnya menyusul Tere. Ia melangkah dengan tergopoh gopoh.


" Mau tidur di kamarku satunya". Tere menjawabnya dengan santai. Ia meneruskan langkahnya kali ini.


"Yang, jangan dong. Aku minta maaf lah. Aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu". Posisi Dave saat ini memeluk erat Tere. Sampai membuat Tere engap di pelukan Dave.


" Lepasin mas, engap aku. Lagian dulu kamu tenang tenang saja kok tidak tidur denganku. Kenapa sekarang gitu?!". Tere mendelikkan matanya.


"Itu beda situasi yang. Aku mohon ya, jangan pisah ranjang. Aku pengen tidurnya meluk kamu gitu". Dave memasang muka melasnya. Ia akan terus membujuk Tere sampai istrinya itu mau tidur seranjang dengannya.


" Gak mas!". Keputusan Tere sudah final. Ia akan tidur di kamarnya dulu.


"Gak boleh". Dave juga tidak mau kalah dari Tere. Keduanya malah sibuk menyangkal.


" Kalau begitu aku mau tidur di kamar ini". Tere tersenyum penuh arti dengan menatap Dave.


Dave pun menjadi sumringah. Ia mengembangkan senyumnya. "Syukurlah".


Tiba tiba saja Dave mendapatkan bantal dan guling dari Tere. Jelas ia merasa keheranan. " Kenapa sayang kamu berikan padaku?".


"Sebagai hukumannya kamu tidur di luar hari ini. Tidak ada jatah untukmu malam ini".


...Jangan lupa baca karyaku yang lain berjudul 'Pengasuh Tuan Muda Lumpuh'. ...


...Untuk melihat visual tokoh bisa kalian follow IG: cemaraseribu_author. Dan jangan lupa untuk vote cerita ini ya biar Thor makin semangat nulisnya. Thanks, big hug...

__ADS_1


__ADS_2