
"Res" Tere memanggil Ares. Ares langsung menoleh.
"Tere!" Ares langsung beranjak dari tempat duduk nya. Ia menghampiri Tere yang masih mematung di dekat pintu kamar ICU.
"Ayo masuklah. Aku yakin kamu akan kesini, Re." Ares terlihat senang saat Tere datang menemui Dave.
"Kenapa senang? Aku hanya memastikan kamu tidak bohong dan aku hanya penasaran dengan kondisinya." Bohong sekali Tere bicara seperti itu.
Tadi saja ia sangat khawatir. Tapi ia memutuskan untuk diam. Ia hanya memandangi wajah pucat dari Dave.
"Tidak apa apa, yang penting kamu datang dan tahu kondisi Dave. Dia masih kritis hingga saat ini, bahkan dokter tidak bisa memberikan kepastian kapan ia akan melewati masa kritisnya. Hanya keajaiban yang bisa membantu."
Ares menjelaskan seperti dokter jelaskan tadi. Ia juga mempersilakan Tere duduk di samping Dave.
Tere pun duduk dan memandangi suaminya. "Kenapa dia bisa seperti itu?" Tere juga kaget Dave langsung terbaring tidak berdaya dan lebih parahnya ia kritis.
"Dia meminum racun." Ares mengucapkannya dengan lirih. Dia juga menatap nanar Dave. Tere langsung menoleh ke Ares. Apa benar yang dikatakan Ares?
"Serius?" Tere seakan tidak percaya karena Dave melakukan hal yang konyol. Untuk apa dia melakukan hal konyol yang membahayakan dirinya sendiri?
"Kenapa? Kamu tidak percaya akan hal itu?" Ares seperti bisa membaca pikiran Tere. Tere pun mengerjab.
"Tapi kenapa dia melakukan hal bodoh seperti itu?" Tere menanyakan itu pada Ares dengan bahasa penuh tuntutan.
Ares menghela nafas panjang, "Mungkin dia frustasi saat tahu dia akan dicerai dan dia menganggap dirinya telah membunuh anaknya sendiri dan menyakiti istrinya sendiri. Dia merasa tidak berguna."
Perkataan Ares memang benar! Dave merasa tidak berguna karena dunianya sudah hancur.
"Cih, konyol." Tere langsung memusatkan atensi ke Dave.
"Konyol! Dasar bodoh! Kamu pengecut, Dave! Jika kamu mau memperjuangkan aku jangan seperti ini. Mana gentleman mu? Katanya CEO tapi otak tidak dipakai, Hah?!"
Tere malah mengumpat pada Dave yang masih kritis itu. Umpatannya terlihat menggebu gebu. Ia mati matian menahan air matanya. Tapi nyatanya tumpah begitu saja.
Ares hanya bisa melihat saja, dia kasian dengan Dave juga Tere. Keduanya tampak mencintai tapi Tere enggan mengakui, dia masih denial terhadap perasaannya.
"Dan kamu Res, kamu sebagai sahabatnya kenapa tidak memberikan nasehat pada Dave, hah?! Dia bisa bisanya kabur dari masalahnya! Pengecut!"
Tere juga begitu frustasi karena dia merasa Dave mudah menyerah. "Maafkan aku, Re. Aku berusaha tapi ya begitulah. Dave agak keras kepala orangnya."
"Lihat saja Dave, aku akan menghajar mulai begitu kamu sadar. Enak saja kamu lari dari masalahmu?! Buktikan semua cintamu!"
*****
Hari sudah hampir gelap dan Tere masih setia berada di samping Dave. Ares sudah menawarinya makan siang tapi dia tetap tidak mau makan.
__ADS_1
"Re, ini sudah malam dan kamu masih belum juga makan. Ayolah kamu makan dulu. Ini aku belikan buat kamu."
Ares menyodorkan makanan pada Tere, tapi dia menggeleng. "Aku tidak lapar."
Tere tidak bergairah sama sekali. Ia tidak peduli dengan kondisinya.
"Kalau kamu sakit, gimana kamu bisa menjengok Dave?! Hah? Kamu harus makan. Dan sejak tadi ponselmu selalu berbunyi, angkatlah. Siapa tahu penting."
Ares mendengarkan dering panggilan telepon sejak tadi. Ada panggilan lebih dari 10 kali tapi Tere enggan melihat.
Akhirnya Tere mengalah. Ia mengambil ponselya dan melihat panggilan tidak terjawab dari Xiao Bao dan Li Xie Cu.
"Oma, Opa?" Tere langsung menelepo balik Li Xie Cu saja.
Tere : [Halo Oma]
Li Xie Cu : [Kemana kamu, Sayang? Kok belum pulang? Kamu masih di rumah sakit kah?]
Tere : [Iya Oma, aku masih di rumah sakit. Nanti jam sembilan malam aku akan pulang. Oma tenang saja ya]
Li Xie Cu : [Oke Sayang, jangan lupa makan juga. Kesehatanmu penting]
Tere : [Iya Oma]
Seusai ber telepon itu, Tere langsung menyambar kotak nasi yang sudah Ares berikan.
Ares menepuk pundak Tere. Dan Tere pun mengangguk. "Oke!"
Ares telah berlalu dari ruangan itu. Sisa Tere dan Dave yang berada di ruang ICU.
Tere memakan makanan itu. Jujur, dia sebenernya juga sangat lapar. Ia langsung melahap habis makanan itu hingga habis tak tersisa.
"Alhamdulillah kenyang juga." Tere mengusap perutnya. Sepertinya ia sudah kekenyangan.
Setelah membereskan bungkus makanan yang sudah habis. Tere kembali duduk di samping Dave.
"Bodoh banget sih kamu, Dave! Harusnya kamu bujuk aku, tapi apa?! Malah bunuh diri segala. Emangnya kamu tuh tidak merepotkan hmm? Aku akan menghajarmu jika kamu sadar. Ingat itu!"
Tere terus saja bermonolog. Dan sampai setengah jam berlalu dan Ares pun kembali ke rumah sakit.
"Maaf menunggu lama, Re. Kamu bisa pulang. Ini juga sudah malam. Aku sudah pesankan taksi, mungkin sebentar lagi bakalan sampai."
Ares tidak tega karena Tere begitu kelelahan. Terlihat dari raut wajahnya. "Terimakasih Res, jaga si bodoh ini. Aku akan kembali besok pagi."
Tere menepuk bahu Ares. Ares pun terkekeh, "Baik Re, kamu nih ada ada saja."
__ADS_1
******
"Sayang, kamu sudah pulang." Li Xie Cu langsung memeluk Tere yang kondisinya agak acak acakan.
"Iya Oma, Opa mana?" Tere menelisik Xiao Bao tidak ada bersama Li Xie Cu.
"Oh Opa kamu sudah tidur, maklum. Sudah tua emang sering capek, termasuk Oma juga."
Li Xie Cu cekikikan.
"Tua tua tapi Oma masih cantik gini." Bisa bisanya Tere masih mengggombal padahal suasana hatinya lagi kacau.
"Kamu bisa saja, Sayang."
Kemudian setelah percakapan singkat itu, Tere ke kamarnya. Ia langsung berganti baju tidak lupa juga rutinitas malamnya.
*****
"Sebaiknya aku masuk kerja saja. Nanti belakangan saja jenguk Dave." Tere sudah bersiap siap untuk berangkat ke kantor.
Tidak lupa ia juga sarapan bersama Oma Opanya. Setelahnya, ia langsung berangkat kerja. Kali ini dia pakai mobil sendiri tanpa diantar oleh supir pribadinya.
Sesampainya kantor, Tere disibukkan dengan pekerjaan kantor yang banyak. Meeting juga siap menanti Tere.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Tere. Tere mengizinkan masuk dan ternyata itu adalah si Mei, sekretaris Tere.
"Pagi Nona Tere. Hari ini ada meeting dengan perusahaan milik Xiang Tong pukul delapan pagi. Semua berkas sudah saya siapkan."
"Oke, ini sudah jam 07.45 berarti kurang lima belas menit lagi. Ayo kita ke ruang meeting."
Mei pun mengangguk, ia juga menenteng dokumen yang diperlukan.
Tere bangkit dari duduknya dan ternyata ponselnya berbunyi.
"Ares?" Tere langsung mengangkatnya.
"Ada apa Res?"
Di seberang sana, Ares terlihat panik. "Re, cepat kesini. Dave makin kritis kondisinya memburuk. Cepat Re!"
__ADS_1
"Apa!"