Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 65


__ADS_3

Tidak berselang lama Dave mulai membuka kelopak matanya. Tere mengerjab.


"Sa-sayang?" Beo Dave lirih. Ia mengerjab pelan, Tere langsung menghapus air matanya.


Tangan Dave mengulur ke tangan Tere, tapi Tere langsung menepisnya. Dave yang semula berwajah sumringah menjadi sendu lagi.


"Sudah sadar ya kamu Dave? Kenapa tidak mati saja haha?! Kaya anak TK aja pakai acara bunuh diri. Ya sudah sana mati."


Tere meluapkan emosinya. Tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, Tere sebenarnya senang karena Dave kembali sadar.


Tapi ada saja ganjalan dalam hatinya pada Dave. Jadi ia memutuskan untuk menghindari kontak langsung dengan Dave.


"Sa-sayang?" Dave bercelatuk lagi. Ia menatap nanar istrinya yang bermuka datar itu. Ia pandangi wajahnya.


Terlihat gurat wajah sedih dari Tere, ia sembab. Seketika itu Dave mengembangkan senyumnya.


"Ngapain kamu senyum senyum sendiri? Hah?! Gila kamu?!" Tere menimpali nya dengan sewot. Hatinya masih keki.


Dave malah terkekeh pelan, "Kamu ingin aku mati tapi lihat wajahmu, Sayang. Kamu terlihat sembab. Artinya kamu habis menangis. Pasti menangisi aku kan?"


Dave percaya diri saja bilang begitu, tapi kenyataannya benar kan?


"Tidak sama sekali. Dasar manusia bodoh! Bunuh diri saja sana." Tere memukul dada Dave.


Yang dipukul sebenarnya tidak sakit tapi Dave pura-pura sakit saja. "Aw sakit Sayang."


Dave pura pura mengaduh kesakitan sambil memegangi dadanya.


Tere tidak gentar, ia berganti mencubit pinggang Dave. "Tuh rasain!" Tere puas karena bisa melayangkan cubitan mautnya. Mungkin kalau ada lomba cubitan nya juara 1


Kali ini cubitan di pinggang memang sesakit itu. "Sayang, ini sangat sakit. Kamu tega banget, aku baru sadar dan langsung dicium gini. Harusnya kamu tuh cium aku."


Dave mengaduh kesakitan dan Ares yang di samping Tere pun hanya tertawa.


"Ya kan Res?" Dave malah meminta validasi dari Ares. Jelas Ares hanya mengendikkan bahunya. Ia di pihak netral saja.

__ADS_1


"Tuh kan! Teman sendiri saja tidak mendukung. Emang kamu tuh pantasnya di cubit bukan dicium."


Dave hanya menghela nafas panjang. "Sayang, maafkan aku. Aku sudah berubah sekarang. Aku sangat mencintaimu."


Dave kembali mellow, ia memegang tangan Tere. Dan lagi lagi di hempashempas oleh Tere.


"Lepas! Aku mau kita cerai!" Tere langsung to the point saja. Toh jika diulur ulur pun ia tetap akan bercerai. Jadi ia harus menyampaikan langsung saja.


"Cerai? Jangan Sayang. Aku tidak akan mengabulkan itu. Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun. Kamu selamanya akan menjadi istriku satu satunya."


Dave kekeh juga dengan pendiriannya. Tere langsung menatap Dave dengan tajam. "Tidak akan menceraikan?Menjadikan aku istrimu? Jangan harap Dave, aku sudah terlanjur sakit hati. Aku sudah memberikan hidupku untukmu. Tapi apa? Kamu yang menghancurkannya!"


Tere meninggikan suara saat ini. Dave paham, ia memang bersalah. Dan apa salahnya mencoba memperbaiki apa yang seharusnya masih jadi miliknya.


"Sayang, aku minta maaf. Aku sudah berubah saat ini. Aku sangat berusaha saat kamu tidak ada di sampingku."


Dave terus meyakinkan Tere. Di samping itu Ares tidak bisa berbuat banyak. Ia memilih untuk diam saja daripada ia terkesan mengurus campuri urusan rumah tangga mereka.


Ares memilih duduk di sofa saja daripada berada di samping Tere.


Ares sangat miris melihatnya. Dave memasang wajah sendu. Seakan tidak ada harapan untuk kembali. Ares mendekat, "Bro, ayo bangkit. Kalau lu emang cinta banget sama Tere lu harus lebih banyak berjuangnya. Mungkin cewek bilang enggak tapi kalau lu terus berjuang, dia bakalan ngerti. Percaya sama gue."


Ares menepuk bahu Dave. Dave mengangguk, dirinya baru sadar dan harus menelan pil pahit bahwa Tere ingin bercerai. Dunianya hancur berkeping-keping.


*****


Tere langsung menaiki mobilnya. Seketika itu tangisnya pecah. Ia sangat sedih harus mengatakan ini pada Dave. Sebenci bencinya dia pada Dave, tapi masih ada setitik rasa cinta di hatinya.


"Apa keputusanku benar?" Tere bermonolog sambil menyetir mobilnya. Ia bimbang sebenarnya dengan tujuan awalnya. Tapi ia mencoba meyakinkan dirinya lagi.


Setelah sampai mansion, ia langsung ke kamar. Tapi sebelum itu ia berpapasan dengan Xiao Bao. Xiao Bao tahu bahwa Tere habis menangis.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Siapa yang menyakitimu?"


Xiao Bao menangkap wajah Tere. Ia paham betul akan kondisi cucunya yang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Tere menggeleng, " Aku baik baik saja, Opa. Opa jangan mengkhawatirkan apa apa." Tere menatap Opanya.


"Ceritalah, Sayang. Opa yakin kalau cucu Opa ini lagi bersedih." Opa langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Tere. Ia mengelus surai lembut Tere.


Tere yang tadi sudah berhenti menangis kini ia menangis kembali. Ia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dengan Opanya.


"Opa, apa keputusanku untuk bercerai dengan Dave adalah pilihan yang tepat?" Tere melonggarkan pelukannya, ia menatap lamat lamat Opanya.


Xiao Bao hanya tersenyum tipis. "Kenapa tanya pada Opa? Tanyakan pada hatimu, Sayang. Kamu yang tahu itu? Jika kamu yakin tanpa ragu ragu berarti memang kamu menginginkannya. Tapi jika kamu ragu ragu, mungkin hatimu masih membagi sih terselip rasa cinta pada suamimu. Opa tidak akan mengekang tidak akan menghakimi keputusanmu. Apapun itu, yang penting kamu bahagia."


Xiao Bao lebih berkata lembut dan bijak hari ini. Tere mengangguk pelan. Mungkin Tere butuh waktu.


*****


Satu bulan kemudian..


Semenjak kejadian Dave bunuh diri dan siuman. Dan yang paling parah Dave mendengarkan bahwa Tere ingin bercerai. Dave kembali bangkit lagi.


Dave kembali ke Indonesia menjalankan aktivitasnya seperti biasanya. Tapi kali ini keputusannya mantap. Ia akan memboyong perusahaannya dan semua termasuk hatinya untuk tinggal di Beijing.


Ia sudah memikirkan matang matang hal itu. Tentunya dengan persetujuan Mama Anita dan Papa Surya. Kedua orang tuanya juga menyetujui.


Ares juga mengetahui kabar ini. Ia sangat setuju karena Dave memang harus memperjuangkan cintanya.


Dave pun memantapkan dirinya, ia akan ke Beijing hari ini. Layangan gugatan cerai pun sebenarnya sudah ada di tangan Dave dua minggu yang lalu. Tapi ia abaikan begitu saja.


"Aku tidak akan menandatanganinya Tere, aku akan memperjuangkan apa yang masih menjadi milikku. Aku percaya, kamu adalah takdirku." Dave langsung menuju ke Beijing. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan seseorang.


Dave berjalan dan tidak sengaja menabrak orang itu.


".I'm apologize" Dave menunduk meminta maaf.


"Tuan Dave?"


"K-kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?"

__ADS_1


__ADS_2