
"Aku menginginkan hakku malam ini, Sayang," bisik Dave di telinga Tere. Seketika itu tubuh Tere dibuat meremang oleh sentuhan dan gigitan manja dari Dave di telinganya.
"Dave! Kamu nakal banget sih!" seru Tere menjauhkan dirinya dari pangkuan Dave. Namun, belum juga bergeser posisi, tubuh Tere di tahan oleh Dave.
"Mau kemana sih, Sayang? Aku rindu banget sama ini lho," ucap serak Dave sambil merem*s gunung kembar istrinya. Tere uang sudah lama tidak mendapatkan nafkah batinnya pun seketika tubuhnya memanas.
Ia tidak bisa menahan suara keramat nya yang begitu seksi itu. Dave menyunggikan senyumnya. "Boleh, kan malam ini?" tanya Dave sekali lagi. Entah mendapat hipnotis darimana, tiba-tiba saja Tere mengangguk.
Dave langsung memperbaiki posisi Tere agar berhadapan dengannya dan saling menempelkan bibir mereka. Malam itu, menjadi malam pertama part dua bagi mereka hahaha. Mereka saling memang*t dengan mendamba.
Dave begitu agresif disusul Tere yang semula kaku jadi menyesuaikan diri. Mereka memadu kasih. Tere juga begitu menuntut cium*n dari Dave. Mereka saling menikmati satu sama lain.
Posisi Dave dan Tere masih berpangku. Dan itu membuat Dave langsung dengan lembutnya menggeser posisi Tere di bawahnya. Sehingga Dave mengungk*ng Tere.
Ia memandangi sejenak manik mata Tere yang begitu indah. Tidak lama dari mereka berpandangan, Dave kembali memang*t bibir seksi istrinya. Tidak lupa juga, tangan Dave ikut bergerilya ke gundukan bukit kembar Tere yang begitu sintal.
Tere memejamkan matanya merasai bukit kembarnya direm*s oleh Dave. Ia merasakan perutnya dihinggapi banyak kupu-kupu. Dave tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia langsung melepaskan bra yang dipakai oleh Tere.
Ia juga merobek lingerie yang dikenakan Tere Seketika itu, mata Tere membulat. Inginnya ia protes karena Dave sudah merobek lingerie yang ia pakai. Bukankah bisa dicopot pelan-pelan?
"Dave!" protes Tere memandang suaminya. Dave tidak akan membiarkan bibir Tere ini memprotes dirinya. Ia langsung membungkam mulut Tere dengan bibirnya.
Mereka benar-benar di mabuk asmara malam itu. Sampai akhirnya Dave kembali memasuki lembah surgawi milik istrinya. Karena saking lamanya tidak berhubungan maka sensasi yang di dapat pun juga berbeda. Mereka sama-sama menikmatinya seperti malam pertamanya.
******
Keesokan harinya, badan Tere seperti remuk redam. Dirinya mengingat-ingat kejadian tadi malam yang begitu membuatnya malu. Tere menoleh ke arah Dave yang masih terlelap dengan tangan yang melingkar di perut Tere.
__ADS_1
Tere dengan hati-hatinya ia memindahkan tangan Dave itu supaya tidak menimpa perutnya lagi. Tapi usaha itu gagal total.
Dave justru mengeratkan pelukannya pada istrinya.
Tere mendengkus, ia menggoncangkan tubuh Dave. "Dave, bangun dong! Ini tangan kamu malah memeluk erat gini. Gimana aku mau bangun sih!" seru Tere sembari berusaha memindahkan tangan Dave. Karena suaminya mendengar omelan Tere, ia mengerjakan mata.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya serak Dave khas bangun tidur. Tere menelan salivanya susah. "Gila, suaranya bikin... ah jangan berpikiran aneh-aneh, Re!" batin Tere sambil menggelengkan kepalanya.
Dave mengernyit. "Kenapa Sayang? Kok menggeleng gitu?" tanya Dave keheranan. Tere gelagapan. "E-enggak kok. Aku sudah bangun dari tadi terus ini tanganmu harusnya berpindah dong!" seru Tere sembari mengalihkan topik pembicaraan. Dave pun melonggarkan pelukan itu. "Aku mau mandi dulu, Dave." Tere beranjak dari tempat tidurnya.
Sementara Dave hanya mengamati istrinya yang sangat cantik walaupun tanpa polesan. Dave pun juga bangkit dari ranjang nya. Ia ingin mandi bareng istrinya.
"Sayang, buka pintunya, aku mau mandi bareng!" seru Dave dari luar pintu kamar mandi yang dikunci. Mungkin Tere sengaja mengunci pintu kamar mandi supaya Dave tidak bisa masuk. Mungkin takut digempur lagi?
"Nanti saja, Dave. Aku mau mandi sendiri. Aku buru-buru mau ke kantor," jawab Tere dari dalam. Dave pun menghela nafas. Perkataan Tere ada benarnya. Ia juga harus berangkat kerja hari ini. Banyak yang harus ia kerjakan.
Setelah itu berangkat ke kantor masing-masing. Tapi terlebih dahulu, Dave mengantar Tere ke kantornya. Sesampainya ia di kantor, Tere langsung berpamitan pada Dave. "Aku kerja dulu, Dave." Dave pun mengangguk dan mengecup kening istrinya.
Kemudian, setelah Tere sudah masuk ke kantornya, Dave segera melajukan mobilnya menuju kantornya sendiri.
*****
"Gimana, Ron? Ada masalah kah di kantor selama saya tidak masuk?" tanya Dave sambil mengecek berkas yang diberikan oleh Aaron.
Aaron pun menggeleng. "Tidak ada, Tuan. Semua berjalan seperti biasa. Malahan perusahaan kita semakin baik perkembangan nya. Berkat kerjasama dengan perusahaan milik istri Bapak," ucap Aaron. Dave mengangguk.
Dave bisa bernafas lega karena perusahaan makin hari makin membaik dan berkembang maju. Semoga ini adalah titik bangkitnya Dave. Setelah sekian lama terpuruk, ia harus kembali bangkit untuk Tere dan keluarganya.
__ADS_1
Sementara itu, di kantor milik Xiao Bao.
"Re, ini ada berkas yang harus kamu tandatangani," ucap Mei sambil menyerahkan berkas itu. Tere mengangguk. Ia harus membacanya dulu.
"Ada yang ingin kamu sampaikan lagi, Mei?" tanya Tere karena Mei masih berada di hadapannya. Mei seperti ragu mau berbicara.
"Katakan saja," ungkap Tere sambil memandang sekretaris cantiknya. "Emm nanti saja deh, Re. Ini diluar masalah kantor kok. Aku mau ajak kamu nanti makan siang bareng, bisa kah?" tanya Mei. Tere mengangguk. "Boleh, ayo aja. Nanti hubungi aku ya, Mei."
"Iya Re, ya sudah kalau begitu aku permisi dulu." Mei meninggalkan ruang Tere. Dan ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
******
Jam istirahat telah tiba, artinya jam makan siang pun juga sudah tiba. Mei menghampiri Tere di ruangannya dan mengajaknya makan di cafe.
"Sebenarnya mau cerita apa?" tanya Tere penasaran. Mei seperti ragu akan bercerita. Terlihat dari raut wajahnya yang begitu malu. Tere pun mengulangi pertanyaannya lagi. "Sebenarnya mau cerita apa, Mei? Kok diam saja?" tanya Tere sekali lagi sembari memegang tangan Mei. Ia ingin meyakinkan sahabatnya itu untuk bercerita.
"Se-sebenarnya a-aku... " Mei menggantung perkataannya. Tere mendengkus. Ia tidak biasanya melihat Mei semalu itu. "Kenapa sih? Jangan bikin tambah penasaran dong," ucap Tere.
"Sebenarnya aku rutin chat dengan Athur itu..." ucap Mei lirih. Tere membulatkan matanya. "Terus terus?" pancing Tere.
"Kami sudah akrab sih, tapi... " lagi-lagi Mei menggantung ucapannya. Ia seperti ragu mau cerita. "Apa sih Mei? Tidak apa-apa kok cerita," ucap Tere serius.
Mei menghela nafas. "Entah dapat keberanian darimana aku malah menembak Athur," ucap Mei lirih.
"Kamu ngungkapin perasaan kamu? Terus dia jawab apa?" tanya Tere sangat penasaran
...Kira-kira Athur jawab apa ya? Kasih komennya dong, readers...
__ADS_1