
...Siapkan mental kalian untuk membaca part ini! Happy Reading guys...
Untuk menangkal para ulat bulu yang masuk pada rumah tangga Tere dan Dave. Inisiatif Tere yaitu memenuhi semua kebutuhan baik lahir dan batin Dave tidak terkecuali urusan ranjang hahaha.
Matahari sudah menyingsing dan Dave sudah berangkat ke kantor. Ia buru buru karena ada klien yang meminta bertemu sepagi itu. Dan klien itu adalah Tuan Rei.
Ya! Tuan Rei pernah bekerja sama dengan perusahaan Dave. Mereka mengadakan pertemuan lagi saat ini. Sebagai CEO, tidak mungkin Dave datang terlambat saat bertemu dengan Tuan Rei.
Apalagi Tuan Rei berasal dari Jepang. Jepang terkenal dengan waktu yang disiplin.
"Yang, aku tidak sempat sarapan. Jadi aku mau kamu ke kantorku ya. Ya sekalian main gitu daripada suntuk di rumah." Dave sudah bersiap pergi ke kantor, tas yang masih di bawa Tere pun kemudian diambil Dave.
"Hati hati ya mas, jangan ngebut. Iya nanti aku bakalan ke sana setelah pekerjaan rumah beres. Tenang saja."
Tere mencium punggung tangan Dave dan Dave pun mengecup kening serta bibir Tere.
Wajah Tere pun bersembarut merah. Ia selalu salah tingkah.
"Aku berangkat dulu ya, assalamu'alaikum." Dave mengacak rambut Tere.
"Waalaikumsalam mas. Hati hati ya."
*****
"Pagi pak Dave." Satpam itu pun menundukkan badannya tanda hormat pada Dave. Dave membalas dengan senyuman. Momen langka!
Sepanjang ia menjadi CEO, ia tidak pernah berbalas senyum sedikitpun dengan siapapun. Entah semenjak adanya Tere dan ia mencintai istrinya itu, sikap Dave berubah total. Karyawan kantor pun memuji akan keramahan bosnya saat ini.
"Pagi pak Dave, sekitar 10 menit lagi Tuan Rei akan datang kesini. Semua sudah saya siapkan. Mari kita menunggunya di ruang meeting." Baron memasuki ruang Dave untuk memberitahu bosnya.
"Oke, kamu duluan ke sana, Ron." Dave masih sibuk mempersiapkan dirinya. Dirasa sudah rapi dan semua tertata, baru Dave menuju ke ruang meeting.
****
"Saya harap proyek kita terus mengalami perkembangan yang pesat Tuan Dave. Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda." Tuan Rei menjabat tangan Dave sambil tersenyum. Dan tentu ia bicara menggunakan bahasa Jepangnya.
__ADS_1
Dave yang notabene CEO sudah lancar jaya jika berbicara bahasa asing.
Pertemuan dengan Tuan Rei sudah selesai dan Dave pun melanjutkan pekerjaannya. Hari ini adalah hari tersibuk Dave. Jadwal meeting juga padat.
Bahkan saking sibuknya jika ada yang masuk ke ruangannya, ia tidak menoleh sama sekali. Ia fokuskan untuk mengecek berkas yang harus ditandatangani.
Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi dan dari luar pintu ada yang mengetuk lagi. Dave masih fokus tidak terpikirkan apa apa.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Dave tetap tidak mengalihkan atensinya pada berkas yang dicek. Belum melihat orangnya tapi Dave sudah paham betul aroma parfum ini. Aroma parfum yang sangat tidak asing di indra penciumannya.
"Halo Sayangku, Dave." Ya! Ternyata yang memasuki ruang kantornya adalah Clara.
"Cla." Dave pun menarik atensinya ke arah Clara yang masih berdiri tersenyum kepadanya.
"Dave, aku kangen." Clara mengubah posisinya yang semula berdiri kemudian berjalan ke arah Dave.
"Kenapa kamu kesini Cla? Kenapa! Sengaja menimbulkan permasalahan?" Dave menjauhkan dirinya dari hadapan Clara.
"Maafkan aku Dave, apa kamu tidak mau memaafkan kekasihmu ini. Kekasihmu ini ingin bersamamu." Clara mengucapkan itu dengan nada mendayu, sangat menjijikkan.
"Bukankah kamu yang meninggalkan aku Cla, jadi aku mohon keluar!" Dave agak meninggikan suaranya. Ia sangat sakit hati karena Clara memilih selingkuh dengan rivalnya walaupun dengan alasan tertentu.
"Hei, kenapa kau mengusirku Dave? Katanya kau masih mencintaiku. Aku juga Dave. Ayo kita perjuangan cinta kita. Dan aku mohon kepadamu, tolong ceraikan wanita kampungan itu."
Telinga Dave saat ini panas karena mendengarkan Clara mengolok istrinya. "Cukup Cla, cukup! Aku tidak mau berdebat apapun denganmu. Ya! Aku mengaku aku masih mencintaimu Cla, masih! Tapi aku tidak bisa menceraikan Tere, istriku. Aku juga mencintainya."
Dave kali ini tidak bisa bersikap tegas terhadap Clara. Membuat Clara makin berani kepadanya.
Clara menangkup wajah Dave dengan kedua tangannya. "Lihat aku Dave, aku masih mencintaimu juga. Kita sama sama saling cinta Dave. Jika kamu tidak mau menceraikan istrimu, aku siap menjadi istrimu yang kedua."
__ADS_1
Clara terus bernegosiasi dengan Dave. Tapi buru buru Dave menggelengkan kepalanya. "Tidak Cla, aku tidak mungkin menikahimu. Cukup Tere yang menjadi istriku. Aku tahu kamu adalah orang penting di hidupku, tapi itu dulu Cla. Jadi sadarlah!"
Clara yang gusar karena tidak mendapat jawaban yang diinginkan, ia langsung menempelkan alat bicaranya dengan alat bicara Dave. Mereka sekarang sedang berciuman.
Clara memangut dengan mesranya. Dan apa reaksi Dave. Ia tidak bisa menolak, ia juga membalas ciuman itu. Sungguh di luar dugaan.
Bersamaan dengan itu Tere masuk ke ruang Dave. Ia yang awalnya bahagia menjadi sedih, bahkan sangat sedih. Pemandangan yang dulu ia saksikan saja sudah sangat menyakitkan. Ditambah lagi pemandangan satu ini.
"Mas Dave!" Tere menatap Dave dengan tatapan penuh arti. Seketika buliran bening dari pelupuk matanya sudah mengalir deras di pipinya.
Dave langsung terlonjak, begitu juga Clara. Mereka melepas pangutan itu. "Sayang, aku bisa jelasin." Dave buru buru berlari ke arah Tere.
Saat ini tubuh Tere membeku bahkan kakinya tidak mampu untuk melangkah. Kejadian tadi sudah merusak kepercayaan yang ia bangun pada Dave.
"Tega kamu mas! Lepasin aku!" Dave memeluk erat Tere, tapi Tere berusaha melepaskannya. Clara menyaksikan momen itu pun hanya tersenyum smirk.
"Permainan baru saja dimulai."
Clara membatin dan ia menuju ke arah mereka berdua. Ia melerai Dave yang masih pelukan dengan Tere.
"Sudahlah Dave, lepaskan dia. Dia tidak mau dipeluk, biar aku peluk kamu saja." Clara menarik tangan Dave dari pelukan Tere tapi nyatanya tidak bisa.
"Lepaskan aku mas!" Sekuat tenaga Tere mendorong Dave dan akhirnya terlepas. Ia tidak langsung pergi. Ia menatap tajam Clara. Bahkan dengan berani Tere memajukan badannya.
"Dan kamu wanita ulat bulu! Eh bahkan julukan binatang pun tidak cocok denganmu! Kamu terlalu busuk untuk menjadi manusia. Mas Dave adalah suamiku, dan kamu jangan krang di masa lalu, jangan pernah kamu sentuh dia lagi."
Tere menunjuk Clara dengan hari telunjuknya yang sangat dekat dengan wajah Clara. Clara hanya tersenyum penuh arti.
"Aku berhak merebut apa yang harusnya menjadi milikku. Dan kamu hanya seorang pendatang! Jadi minggir kamu wanita ******!"
Kata kata Clara sukses membuat menamparkan tangannya ke pipi Clara dengan keras. "Kamu yang ******!"
"Cukup, hentikan Re!". Tanpa sadar Dave membela Clara
Tere dibuat terkejut. "Mas, kamu membela dia?"
__ADS_1
...Jangan lupa baca karyaku yang lain berjudul 'Pengasuh Tuan Muda Lumpuh'...
...Jika kalian suka cerita ini, tolong vote juga ya. Terimakasih, big hug...