
BRAK
Mobil itu terhantam oleh truk dari samping tempat Tere duduk. Dan saat itu Tere sudah tidak bisa membuka matanya. Semua gelap...
Kecelakaan itu begitu parah sampai semua orang langsung datang mengerubunginya. Mereka dengan sigap memanggil ambulance.
****
"Sayangku Tere, Xiao Bao, bertahanlah kalian! Ayo lebih cepat Dok!" Li Xie Cu yang mengetahui hal itu langsung segera menuju rumah sakit itu dan ikut mengantar mereka sampai ruang penanganan.
"Sebaiknya Nyonya menunggu di luar saja. Tenang saja kami akan berusaha semaksimal mungkin." Dokter itu menahan Li Xie Cu yang hendak ikut ke dalam ruang penanganan.
Suasana hati Li Xie Cu sangatlah kalut, ia benar benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Kedua orang yang ia sangat terbaring lemah di rumah sakit dengan penanganan dokter. Ia duduk di koridor sambil memegangi keningnya.
"Kenapa Xiao Bao? Baru saja kita akan bersantai di rumah, menghabiskan waktu berdua. Tapi kamu mengingkarinya?! Buktinya kamu berada di sini sekarang."
Li Xie Cu menangis terisak. Ia tidak lagi mampu membendung buliran bening dari pelupuk matanya.
*****
Setelah 1 jam berlalu, dokter pun keluar dari ruang itu. Li Xie Cu segera bangkit. "Bagaimana keadaan suami dan cucu saya Dok?"
Dokter itu tampak menghela nafas dahulu sebelum mengutarakan keadaan mereka.
"Untuk Tuan Xiao Bao jangan khawatir, dia hanya luka ringan saja. Mungkin dua hari ke depan bisa pulang. Tapi kalau untuk cucu Nyonya..."
Dokter itu menggantung ucapannya. Li Xie Cu makin penasaran. Ia makin mencecar dokter itu dengan tuntutan penuh penjelasan.
"Kenapa? Ada apa dengan cucuku! Jawab!"
"Cucu ibuk mengalami keguguran. Dan kami sudah melakukan penanganan untuk mengangkat janin yang ada di dalam rahimnya."
DEG
"Keguguran? Janin? Apa dia hamil?" Li Xie Cu begitu kebingungan karena dokter itu mengarah ke hal yang tersebut.
"Benar Nyonya, cucu anda sedang mengandung. Dan akibat insiden kecelakaan itu, nyawa di janinnya tidak dapat diselamatkan."
Li Xie Cu yang mendengar hal itu langsung menutup matanya. Segitu besar rasa terlukanya Tere saat ini. Baru saja ingin bangkit sudah mendapatkan musibah lagi.
__ADS_1
"Apakah saya boleh menjenguk keduanya?!"
Dokter itu mengangguk. "Tentu, mereka dapat dikunjungi Nyonya. Sebisa mungkin untuk cucu anda coba lebih tenangkan waktu nanti bangun karena mungkin ia akan sedikit trauma atas kejadian ini."
"Baik Dok"
****
"Xiao Bao, aku sedih karena kamu harus mengalami ini. Tapi di sisi lain, aku senang karena kamu tidak mengalami luka serius. Cepat sembuh suamiku."
Li Xie Cu langsung mencium punggung tangan suaminya. Setelah hampir 15 menit, ia langsung menuju pada Tere.
Ia menatap Tere dengan wajah sendu. "Sayang, kenapa kamu merahasiakan kehamilanmu ini padaku? Aku tahu kamu mengalami rasa sakit hatinya begitu dalam pada suamimu. Tapi mulai sekarang, mulai lah terbuka dengan Oma dan Opa mu. Sekarang kami adalah keluargamu. Bukankah keluarga adalah tempat berkeluh kesah juga?"
Li Xie Cu pun meneteskan air matanya. Melihat kondisi Tere yang lebih parah dari Xiao Bao membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga cucunya itu.
****
Di Indonesia
Dave sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Tere yang hilang. Ia juga meminta bantuan dari Ares, sahabatnya.
"Sial lu! Gue malu banget punya sahabat kaya lu! Bisa bisanya lu malah main dengan Clara?! Lu sudha dikasih kesempatan berulang kali pada Tere tapi nyatanya?! Lu sia-siakan semua itu. Maaf bukan gue mau menghakiminya, tapi kali ini lu keterlaluan, Dave."
Dave pun tidak melawan. Jelas ia pasrah menerima bogeman itu dari Ares. Ia juga merasa bersalah. Kenapa ketegasannya sudah datang terlambat.
"Res, gue sudah berusaha untuk menghindari dan memberi penegasan pada Clara, tapi dia sudah bertindak sejauh ini. Gue menyesal Res."
Dave menyugar rambutnya dengan kasar. Ares hanya tersenyum miring. "Bertindak tegas? Gue tidak salah dengar? Lu bilang tegas?! Darimananya? Hah?! Jelas jelas lu memberi celah bagi Clara untuk masuk ke kehidupan rumah tangga lu. Dan ketegasan lu itu sudah terlambat! Basi."
Benar, benar kata Ares. Memang ketegasan Dave sudah terlambat. Dan jika Dave berandai andai mungkin itu hanya sia sia karena Tere sudah meninggalkannya.
"Tolong bantu gue Res! Gue janji, gue bakal lebih baik dari sebelumnya."
Dave memohon dengan Ares, tidak mungkin juga ia meminta bantuan dari orang tuanya. Yang ada mama Anita pasti akan sedih dan jantungnya kumat.
"Oke, gue bakalan bantu lu. Tapi ingat! Jika lu sakiti Tere satu kali lagi. Maka lu akan tahu akibatnya."
Ares berbicara penuh penekanan. Ia tidak segan segan akan memberi Dave konsekuensi yang besar jika ia menyakiti Tere lagi.
****
__ADS_1
Setelah beberapa jam akhirnya Tere dan Xiao Bao siuman . Tapi tidak berbarengan siuman itu. Lebih dulu Xiao Bao.
"Tere cucu kita. Maafkan aku karena tidak bisa menjaganya." Xiao Bao menyeka air matanya. Jelas ia merasa bersalah atas kejadian ini.
"Tenangkan dirimu Xiao Bao. Semua akan baik baik saja. Hanya saja..."
"Hanya saja apa?!" Xiao Bao menuntut penjelasan dari istrinya.
"Dia keguguran." Mata Xiao Bao membelalak karena penjelasan istrinya.
"Keguguran?! Jadi ia hamil? dan lelaki br*ngs*k itu tidak tahu bahwa istrinya hamil? Kurang ajar! Aku akan buat perhitungan!"
Kilat kemarahannya makin tersulut saat cucunya disakiti.
Selang 10 menit, Tere pun tersadar. Ia mengerjabkan ngerjabkan matanya. Ia meraba perutnya. Ia menangis histeris.
"Ba-bagimana dengan anakku! Selamatkan dia? Apa dia sudah selamat?"
Tere terus menangis histeris. Ya! Dia tahu kalau dirinya sedang mengandung. Dan alasan dia tidak memberi tahu Dave tentang kehamilannya karena menunggu momen Dave akan berulang tahun seminggu lagi.
Tapi Tuhan berkehendak lain, Dave sudah mengkhianati dirinya. Dan ternyata anak yang di kandung pun juga sudah tiada.
"Tenangkan dirimu, Sayang." Li Xie Cu memeluk cucunya itu. Dan Xiao Bao hanya melihatnya miris.
"Apakah kandunganku baik baik saja?"
Karena tidak mendapat jawaban dari Omanya, Tere terus menuntut penjelasan itu.
"Sayang, sebenarnya kamu keguguran."
Tere membulatkan matanya. "Tidak, tidak mungkin! Tidak!" Benar saja, Tere menangis histeris lagi.
"Aku kehilangan anakku. Dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa mas Dave akan mengalami nasib pahitnya juga. Jika ia tahu hal ini maka akan membuatnya bersalah seumur hidupnya."
"Iya sayang, Oma dan Opa mendukungmu."
"Aku akan buktikan padamu, Mas! Aku bisa hidup tanpamu! Camkan itu." Batin Tere dalam hatinya sambil tersenyum menyeringai.
...Gimana readers? Mau double update gak hari ini? Jika mau komen dong. Maaf ya, Thor masih kasih badai sedikit tadi. Thor janji cerita ini tidak bakal mengecewakan kok. Hehehe...
...Jangan lupa untuk vote, like, dan komentar sebanyak mungkin.. Thanks!...
__ADS_1