Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 39


__ADS_3

"Mas? Kamu membentakku? Kamu sadar tidak? Yang kamu bela itu mantanmu!" Tere menangis terisak di hadapan Dave!


"Sekarang mas pilih aku atau Clara?! Jawab mas!"


Bukannya menjawab tapi Dave hanya mematung. Hatinya bingung akan memilih siapa.


Melihat Dave yang masih terus diam, Tere mencengkram bahu Dave dan menggoyahkan nya. " Jawab mas!"


Bahkan buliran bening dari pelupuk mata Tere sudah mengalir deras ke pipinya saat ini. Karena terus dipaksa akhirnya Dave memandang Tere lamat lamat.


"Sayang, sudahlah jangan begitu." Ya! Seperti biasa dia tidak mengambil jalan tengah untuk membuat keputusan. Apa susahnya memilih Tere sebagai istri sahnya?!


"Pilih aku atau dia mas! Jawab!" Tere mengumpulkan nyalinya untuk membentak Dave. Ia sudah kehilangan kesabaran dan kontrol dirinya.


Tere yang terus mendesak membuat Dave membuat keputusan saat itu juga. "Sayang, jika aku suruh milih kamu atau Clara, jujur aku tidak bisa memilih. Aku sayang kamu dan aku juga masih ada perasaan dengan Clara."


Dave membuat keputusan yang sangat salah di mata Tere. Berani beraninya dia masih menyimpan rasa untuk Clara. Sekarang ini apa kurangnya Tere di matanya?


Tere menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengusap buliran bening dari pelupuk matanya. "Kenapa tidak bisa memilih mas? Apa susahnya!"


Tere sudah sangat gusar. Ia menatap Dave tajam. Saat ini Dave masih tidak menjawab pertanyaannya itu. "Jadi kamu masih ada rasa sama wanita ular itu? Kamu lebih wanita j*l*ng itu!"


Entah darimana emosi itu datang, Dave langsung menahan amarahnya saat Clara disebut sebagai wanita ular dan j*l*ng. "Cukup Re, jangan pernah menyebut Clara sebagai wanita ular. Dia berharga untukku! Kamu tidak mengerti akan hal itu!"


Cukup mengejutkan jawaban yang diterima Tere. Hatinya berdenyut nyeri. Rasanya ia ingin menghilang saja dari bumi ini. Istri mana yang rela jika suaminya malah memilih wanita lain?


Tere tersenyum miris. "Apa spesialnya wanita j*l*ng itu?! Hah! Dia hanya akan menjadi benalu di rumah tangga kita!" Tere ikut menaikkan intonasinya


"Cukup! Harusnya kamu sadar diri Re! Dulu aku menikah denganmu hanya karena perjodohan. Dan aku tidak berupaya untuk menghapus Clara dari hidupku! Jadi jangan memaksaku untuk memilih dirimu dan dia!"


Dave kehilangan akal sehatnya. Bagaimana mungkin seorang Dave Dharmendra ynag sudah diselingkuhi malah membela mantannya di banding istri sendiri. Dave hanya akan membuang berlian untuk memungut baru kali!


"Oke, fine! Aku ngerti sekarang! Aku mau kita cerai!" Tere yang hatinya sudah hancur memilih jalan tengah saja. Toh bercerai juga jalan terbaik karena perselingkuhan adalah hal paling fatal dalam menjalani rumah tangga.

__ADS_1


Adanya orang ketiga dalam rumah tangga akan membuat kedua pihak akan saling berseteru dan tersakiti. Tere mantap dengan keputusannya itu.


"Tidak! Aku tidak bisa menceraikanmu! Aku mencintaimu, asal kamu tahu!" Dave tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan!


"Kamu egois mas! Kamu egois, bagaimana bisa kamu bertahan dengan dua wanita sementara singgasana di hati cuma ada satu. Kamu tidak tegas dalam hal ini!"


Tere langsung meninggalkan Dave sendirian di kamarnya. Ia menuju ke kamarnya dulu. Rasanya begitu menyesakkan. Ingin rasanya ia pergi dari sini, tapi apa boleh buat. Kepergiannya akan menyisakan luka mendalam bagi mertua dan orang tuanya. Ia tidak ingin mama Anita kambuh penyakitnya.


Di kamar Dave


Dave menyugar kepalanya dengan kasar. Ia merasa bodoh kali ini. Ia ingin memilih Tere tapi hatinya juga memilih Clara. Tidak bisa bohong, Clara masih mendominasi di hatinya. Entah kebaikan apa yang dibuat Clara sampai Dave masih menaruh hati dengannya.


"Kenapa ini semua bisa terjadi!" Dave frustasi, ia melempar barang di kamarnya itu.


Hatinya kalut saat itu juga. Ia sadar bahwa kata kata yang ia ucapkan sangat menyakiti hati Tere sebagai istri sah.


****


Tere yang masih punya rasa empati tinggi pun mengecek keadaan Dave. Ia bahkan sudah meruntuhkan egonya, ia janji akan berdamai dengan Dave jika suaminya itu tidak berhubungan dengan Clara.


Tere memasuki pintu kamar Dave. Terlihat Dave meringkuk dan saat dibangunkan ia sudah pucat pasi. Tere pun terkejut, ia langsung merawat Dave saat itu juga. Rasa cintanya pada suami begitu besar bahkan egonya yang selama ini ia jaga pun runtuh seketika.


"Mas, kamu demam." Tere langsung mengompres kening Dave. Tidak lupa ia juga memanggil dokter, tapi bukan dokter Athur. Bisa bisa perang dunia ketiga.


Tere menghubungi dokter Adam untuk mengecek kondisi Dave saat ini. Tidak berselang lama dokter Adam pun datang.


****


"Gimana dok kondisi suami saya?" Rere terlihat cemas akan kondisi suami yang plin plan itu.


"Kondisi Tuan Dave masih lemah, harus banyak makan makanan yang bergizi dan diusahakan jangan mikir terlalu keras. Ini juga akibat karena stres."


Tere hanya manggut manggut. Setelah semua selesai, dokter Adam pun pamit undur diri. Tere pun mengucapkan terimakasihnya.

__ADS_1


Kemudian, Tere menyuapi Dave yang masih terbaring lemah. Dave sangat merasa bersalah. "Aku minta maaf, Sayang." Dave mengawali percakapan itu. Tere masih tidak bergeming.


"Aku minta maaf ke kamu, gara gara aku kamu jadi sembab begini." Dave mengamati jelas, mata Tere sembab karena menangis semalaman.


"Sudahlah mas, jangan diungkit. Kamu makan cepat, biar sembuh terus bisa sehat lagi." Dave pun tertegun dengan penuturan Tere yang begitu lembut.


Tere bahkan tidak mengungkit kejadian tadi malam. "Kamu yang ku pilih, Sayang." Dave berubah. Ia membuat keputusan ini, ia mantap dengan pilihannya.


Tere mendongak ke arah Dave, ia pun mengerjab ngerjabkan matanya. Apa benar yang diungkapkan Dave?!


"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan jika kamu masih mau untuk mengingkarinya. Aku akan tunggu beserta buktinya. Omongan saja menurutku tidak cukup."


Bravo! Tere bisa bersikap lebih dewasa saat ini. Memang benar, daripada berjanji banyak banyak, lebih baik jika kita berjanji sedikit tapi ditepati.


Dave mengangguk. Ia terus menyuapi Dave sampai suapan terakhir. Dave menatap Tere dengan penuh mendamba. Ia begitu beruntung memiliki Tere di hidupnya.


Bukan Clara yang pantas mendapatkan hatinya, tapi Tere. Ia lega melihat Tere tidak berapi api seperti tadi malam.


****


Di tengah obrolan yang terjalin antara Dave dan Tere, tiba-tiba ada suara bel yang berbunyi menandakan ada tamu. Saat ini rumahnya sudah ada asisten rumah tangga jadi mereka tidak kerepotan lagi. Ia mendatangkan bi Minah dari mansion mama Anita.


Tere bergegas keluar dari kamar memastikan siapa yang datang, barangkali orang tuanya atau mertuanya.


"Siapa bi?" Tere bertanya pada bi Minah. "Bibi belum buka Nyonya"


Tere yang membuka dan ternyata yang datang adalah..


Ya! Si nenek lampir Clara membawa bunga untuk Dave. Tere mematung, "Dave ada?" Dengan santai nya Clara bicara seperti itu di hadapan Tere.


...Jangan lupa follow ig : cemaraseribu_author...


...Dan jangan lupa baca karyaku yang lain berjudul : Pengasuh Tuan Muda Lumpuh...

__ADS_1


__ADS_2