
"Ja-jadi kamu sempat hamil? Beo Dave seakan tak percaya. Terlebih lagi Ares yang sudah mengetahui hal itu membuat Dave krisis kepercayaan pada Ares.
" Iya! Aku sempat hamil. Dan kamu menyia-nyiakan aku saat itu!" Tere menaikkan nada bicaranya sekarang. Ia sudah sangat frustasi harus berhadapan dengan Dave.
"Kapan Sayang? A-aku tidak tahu soal itu." Nada bicara Dave melemah. Ada segelintir rasa sesak di dadanya. Antara marah, kecewa, sedih menjadi satu. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa selalai dan sesuai itu pada kondisi Tere.
"Cih, harus banget aku bilang kapan? Bukannya kamu lebih sibuk dengan selingkuhanmu?! Apa artinya aku, Dave! Tidak ada sama sekali waktu itu! Aku mengandung tapi kelakuanmu lah yang membuat anakku ini tidak betah di rahimku!"
Tere menumpahkan segala uneg uneg yang ada dalam hatinya. Di sampingnya ada Li Xie Cu yang terus mengusap punggung cucunya. Ingin rasanya ikut campur, tapi ini urusan mereka berdua. Jadi sementara Li Xie Cu diam saja begitu juga Xiao Bao.
Dave dibuat lemas oleh pernyataan Tere barusan. Dirinya tidak menyangka bahwa istrinya tengah mengandung anaknya dan sekarang keguguran.
"A-aku minta maaf Sayang." Dave memegang tangan Tere tapi langsung ditepia begitu saja oleh Tere.
"Lepaskan aku, Dave. Bahkan tanganmu ini tidak pantas menyentuhku!" Dada Tere naik turun karena emosinya sedang meledak ledak.
Ares juga kaget dengan sikap Tere yang begitu jijiknya dengan Dave. Ares bisa melihat sorot mata Tere yang penuh dengan kebencian. Ya memang perselingkuhan tidak bisa ditoleransi untuk hubungan kedepannya. Terasa sangat sulit untuk yang tersakiti seperti Tere.
Melihat cucunya makin emosi tidak terkontrol akhirnya Xiao Bao mengusir Dave dan Ares dari mansionnya.
"Saya mohon kalian keluar dari sini. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi. Saya tidak akan rela jika Tere kamu sakiti, Dave! Asal kamu tahu, saya menyayangkan sikapmu yang rendahan itu. Kamu telah membuang berlian demi batu. Dan sekarang, nikmati saja penyesalanmu."
Xiao Bao memberikan pesan menohok pada Dave. Ia tidak mau cucunya terus terusan bersedih atas apa yang menimpanya. Di tambah lagi Tere juga kehilangan janin yang ada di rahimnya. Tentu itu bukan hal yang mudah untuk bangkit.
Dave dan Ares hanya diam, bahkan saat ini Dave tidak ada tenaga sama sekali untuk berbicara.
"Ayo Dave kita pulang. Kamu butuh istirahat." Ares berbisik pada Dave dan menuntut Dave yang tidak ada tenaga itu.
Tere bingung harus bersikap apa. Di sisi lain dia mencintai Dave, tapi di sisi lain kehilangan janin dan dikhianati sudah membuat hatinya luka.
"Sudah Sayang, jangan bersedih. Besok kita urus surat cerai yang kamu inginkan itu. Dan minta Dave segera menandatanganinya." Li Xie Cu memeluk Tere dengan erat. Seketika itu juga, air mata Tere tumpah begitu saja.
Ia mati matian menahan air matanya tadi supaya Dave tidak melihatnya. Dan sekarang Dave sudah pergi dan ia langsung menangis di pelukan Li Xie Cu.
__ADS_1
*****
Sesampainya di hotel, Dave menjadi pendiam. Bahkan waktu perjalanan pulang pun dia tidak bicara sama sekali. Penampilannya kusut saat ini.
"Dave sekarang kamu istirahat ya. Jangan pikirkan dulu masalah tadi." Niat Ares baik hanya mengingatkan saja. Tapi Dave langsung menatapnya tajam.
"Bagaimana aku bisa istirahat! Bahkan manusia seperti tidak pantas hidup di bumi ini. Aku sudah membunuh anakku sendiri. Dan istriku akan menceraikanku. Apa artinya istirahat! Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku Res! Kamu tidak tahu, dan ingat! Kamu sudah meruntuhkan kepercayaanku selama ini. Kamu menyembunyikan Tere dariku."
Dave yang semula diam langsung membentak Ares. Tidak lama kemudian Dave langsung menutup pintu kamarnya.
Brak
Terdengar nyaring sekali dan Ares tentu kaget. Dave tidak pernah semarah ini padanya. Ini baru pertama kalinya ia terkena marahan Dave.
Ares menjadi khawatir akan kondisi Dave yang putus asa itu. Ia juga kepikiran kata kata Dave yang tidak pantas hidup.
Tapi Ares mencoba berpikiran positif saja. Ia langsung melenggang ke kamarnya sendiri menemui Kirani.
****
Terlihat Ares juga bermuka kusut. Penampilan masih oke tapi wajahnya sudah di penuhi kecemasan.
"Jawab Mas!" Kirani yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari suaminya kembali menggoncangkan tubuh suaminya.
"Dave bertemu dengan Tere dan Tere ingin mengajukan gugatan cerai. Aku juga khawatir akan kondisi Dave saat ini, Sayang."
Ares yang lelah pun juga langsung memeluk sang istri untuk menetralkan pikirannya.
"Ya Allah mbak Tere memang benar benar mau cerai dengan Pak Dave. Tugas kamu mengecek kondisi pak Dave, Mas."
Kirani mengurai pelukan itu dan menangkup pipi Ares. "Mas, jangan sampai kita seperti mereka. Aku sangat mencintaimu. Terlebih kita juga punya buah hati."
Ares menggeleng, "Pasti tidak Sayang. Aku juga sangat mencintaimu. Jangan pernah meragukanku soal ketulusan hatiku."
__ADS_1
******
Di kamar hotel
Dave tidak langsung ganti baju. Ia masih asyik melamun. Ia terus merutuki dirinya sendiri yang tidak becus dalam memimpin rumah tangga.
"Gue sama sekali tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Dulu gue menginginkan perceraian itu waktu belum mencintai Tere. Tapi saat ini? Rasanya gue gak bisa hidup tanpa Tere."
Dave menitikkan air matanya. Kebodohannya dan kecerobohan itu berasal darinya dulu. Bahkan Tere sudah mewanti wanti tapi Dave abai.
Dave keluar dari hotelnya dan menuju ke toko. Entah apa yang akan dia beli. Ia juga menyempatkan diri untuk jalan jalan sebentar menetralisir perasaannya
Setelah setengah jam ia kembali ke kamar hotel lagi. Ia tidak langsung tidur saat itu. Bajunya pun juga masih baju tadi pagi. Dunianya sudah gelap mata. Hidupnya hancur seketika itu juga.
"Gue membunuh anak gue sendiri? Membiarkan mereka berjuang sendiri. Sementara itu gue malah asyik dengan Clara? Gue jahat banget." Dave bermonolog sendiri.
*****
Ares dan Kirani pun tidak bisa tidur. "Mas, kamu kok tidurnya tidak nyenyak begitu? Kenapa?" Kirani memperhatikan sejak tadi, suaminya itu seperti gelisah.
Ares menoleh ke arah Kirani. "Aku kepikiran Dave, Sayang. Apa aku coba cek saja?" Pikiran Ares malah ingin mengetahui kondisi Dave yang memprihatinkan itu.
Kirani mengangguk, "Kalau itu membuatmu tenang, tidak apa apa kamu bisa mengeceknya Mas. Tapi aku ikut ya. Aku bosan di kamar terus."
Ares mengangguk. Mereka bangkit dari ranjang itu dan berpakaian casual. Mereka langsung menuju ke kamar Dave.
Ares bell pintu Dave tapi tidak ada sahutan apa apa. "Mas, mungkin Pak Dave lagi tidur." Kirani berasumsi itu.
"Tidak, tidak mungkin. Mana bisa ia bisa tidur nyenyak saat ini. Atau kita minta ke resepsionis ya?"
"Oke"
Setelah Ares menjelaskan semua ke pihak resepsionis akhirnya kata Dave di buka dan ternyata Dave sudah tergeletak dengan mulut berbusa.
__ADS_1
"Dave!" Pekik Ares. Ia langsung berlari. "SI*L! Kenapa lu minum obat seperti ini?!"