
"Apa ini berkaitan dengan selingkuhan Clara?"
"Clara? Siapa dia?" Li Xie Cu mengernyit.
"Clara itu masa lalunya Dave. Dia yang merusak rumah tangga kami, Oma."
Li Xie Cu manggut-manggut saja, tapi ia tidak akan tinggal diam. Begitu tahu riwayatnya seperti itu ia akan mencari tahu identitas dari Clara.
"Kamu tenang Sayang, semua identitas dan aktivitas Clara bisa Oma pantau nantinya. Oma mau tanya ke kamu, sebenarnya kamu ingin bercerai atau tidak dari suamimu?"
Li Xie Cu harus bertanya soal itu karena Tere sudah berkata lama tentang cerai tapi tidak segera mengurus. Apa yang menghambat semua itu?
Tere mengangguk tegas. "Iya Oma, aku ingin bercerai. Tapi aku masih menunggu waktu yang tepat saja." Tere memandang Li Xie Cu lamat lamat.
"Apa yang membuatmu menunda semua itu?" Li Xie Cu benar benar dibuat heran kenapa Tere menundanya. Bukankah lebih cepat lebih baik?
"Tere punya mama mertua yang ada riwayat sakit jantung, Oma. Dan saat ini mama mertua Tere itu masih dirawat di rumah sakit. Tere tidak tega harus melayangkan gugatan itu. Takutnya berimbas pada mama mertua Tere."
Jelas saja! Waktu video call dengan mama Anita, Tere sangat merasa bersalah. Menurutnya, ia yang menyebabkan mama Anita masuk ke rumah sakit. Ditambah lagi mama Anita sudah ia anggap sebagai mama sendiri.
"Oke! Tapi jangan lama lama. Jangan mengandalkan kelemahanmu, Sayang. Oma tahu, ini memang berat, tapi keputusan tetap keputusan. Jadi kamu harus tegas, jangan mau ditindas."
Li Xie Cu memberikan penegasan ulang terhadap apa yang dilakukan Dave pada Tere. Jangan menggunakan mama Anita sebagai kelemahan.
"Baik Oma. Terimakasih Oma selalu mendukungku dan membahagiakanku." Tere dan Li Xie Cu berpeluk cukup erat.
*****
Dua minggu kemudian..
"Lo yakin mau ke Beijing sendiri? Buat apa lu ke Beijing?" Ares yang bersama Dave pun sebenarnya juga was was kenapa sahabatnya itu ngotot ke Beijing.
"Gue mau cari Tere di sana." Dave masih santai sambil menikmati splash squash miliknya.
DEG
"Dari mana Dave tahu kalau Tere ada di Beijing. Padahal selama ini aku selalu menutupinya." Ares tentu saja membatin dalam hatinya. Ia juga keheranan karena Dave tahu soal ini.
Wajah Ares menunjukkan keheranan membuat Dave juga mengernyitkan dahinya. "Ada apa?"
__ADS_1
Ares langsung mengeleng, "Tidak apa apa. Darimana kamu tahu bahwa istrimu ada di sana?"
Ares harus menanyakan ini. Mustahil jika Dave hanya menebak dan tebakannya benar.
"Gue diam diam ngelacak riwayat panggilan dari nyokap gue. Dan ternyata istriku tercinta ada di Beijing. Gue akan kesana besok. Lo harus ikut!"
Dave bakalan mengajak Ares ke sana. Tapi Ares sebenarnya ingin menolak. Alasan pertama karena memang istrinya tidak mau ditinggal jauh. Dan alasan keduanya ia takut Tere salah paham dikira ia sudah membocorkan keberadaannya.
"Gue kayanya tidak bisa Dave, bini gu...."
Belum selesai bicara, Dave langsung menyelanya. Ia menatap tajam Ares.
"Ajak saja bini lu. Gue tidak keberatan kok. Lu kan sebelumnya juga ke Beijing, dia pasti tidak keberatan juga."
Dave sepertinya sudah menetapkan keputusan bulatnya. Ares bisa apa? Yang terpenting Ares hanya menemani tidak ikut campur.
"Oke! Gue mau, tapi gue tidak ikut campur ya. Gue takutnya jika gue ikut campur lebih dalam urusan rumah tangga lu, yang ada bini lu makin ilfil sama lu."
Ares memberikan semacam ultimatum untuk Dave. Sebenarnya menyusul Tere ke Beijing hanya akan menjadikan boomerang untuk hubungan mereka. Tapi mau bagaimana lagi?
"Lu tahu darimana Tere bakal ilfil." Dabe tidak suka karena Ares menyebut Tere sudah ilfil dengannya.
"Hei, jelas lah Bro. Kalau tidak ilfil mana mungkin dia pergi. Kepergiannya ya karena lu b*ngs*t jadi dia tidak betah."
"Anj*ng lu! Beraninya nyentil kening gue! Sakit tahu." Dave memegangi keningnya itu.
Ares hanya terkekeh. " Lah, gitu saja lu lemah Dave. Terus nanti mau ngadapi Tere gimana kalau lu gini saja lemah? Hahaha."
Ares meledek sahabatnya itu. Tapi sebenarnya hatinya juga miris melihat rumah tangga sahabatnya hancur seperti ini.
"Sudahlah Res, gue malas omong sama lu saja. Nanti gue bakal pesan tiketnya. Lu siap siap saja sama bini lu."
Dave menepuk bahu Ares sambil tersenyum. Ia seakan menemukan titik terang karena Tere sudah dapat diketahui keberadaannya.
"Oke! Gue tunggu. Kira kira berapa hari sih?"
Ares juga harus memastikan karena ia juga punya perusahaan.
"Ya mungkin semingguan. Lu khawatir perusahaan lu? Serahin dulu ke sekretaris lu lah." Dave kayanya juga di handle oleh Baron untuk kali ini.
__ADS_1
"Oke!"
*****
Keberangkatannya Dave ke Beijing belum diketahui oleh Mama Anita maupun Papa Surya ataupun mertuanya. Dave rahasiakan ini karena keberadaan Tere belum jelas. Memang di Beijing tapi ia tidak tahu persisnya dimana.
"Kali ini aku akan berangkat tanpa pamit pada Mama Papa. Ma, Pa maafin Dave. Dave harus lakuin ini."
Dave sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk maidnya juga diminta tutup mulut manakala Mama Anita berkunjung kesini.
"Bi, titip rumah ini ya. Saya mau cari istri saya dulu. Doakan saya Bi, semoga Tere bisa ditemukan."
"Baik Tuan, semoga Nyonya Tere segera pulang ke rumah ini juga."
Dave langsung ke bandara, ia akan bertemu dengan Ares disana. Dan setelah menempuh perjalanan akhirnya Dave sampai dan bertemu dengan Ares.
"Hei Res! Sudah lama nunggu?" Dave seperti agak telat datangnya. Terbukti Ares menekuk wajahnya. Kirani hanya mengulas senyum tipisnya.
"Pakai nanya lu. Untung bini gue sabar, dasar molor lu." Ares malah mendumel pada Dave membuat Kirani terkekeh pelan.
"Jangan gitu Mas, kasihan tuh Pak Dave. Baru datang kamu marahi." Kirani mengelus lengan Ares.
"Iya iya Sayangku." Ares malah sengaja manas manasi Dave dengan mencium pipi Kirani. Yang dicium menjadi merah merona pipinya.
"Tuh kan, habis marahi malah pamer kemesraan. Duh nasib gue gini banget!"
Dave mendengkus kesal sementara Ares tertawa terbahak bahak.
"Sukurin. Emang enak? Mangkanya bini dijaga jangan dianggurin. Kalau bisa juga dihamili, buktinya kaya gue nih. Sukses banget, tokcer!"
Memang Ares mulutnya minta dicabein hahaha.
Kirani malah memukul lengan Ares. "Mas, jangan gitu. Ngawur banget sih!"
"Tahu tuh, mbak Kirani suamimu dulu itu mantannya juga banyak loh. Mana can..."
Ares langsung membekap mulut Dave. "Berisik lu! Rese banget!"
Dave terkekeh pelan. Akhirnya mereka check-in dan masuk ke maskapai penerbangan.
__ADS_1
Dave sudah masuk ke pesawat. "Sayang, aku datang menjemputmu."
...Gimana tanggapanmu readers?! Kira kira bakal ketemu gak ya?Boleh dong komen...